Saudi Tak Punya Nyali Lakukan Invansi Darat

Saudi soldiers wait to greet Saudi Prince Khaled bin Sultan bin Abdul-Aziz, Assistant Minister for Defence and Aviation, during his visit to the Khoba frontline border with YemenSalem Zahran juga mengatakan bukti menunjukkan bahwa rezim Saudi adalah pengikut setia AS dan Israel dengan memimpin agresi udara di Yaman untuk mengamankan kepentingan mereka di selat Bab El-Mandeb. "Sekitar 38 % pelayaran internasional melintasi Bab El Mandeb yang mempengaruhi ekonomi Israel," kata Zahran. Dia mengungkapkan bahwa rezim Wahabbi di Arab Saudi sejak awal sudah berencana membentuk sebuah koalisi yang mencakup negara-negara Teluk, Mesir dan Turki dalam menghadapi apa yang digambarkan sebagai pengaruh Iran di seluruh wilayah, termasuk Yaman setelah Morsi lengser.


Zahran menunjukkan bahwa serangan udara yang dipimpin AS pada Suriah dan Irak, serangan udara Mesir di Libya dan agresi udara yang sedang berlangsung di Yaman memasukkan seluruh wilayah melebihi batas yang disebut dalam perjanjian Sykes-Picot.

Perjanjian Sykes-Picot ditandatangani tahun 1916 dan merupakan perjanjian rahasia antar Britania Raya dan Perancis yang disetujui Kerajaan Rusia. Perjanjian ini membagi daerah-daerah Arab yang berada di bawah Kerajaan Otoman di luar Jazirah Arab hingga di masa depan bisa ditentukan mana yang akan dikuasai Inggris atau Perancis.

Lebih lanjut dia mengatakan bahwa koalisi Saudi bertujuan mengerahkan pasukan penjaga perdamaian Arab dan internasional di Aden serta di selat Bab el Mandeb untuk mengamankan kepentingan AS-Israel di sana.

Sebuah koalisi 10 negara, yang dipimpin Arab Saudi, menyerang Yaman dan menewaskan puluhan warga sipil serta melukai ratusan lainnya.

About ArrahmahNews (12177 Articles)

Media Pencerahan Rakyat

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: