Mengapa Saudi Tidak Serang Israel?

Rabu, 01 April 2015,

JAKARTA, ARRAHMAHNEWS.COM – Kita pasti bertanya-tanya “mengapa Arab Saudi dan sekutu-sekutunya (Yordania, Kuwait, UEA, dan Pasukan Koalisi Arab (sekarang), tidak membantu Palestina yang dibombardir oleh Israel. Ketika pengajian lima tahun yang lalu dan saat ini, jawaban saya tetap sama yaitu: ” karena mereka berfaham Wahabi!” Mungkin orang akan menilai tendensius jawaban putri ini, mungkin juga orang akan menilai mengada-ada dan sebagainya. Tapi faktanya memang demikian.

Wahabi dan Kerajaan Saudi Arabia adalah seperti dua sisi mata uang, saling melengkapi dan terkait erat. Kerajaan Saudi Arabia didirikan dengan dukungan penuh dari Yahudi (baca: Inggris) tahun 1843. Meskipun tertatih-tatih karena berhasil ditumpas oleh pemerintah yang sah Kerajaan Turki Utsmani, namun akhirnya mereka berhasil berkuasa hingga saat ini.

Dr. Abdullah Mohammad Sindi (penulis buku The Arabs and the West: The Contributions and the Inflictions) menyampaikan fakta: “Walaupun kebengisan fanatis Wahabisme berhasil dihancurkan pada 1818, namun dengan bantuan Kolonial Inggris, mereka dapat bangkit kembali. Setelah pelaksanaan hukuman mati atas Imam Abdullah al-Saud di Turki, sisa-sisa klan Saudi-Wahabi memandang saudara-saudara Arab dan Muslim mereka sebagai musuh yang sesungguhnya (their real enemies) dan sebaliknya mereka menjadikan Inggris dan Barat sebagai sahabat sejati mereka.”

Wahabi-Saudi dari awal memang sangat kental dengan cara-cara yang tidak Islami, yaitu, berkhianat, membunuh dan berkawan dengan penjajah (Barat/Yahudi). Data dan fakta menunjukkan bahwa: Gary Troeller, dalam bukunya The Birth of Saudi Arabia: Britain and the Rise of the House of Sa’ud (London: Frank Cass, 1976), p. 15-16, menyampaikan fakta bahwa: Ketika Inggris menjajah Bahrain pada 1820 dan mulai mencari jalan untuk memperluas daerah jajahannya, Dinasti Saudi-Wahabi, yang baru mulai dirintis menjadikan kesempatan ini untuk memperoleh perlindungan dan bantuan Inggris.

Hubungan Saudi dan Israel

Pada 1843, Seorang Imam Wahabi (Madzhab Wahabi), Faisal Ibn Turki al-Saud berhasil melarikan diri dari penjara di Cairo dan kembali ke Najd. Imam Faisal kemudian mulai melakukan kontak dengan Pemerintah Inggris. Pada 1848, dia memohon kepada Residen Politik Inggris (British Political Resident) di Bushire agar mendukung perwakilannya di Trucial Oman.

Pada tahun 1851, Faisal kembali memohon bantuan dan dukungan Pemerintah Inggris. Dan hasilnya, Pada 1865, Pemerintah Inggris mengirim Kolonel Lewis Pelly ke Riyadh untuk mendirikan sebuah kantor perwakilan Pemerintahan Kolonial Inggris dengan perjanjian (pakta) bersama Dinasti Saudi-Wahabi. Untuk mengesankan Kolonel Lewis Pelly bagaimana bentuk fanatisme dan kekerasan Wahabi, Faisal mengatakan bahwa perbedaan besar dalam strategi Wahabi : antara perang politik dengan perang agama adalah bahwa nantinya tidak akan ada kompromi, kami membunuh semua orang.

Sebagaimana ditulis oleh Robert Lacey, dalam bukunya: The Kingdom: Arabia and the House of Saud (New York: Harcourt Brace Jovanovich, 1981), p. 145. Pada 1866, Dinasti Saudi-Wahabi menandatangani sebuah perjanjian “persahabatan” dengan Pemerintah Kolonial Inggris, sebuah kekuatan yang dibenci oleh semua kaum Muslim, karena kekejaman kolonialnya di dunia Muslim.

Perjanjian ini serupa dengan banyak perjanjian tidak adil yang selalu dikenakan kolonial Inggris atas boneka-boneka Arab mereka lainnya di Teluk Arab (sekarang dikenal dengan: Teluk Persia). Sebagai pertukaran atas bantuan pemerintah kolonial Inggris yang berupa uang dan senjata, pihak Dinasti Saudi-Wahabi menyetujui untuk bekerja-sama/berkhianat dengan pemerintah kolonial Inggris yaitu: pemberian otoritas atau wewenang kepada pemerintah kolonial Inggris atas area yang dimilikinya.

Perjanjian yang dilakukan Dinasti Saudi-Wahabi dengan musuh paling getir bangsa Arab dan Islam (yaitu: Inggris), pihak Dinasti Saudi-Wahabi telah membangkitkan kemarahan yang hebat dari bangsa Arab dan Muslim lainnya, baik negara-negara yang berada di dalam maupun yang diluar wilayah Jazirah Arab.

Maka ini membangkitkan semangat seorang patriotik bernama al-Rasyid dari klan al-Hail di Arabia tengah dan pada 1891, dan dengan dukungan orang-orang Turki (kerajaan Turki Utsmani), al-Rasyid menyerang Riyadh lalu menyerang klan Saudi-Wahabi.

Hubungan Saudi dan Kerajaan Inggris

Sehingga beberapa anggota Dinasti Saudi-Wahabi berhasil melarikan diri ke Kuwait yang merupakan wilayah dibawah kekuasaan Kolonial Inggris, untuk mencari perlindungan dan bantuan Inggris.; di antara mereka adalah Imam Abdul-Rahman al-Saud dan putranya yang masih remaja, Abdul-Aziz (kelak dari Keturunannya lah lahir Raja, Faisal, Fahd dan Abdullah). Ketika di Kuwait, Abdul-Rahman dan putranya, Abdul-Aziz menghabiskan waktu mereka untuk “menyembah-nyembah” tuannya Inggris, mereka berhasil mendapatkan uang dan persenjataan serta bantuan lain untuk keperluan merebut kembali Riyadh.

Namun ketika akan menyerbu Riyadh (pada akhir penghujung 1800-an), usia dan penyakit telah memaksa Abdul-Rahman untuk mendelegasikan Dinasti Saudi Wahabi kepada putranya, Abdul-Aziz, yang kemudian menjadi Pemimpin dinasti Saudi-Wahabi yang baru. Melalui strategi licik dan Khas Yahudi, kolonial Inggris di Jazirah Arab pada awal abad 20, yang dengan cepat menghancurkan Kekhalifahan Islam Utsmaniyyah dan sekutunya yaitu klan al-Rasyid secara kesuluruhan, dan dengan pasti Inggris memberi dukungan penuh kepada Imam baru Saudi-Wahabi Abdul-Aziz.

Mulailah, kebengisan yang sangat jauh dari nilai-nilai Islam yang agung dan Mulia yaitu pembunuhan demi pembunuhan, sebagaimana ditulis oleh Said K. Aburish, dalam bukunya The Rise, Corruption and the Coming Fall of the House of Saud (New York: St. Martin’s Press, 1995), p. 14). Dia menyampaikan catatan : “Dengan dukungan kolonial Inggris, uang dan senjata, Imam Wahabi yang baru, pada 1902 akhirnya dapat merebut Riyadh. Salah satu tindakan biadab pertama Imam baru Wahabi ini setelah berhasil menduduki Riyadh adalah menteror penduduknya dengan memaku kepala al-Rasyid pada pintu gerbang kota.

Abdul-Aziz dan para pengikut fanatik Wahabinya juga membakar hidup-hidup 1.200 orang sampai mati. Imam Wahabi Abdul-Aziz yang dikenal di Barat sebagai Ibn Saud, sangat dicintai oleh majikan Inggrisnya. Banyak pejabat dan utusan Pemerintah Kolonial Inggris di wilayah Teluk Arab sering menemui atau menghubunginya, dan dengan murah-hati mereka mendukungnya dengan uang, senjata dan para penasihat.

Sir Percy Cox, Captain Prideaux, Captain Shakespeare, Gertrude Bell, dan Harry Saint John Philby (yang dipanggil Abdullah”) adalah di antara banyak pejabat dan penasihat kolonial Inggris yang secara rutin mengelilingi Abdul-Aziz demi membantunya memberikan apa pun yang dibutuhkannya. Dengan senjata, uang dan para penasihat dari Inggris, berangsur-angsur Imam Abdul-Aziz dengan bengis dapat menaklukan hampir seluruh Jazirah Arab di bawah panji-panji Wahabisme untuk mendirikan Kerajaan Saudi-Wahabi ke-3, yang saat ini disebut Kerajaan Saudi Arabia.

Ketika mendirikan Kerajaan Saudi, Imam Wahabi, Abdul-Aziz beserta para pengikut fanatiknya, dan para “tentara Tuhan”, melakukan pembantaian yang mengerikan, khususnya di daratan suci Hijaz. Mereka mengusir penguasa Hijaz, Syarif, yang merupakan keturunan Nabi Muhammad Saw.

Pada bulan Mei 1919, di Turbah, di tengah malam dengan cara pengecut dan buas mereka menyerang angkatan perang Hijaz, membantai lebih 6.000 orang. Dan pada bulan Agustus 1924, sama seperti yang dilakukan orang barbar, tentara Saudi-Wahabi mendobrak memasuki rumah-rumah di Hijaz, kota Taif, mengancam mereka, mencuri uang dan persenjataan mereka, lalu memenggal kepala anak-anak kecil dan orang-orang yang sudah tua, dan mereka pun merasa terhibur dengan raung tangis dan takut kaum wanita.

Banyak wanita Taif yang segara meloncat ke dasar sumur air demi menghindari pemerkosaan dan pembunuhan yang dilakukan tentara-tentara Saudi-Wahabi yang bengis. Tentara primitif Saudi-Wahabi ini juga membunuhi para ulama dan orang-orang yang sedang melakukan shalat di masjid; hampir seluruh rumah-rumah di Taif diratakan dengan tanah; tanpa pandang bulu mereka membantai hampir semua laki-laki yang mereka temui di jalan-jalan; dan merampok apa pun yang dapat mereka bawa.

Lebih dari 400 orang tak berdosa ikut dibantai dengan cara mengerikan di Taif. [Quoted in Robert Lacey, The Kingdom: Arabia and the House of Saud (New York: Harcourt Brace Jovanovich, 1981), p. 145. dan William Powell, Saudi Arabia and Its Royal Family (Secaucus, N.J.: Lyle Stuart Inc., 1982) Dan selanjutnya yang terjadi adalah penghancuran situs-situs penting Islam (data terakhir Rumah tempat kelahiran Nabi Muhammad SAW yang sebelumnya adalah Perpustakaan juga sudah dihancurkan dengan alasan perluasan masjidil haram !!), makam-makam para keluarga, sahabat nabi diratakan dengan tanah dengan alasan hal itu bisa menyebabkan syirik dan mereka (Wahabi) menyebut orang yang menghormati makam-makam tersebut dengan istilah “Quburiyyun”, mem-bid’ahkan Maulid Nabi, memberantas tasawuf, menentang madzhab dan sebagainya.

Hubungan Saudi dan AS

Simbol “Muwahidun” yang mereka kenakan dipakai untuk menghancurkan Ahlul bait, bahkan lebih gila lagi akan membongkar kubah hijau Makam Rasulullah SAW di Madinah, dengan alasan bahwa “Tidak Boleh mendirikan bangunan di Atas Kuburan.” Maka kerisauan dunia Islam saat itu sudah mencapai puncaknya termasuk Ulama-Ulama Indonesia (baca:NU) sudah sangat khawatir mengenai Gerakan Wahabi ini, maka para ulama yang berpengaruh berkumpul di Surabaya pada 31 Januari 1926 M/16 Rajab 1344 H, Di antaranya KH Hasyim Asy’ari (Jombang), KHR Asnawi (Kudus), KH Wahab Hasbullah (Jombang), KH Bisri Syansuri (Jombang), KH Nawawie bin Noerhasan (Sidogiri Pasuruan), KH Ma’shum (Lasem), KH Nachrowi (Malang), KH Ndoro Muntaha (Bangkalan), KH Ridwan Abdullah (Surabaya), dan KH Mas Alwi Abdul Aziz (Surabaya). Memutuskan untuk mengirimkan delegasi ke Kongres Dunia Islam (Muktamar Khilafah) di Mekah dengan nama “Komite Hijaz”, untuk memperjuangkan dan mengingatkan kepada Raja Saud agar hukum-hukum menurut mazhab empat (Hanafi, Maliki, Syafii, dan Hanbali) mendapat perlindungan dan kebebasan dalam wilayah kekuasaannya.

Delegasi Komite Hijaz terdiri dari KH Wahab Hasbullah, Syekh Ghanaim al-Mishri, dan KH Dahlan Abdul Kohar. Utusan para ulama pesantren itu, alhamdulillah, berhasil dan diterima baik oleh penguasa Saudi. Raja Saudi menjamin kebebasan ber-amaliah dalam madzhab empat di Tanah Haram dan tidak ada penggusuran makam Nabi Muhammad SAW.

Peristiwa demi peristiwa terjadi, raja Saudi terus berganti, akan tetapi “Platform” mereka tetap sama yaitu Wahabisme, berkawan dengan Amerika, Inggris (dan tentunya Yahudi) meskipun tidak Nampak di permukaan, “menyerang” Ahlus Sunnah (meskipun mereka mengaku Ahlussunnah, dan sebagai pengikut Salafus-Shalih), membid’ahkan Maulid, men-jahilkan saudara-saudara Muslim yang tidak sepaham (maka jangan heran bila Anda pergi Haji disamping diberi Gratis Kitab Suci Al Qur’an, juga dibagi Buku-buku terbitan Kerajaan Saudi, yang isinya mem-bid’ah-kan Maulid, men-jahilkan- amaliah-amaliah Jamaah haji Indonesia dan Negara lain dsb) Gerakan Sistematis Wahabisme ini sudah masuk ke Indonesia, melalui “perebutan Masjid-masjid NU”, mem-bid’ahkan amalan-amalan tertentu, bahkan meng-kafirkan saudara muslim, bahkan ada Radio AM di kawasan Bogor yang isi siarannya seakan bermotto ” Tiada hari Tanpa Istilah Bid’ah”. (ARN)

About ArrahmahNews (12177 Articles)

Media Pencerahan Rakyat

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: