Anjing Saja Punya Rasa Malu (bagian 1)

Ketika-Aku-Kehilangan-Rasa-MaluSeseorang mengatakan bahwa beberapa tahun silam, salah seorang kerabatnya belajar di Prancis. Ketika pulang, dia menukilkan kisah ini kepadanya;

Saya menyewa rumah di kota Paris dan membeli seekor aning untuk menjaga rumah itu. Di malam hari, saya selalu menutup pintu rumah. Sementara sang anjing tidur di dekat pintu itu, saya pergi kuliah. Ketika pulang, saya ajak anjing itu bersama saya ke dalam rumah.

Suatu malam, saya pulang terlambat dan cuaca saat itu sangat dingin. Karenanya, terpaksalah saya gunakan mantel saya untuk menutupi kepala dan telinga. Saya juga memakai sarung tangan dan meletakkan kedua tangan saya di wajah, sehingga yang tampak hanyalah kedua mata saja. Tak lama, saya di rumah.

Namun, ketika saya akan membuka pintu,anjing saya memandangi saya yang berpakaian seperti itu; ia tidak mengenali saya. Dia pun mulai menyerang saya dan tersangkut di mantel. Langsung saja mantel itu saya lemparkan, sehingga wajah saya terlihat olehnya.

Saya lalu memanggil namanya. Ketika sudah dapat mengenali saya, dia pun menyingkir ke sudut jalan sambil tersipu malu. Saya kemudian membuka pintu itu kembali, dan dengan sedikit paksaan anjing itu pun berlari masuk ke dalam rumah. Saya lalu menutup pintu, kemudian tidur.

Karena itu, masing-masing kita seharusnya berbicara kepada hati kita masing-masing; mengapa kita tak memiliki rasa malu? Mengapa kita tak merasa malu kepada Allah yang telah menciptakan dan memberikan segala sesuatu kepada kita, sehingga kita seolah-olah tak melihat –Nya, padahal Dia selalu hadir bersama-sama kita? Sebagaimana, dikatakn dalam sebuah doa “Ya Allah, aku tak malu kepada-Mu dalam kesendirian, tidak juga ketika ramai. Ataukah ini dikarenakan sedikitnya rasa Maluku kepada-Mu, sehingga engkau akan menyiksaku”.

Setelah mendengar kisa di atas, hendaknya kita malu pada diri sendiri, yang kurang memiliki rasa malu ini. Kalau kita lihat, rasa malu yang dimiliki anjing adalah sedemikian rupa sehingga dia mati karenanya, padahal tuannya telah menjamin makanannya meski hanya berupa sepotong roti atau tulang saja. Maka, bagaimana seharusnya rasa malu anak-anak terhadap orang tua mereka?

Bukankah ayah maupun ibu mereka telah menjamin seluruh kebutuhannya seperti makanan, pakaian, rumah, biaya pengobatan, dan semua keperluan, terutama pendidikan?

Lebih dari itu, Allah sang pencipta yang merupakan sumber segala kenikmatan dan kebaikan, yang menciptakan ayah dan ibu kita, lantas harus seberapa besar rasa malu kita kepada-Nya?

Karena itu, manusia harus sedih melihat kondisi dirinya dan bertanya kepada hatinya, “Hai kamu yang lebih buruk dari pada anjing; mengapa kamu tidak memperhatikan hak-hak kedua orang tua dan para gurumu serta tidak kau tampakkan rasa terima kasihmu terhadap pemberian dan kebaikan mereka? Mengapa kamu tak malu atas kesalahan-mu pada mereka? Lebih buruk lagi bagimu, mengapa kamu malu kepada Allah saat bermaksiat secara sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan, padahal Dialah yang telah memberimu semua fasilitas yang kau miliki? Paling tidak, kamu harus mengatakan ‘Ya Allah, saya adalah orang yang tak punya rasa malu kepada-Mu ketika sendiri, dan tidak melihat-Mu di kala ramai’.

Dan pabila anda melihat diri anda yang jauh dari kedekatan kepada Allah Swt dan tidak beroleh rahmat-Nya serta tersisihkan dari sisi-Nya, maka katakanlah, ‘Mungkin itu karena sedikitnya rasa Maluku kepada-Mu, lantas siksa diriku’.

 

About ArrahmahNews (12188 Articles)

Media Pencerahan Rakyat

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: