Kiai Situs-situs Radikal

Situs-Radikal-Musuh-Dalam-SelimutSejak teknologi internet dalam genggaman, perubahan pola mencari informasi terjadi secara massif. Orang tidak lagi berhenti dan bertanya pada orang di pinggir jalan untuk mencari tahu jalan, melainkan cukup membuka aplikasi peta di smartphone. Pencarian informasi jenis apapun disediakan dengan cepat oleh mesin pencari terutama google.com. Tak ayal, banyak orang kini berseloroh ‘tanya Profesor Google’ atau ‘Kiai Google’ tergantung isu yang dicari dan google akan dengan mudah berganti gelar. Persoalannya, tidak semua informasi di google bermutu bagus atau memenuhi standard akademik dan jurnalisme yang mumpuni. Ini membuat banyak informasi yang berkualitas buruk dan bahkan tidak dapat dipertanggungjawabkan tersebar. Bagi netizen yang tidak memahami ini, seluruh informasi sama bermutunya sehingga tidak dapat memilah dan mudah terjebak dalam propaganda, rumor, fitnah, dan berbagai dampak buruk lainnya.

Kyai Google dan Situs Radikal

Kelebihan internet yang memosisikan semua orang secara setara dalam menyediakan dan mengakses informasi menimbulkan risiko yang tidak dapat sepenuhnya diantisipasi secara sistemik, kecuali oleh yang disebut akal sehat. Selain konten porno, yang sedang marak dan membahayakan adalah konten radikal.

Situs Radikal Menjamur

Menurut Eickelman dan Anderson (1999), internet menciptakan ruang publik baru bagi umat Islam lintas kelompok dan geografis. Di Indonesia, dibanding organisasi masyarakat Islam besar seperti Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah. Kelompok Islam radikal lebih dulu, cepat, dan cekatan dalam memanfaatkan internet. Ada dua konteks yang melatarbelakangi menjamurnya situs radikal.

Pertama, semangat dakwah dan perlawanan terhadap dominasi media massa yang dianggap kerap meminggirkan Islam terutama di Barat. Semangat ini mendunia dan digaungkan oleh Jaringan Al-Qaeda yang menyebut “half of jihad is media”. Layaknya efek domino, gerakan ini menyebar ke seluruh simpatisan Al-Qaeda di berbagai negara termasuk Indonesia pada awal dekade 2000. Meski hari ini konteks politik Islam radikal lebih kompleks dengan munculnya ISIS dan friksi-friksi di kalangan mereka sendiri.

Kedua, situs Islam radikal sebenarnya kelanjutan dari majalah cetak kelompok Islam radikal yang booming pada dekade 1990-an. Jika ditelisik, secara umum bahan progandanya sama yaitu memusuhi Barat dan demokrasi. Pembedanya hanya medium yang digunakan. Kelompok radikal sangat responsif terhadap perkembangan teknologi komunikasi yang dapat mereka manfaatkan.

Sebagai penyedia konten Islami, upaya kelompok radikal bertemu dengan kondisi masyrakat yang sedang gundah gulana dengan semakin banyaknya wajah Islam yang berkembang. Tidak lagi bertanya pada tokoh agama, mereka mencari informasi keagamaan mulai dari yang amaliyah hingga akidah di internet.

Menariknya, kebanyakan situs radikal tidak hanya menyediakan konten tentang propaganda jihad, melainkan juga rubrik populer lain seperti isu tentang muslimah, remaja, tanya jawab fiqh, dan sebagainya. Mungkin tidak banyak netizen yang bermaksud mengakses situs radikal. Melalui pola seperti itu, netizen digiring untuk mengunjungi situs radikal dan lantas bergulir ke judul tulisan lain yang memuat konten berparadigma kekerasan.

Jika dicek melalui alexa.com, situs pengecek peringkat website, beberapa situs Islam radikal selalu relatif lebih tinggi daripada situs Islam moderat seperti NU Online. Dari segi jumlah, situs Islam yang mengandung ajaran damai juga kalah jauh dibanding situs Islam yang diindikasi mengandung ajaran radikal. Seperti yang dilansir Jawa Pos edisi 22/3, BNPT menyebut terdapat 9000 situs radikal. Ini belum menghitung akun facebook, twitter, dan video di Youtube yang mempropagandakan ajaran radikal.

Menangkal Paham Radikal

Fitrah internet sebagai media superhighway itu sejatinya tidak dapat disensor. Setiap upaya sensor internet hanya akan semakin menderaskan konten baru yang serupa. Sekian lama kita belajar dari kegelisahan mengenai konten pornografi yang kunjung tak bisa dibendung. Demikian pula dengan konten radikal. Saya pernah menemui blog Islam radikal yang mengaku sebagai kelanjutan blog lain yang ditutup Kemenkominfo.  Tetapi bukan berarti ini tidak bisa dilawan. Ada sejumlah strategi yang dapat mengurangi dampak konten radikal di luar upaya sensor oleh masyarakat sipil.

Pertama, ‘tulisan dilawan dengan tulisan’. Sebenarnya itu yang dilakukan kelompok radikal, mereka melawan informasi arus utama dengan menyediakan informasi. Kini, kita harus melawan balik dengan membanjiri informasi Islam ramah yang tidak kalah militan. Tidak sedikit situs Islam ramah yang bermunculan untuk menyeimbangkan informasi. Namun tidak semuanya memiliki militansi untuk terus memproduksi tulisan anyar. Akibatnya SEO-nya tidak tinggi dan tidak masuk dalam laman pertama mesin pencari. NU dan Muhammadiyah harus secara serius membuat agenda pengarusutamaan informasi Islam ramah secara online.

Kedua, informasi itu harus disalurkan melalui media sosial untuk mendekati netizen. Belakangan, para tokoh agama semakin banyak yang mempunyai akun media sosial di facebook dan twitter. Netizen bisa mengonfirmasi pemahaman agama kepada para tokoh agama ini. Sejumlah akun yang biasa dibanjiri pertanyaan adalah @gusmusgusmu milik KH. A. Musthofa Bisri dan @Sholahudin Wahid milik KH. Sholahudin Wahid, dan banyak ustadz muda lainnya dari pesantren yang mulai muncul. Karena keterbatasan karakter, tidak semua pertanyaan bisa dijawab tuntas. Maka sebagian dari para ustad tweet ini membuat kuliah tweet atau kultwit untu merespon persoalan tertentu.

Ketiga, gerakan online tidak dapat berhasil tanpa gerakan offline. Masjid, pesantren, dan majelis ta’lim harus responsif terhadap isu ini. Tidak membiarkan umat menelan mentah-mentah ajaran Islam radikal yang sangat militan mendekati mereka melalui buletin jumat, buku,  dan media lainnya. Selain memberikan ajaran agama, lembaga keagamaan juga aktif memperkuat struktur ekonomi masyarakat yang adil dan merata. Problem struktur ini yang rentan membuat orang dipengaruhi ajaran kekerasan, baik yang bermotif agama maupun tidak.

Negara jelas pihak yang paling bertanggung jawab. Tapi di negara sebesar Indonesia, tanpa gerakan sipil yang kuat persoalan bangsa tidak dapat diselesaikan.

Sumber: http://www.gusdurian.net/id/article/headline/Kiai-Google-dan-Situs-Radikal/

About ArrahmahNews (12203 Articles)

Media Pencerahan Rakyat

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: