News Ticker

Dua Wajah ISIS

Kerukunan-BeragamaEditorial- ArrahmahNews.com  TIDAK sedikit orang di kolong langit ini yang berasumsi agama itu pangkal kekerasan. Tak terkecuali dalam kasus kejahatan Al-Qaidah yang dimotori oleh Osamah bin Laden, Jabha Nusroh, FSA, dan yang terbaru adalah ISIS. Awalnya pemberontakan yang terjadi di Suriah "Gerakan Rakyat". Namun, lambut laun seiring dengan masuknya mujahidin dari berbagai negara berubah menjadi teror berbalut agama dengan propaganda konflik sunnah-syiah. Persisi dengan isu sektarian yang sedang dimainkan oleh Arab Saudi di Yaman saat ini. Itulah sebabnya seluruh penganut Islam di timur tengah dan belahan dunia lainnya seperti indonesia, dilanda kekhawatiran akan menjadi sasaran perekrutan anggota ISIS atau penggulingan pemerintahan dengan dalih KAFIR.

Topeng “ISLAM” ISIS pun berhasil menumbuh suburkan kebencian terhadap islam. Sebagian muslimah di eropa pun harus melepas jilbabnya, atau mengurung diri dan menyembunyikan identitasnya.

Jika demikian, maka sudah seharusnya kita yang cinta islam harus merubah stigma buruk tentang islam. Membedakan antara islam dan muslim, menbedakan antara agama dan beragama (penganut), agar orang tidak lagi percaya bahwa agama itu akar kekerasan dan teror. Bila ada kelompok-kelompok yang menebar teror atas nama agama, mereka sebetulnya telah membajak agama.

Tak ada agama yang membenarkan kekerasan. Mereka sekadar mengemas ambisi politik, kekuasaan, dan ekonomi dengan agama. Oleh karena itu, hentikanlah berbagai kekerasan atau teror atas nama agama dan atas nama apa pun.

Selanjutnya meningkatkan solidaritas di kalangan warga dunia bertumbuh melintas batas-batas identitas. Warga dunia yang berbeda identitas semestinya berjalan beriringan, bukan berseberangan.

Solidaritas itu indah dan menyejukkan. Tengoklah betapa sejuk dan indahnya ketika kita menyaksikan gambar sekelompok muslimah berjilbab memanjatkan doa setelah ISIS melakukan genosida etnis Yezidi. Padahal, Yezidi boleh jadi berbeda identitas dengan mereka.

solidaritas sesungguhnya suatu aksi yang memuliakan manusia dan kemanusiaan. Hilangnya nyawa satu manusia, tak peduli identitasnya, pada hakikatnya ialah hilangnya kemanusiaan.

Di sisi lain, di tengah iklim ketidakpastian sikap pemerintah terhadap kaum intoleran dan radikal. Nasionalisme dan persatuan dibutuhkan untuk menunjukkan solidaritas dan dukungan kita terhadap masyarakat indoensia, baik muslim maupun non muslim.

Kita di Indonesia semestinya menangkap dua pesan kuat dari peristiwa yang sedang terjadi di timur tengah. Dalam konteks Indonesia, konflik Suriah, Irak dan Yaman hendaknya dijadikan instrospeksi agar kasus-kasus kekerasan atas nama agama dihentikan.

Sebab, kita semestinya tak bakal percaya begitu saja bahwa kekerasan yang dilakukan kelompok tertentu dilandasi agama.

Hentikan berlaku keras dan menista orang lain hanya karena mereka berbeda identitas dengan kita. Apalagi jika perilaku keras itu berlindung di balik jargon agama.

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: