Gagasan Radikalisme Lebih Licin Dibanding Situs Pornografi

Stop-Kekerasan-Atas-Nama-AgamaPublik masih sering terhenyak saat sebuah tindakan radikalisme tertuang dalam bentuk kekerasan di Indonesia, ingatan tentu akan terlempar pada rentetan aksi terorisme yang dilakukan sementara kelompok muslim garis keras. Masih lekat dalam ingatan seperti Kasus Bom Bali I (2002), JW Marriot (2003), Kedubes Australia (2004), Bom Bali 2 (2005), dan Bom Cirebon (2011), penyerangan di Sampang, hingga kini tidak kunjung selesai, bahkan para pengungsi syiah sampang pun tidak jelas, kapan mereka akan pulang ke rumah-rumah??.
Tindakan terorisme demikian mudah dikonstruksikan sebagai ruang dunia Islam walau sesungguhnya tindakan radikalisme adalah kuasa universal. Ia bukan originalitas milik segelintir kelompok tertentu apalagi disimplifikasikan sebagai stereo-tipe kelompok agama.
Radikalisme dapat diadopsi kelompok apapun dimanapun terutama lebih rentan oleh kelompok marginal, termarginal, atau yang tengah menjalin solidaritas dengan gagasan marjinal. Penyerangan aparatur keamanan negara, kerusuhan antar kampong, pertikaian antar pelajar, perselisihan antar instansi keamanan negara, kriminalitas berantai berpola, penbid'ahan tahlil, maulid, ziarah kubur sampai penyesatan kelompok-kelompok tertentu.
Gejala ini menunjukkan betapa radikalisme bukan hanya komoditas secuil kelompok keberagaman berpandangan minimalis. Diskusi tentang kelompok termarginal penting memperhatikan bagaimana para ahli sosial-ekonomi membelah-belah konsep kemiskinan. Kemiskinan bukan sebatas diisi oleh kelompok tuna kapital (asli miskin) melainkan pula kasus kemiskinan struktural (yang dimiskinkan oleh ketimpangan sistem sosial).

 

Radikalisme pula dapat dipetakan berkaca pada mode kemiskinan. Pertama, kelompok marginal hakiki dan kedua, kelompok merasa termarginalkan. Kelompok marginal tentu bukan serta merta menghasilkan letupan radikalisme melainkan menyimpan potensi destruktif bila terlalu massif tanpa jalan ke luar. Kelompok merasa termarginalkan bukan golongan benar termarginalkan melainkan sekedar tersolidarisasi (untuk tidak bilang terprovokasi) oleh keterpurukan nasib kelompok lain.
Intensitas komunikasi membuat dua kelompok ini bisa saling menguatkan nuansa-nuansa radikalisme hingga mampu meletup dalam aksi. Proses komunikasi verbal maupun tekstual ditenggarai menyuburkan persebaran ide marginalitas dimasyarakat. Transformasi gagasan agitatif-profokatif bergerak licin seiring era kebebasan beraspirasi pasca revormasi. Materi komunikasi bawah tanah bukan lagi dipandang tabu menjadi konsumsi terbuka bagi publik. Akhirnya arus transformasi gagasan radikal tak lagi terbendung. Riset tentang media dan literatur bernuansa radikalisme sangat bermaanfaat untuk memetakan jangkauan persebaran. Namun output pasca riset ini bisa jadi sebuah pekerjaan yang terlalu gemuk.
Gagasan mengenai pembatasan media transformasi boleh jadi salah satu usaha deradikalisasi yang bisa dipilih. Namun pertanyaan yang pantas dipikirkan adalah sejauh mana efektifitas pembatasan media, bila tidak diikuti tindakan tegas pemerintah.
Gagasan radikalisme di dunia maya jauh lebih licin dibanding jejaring situs pornografi. Bukan bermaksud mengatakan bahwa pembatasan ruang gerak dan media radikalisasi tidak diperlukan. Kebijakan pembatasan media harus diiringi dengan menjumpakan radikalisasi dengan serum penawar atau musuh alaminya sendiri. Gagasan radikalisasi berkembang seiring merosotnya kewibawaan negara.
Radikalisasi berjalan seiring degradasi nasionalisme yang mengeliat karena pemahaman agama yang dangkal, propaganda, kekecewaan dan merosotnya kepercayaan masyarakat terhadap akuntabilitas pemangku negeri, tidak terjangkaunya kebutuhan primer masyarakat, serta kegaduhan sistem sosial baik vertikal mapun horizontal dalam negeri. Sistem hukum yang digadai aparatur korup, kemandirian ekonomi yang dikebiri stakeholder bermental makelar, kegagalan transformasi tata-nilai bermasyarakat, moralitas, dan demokrasi oleh instrumen pendidikan juga lembaga agama, serta pembusukan demokrasi oleh pialang politik menyisakan ruang penyubur bagi perkembangan radikalisasi.
Menguatnya kekecewaan rentan membawa masyarakat pada romantisme kemapanan masa lalu seraya melupakan realitas luka yang pernah dilalui (seraya teringat stiker presiden kedua: “piye kabarmu le, enak jamanku ta? ”) atau justru mengidealkan kemapanan yang tak pernah ada dari negeri seberang. Bila nasionalisme dapat dibaca sebagai kebanggaan, boleh dibilang masyarakat rentan mencari nasionalisme-nasionalisme lain ketika tak menemukan lagi kebanggaan pada negara. Radikalisme berfungsi sebagai satu di antara pilihan-pilihan nasionalisme yang ada.

Pada tataran lain keterpurukan kondisi bangsa justru menjadi bahan bakar “siap saji”-nya –dimana mudah mengambil simpati masyarakat dari mengkontraskan keterpurukan kondisi bangsa dengan (potongan) romantisme kegemilangan masa kenabian dan sahabat. Bila Mesir, Suriah, Iraq mengalami pemberontakan atas nama Agama demi menegakkan khilafah, yang justru pada kenyataannya mencoreng nama islam itu sendiri.
Tulisan ini pula menaksir gejala radikalisasi dalam kerangka serupa di Indonesia : bahwa gagasan radikalisme berkembang seiring kekecewaan bertumpuk atas kondisi negara dan faham sesat. Bila Orde Baru mampu mengikiskomunisme dengan menyibukkan masyarakat berpikir positif melalui isyu pembangunan ekonomi, maka satu-satunya jalan ke luar dari ancaman gagasan radikalisme adalah kembali membuat masyarakat sibuk dalam kebanggaan pada negaranya. Pembatasan kreatifitas menulis, memberantas gagasan radikalismei, dan pemberedaln situs-situs penyebar faham radikal.
 
About ArrahmahNews (12172 Articles)

Media Pencerahan Rakyat

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: