Harga Mahal Toleransi

Toleransi-Sebagian-Dari-KebahagianDan jika Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang yang ada di muka bumi ini seluruhnya. Maka, apakah kamu (hendak) memaksa manusia supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman semuanya?” (QS. Yunus: 99) Kondisi keberagamaan di Indonesia akhir-akhir ini kembali dicoreng oleh sekelompok masyarakat yang enggan menerima perbedaan. Di sisi yang lain, Pemerintah yang seharusnya menjadi perisai bagi kenyamanan dan keamanan segenap bangsa Indonesia sayangnya tak lagi mampu menjawabnya dengan bijaksana dan adil. Tak jarangan bahkan Pemerintah, berikut aparat dan komponennya, berselingkuh dengan para kelompok intoleran dan melakukan tindakan diskriminasi kepada kelompok minoritas tertentu. Yang disebutkan di atas bukan hanya tudingan atau isapan jempol. Pada Jumat, 20 April 2012 yang lalu, masjid Ahmadiyah di Tasikmalaya, kembali dirusak oleh sekelompok massa yang tidak bertanggung jawab, sehingga aktifitas di masjid ini pun terhenti total. Entah apakah Tuhan yang bersemayam di dalamnya turut murka atas tindakan tersebut, tetapi secara naluri kemanusiaan, tindakan tersebut sama sekali bukan mencerminkan perbuatan orang yang berperadaban atau berakhlak.

Dua minggu terakhir, belum lagi permasalahan GKI Taman Yasmin selesai, HKBP Filadelfia Bekasi pun mengalami nasib yang sama. Pemerintah Kabupaten Bekasi mengeluarkan surat keputusan terkait pemberhentian aktifitas gereja dan jemaat yang menggunakan salah satu bangunan sebagai tempat ibadah. Persis dengan kasus GKI Yasmin, walaupun Mahkamah Agung telah mengeluarkan putusan dan memenangkan Jemaat HKBP Filadelfia, Pemerintah Kabupaten Bekasi tidak juga mengindahkan putusan tersebut. Alih-alih memberikan keadilan kepada warga yang hendak beribadah, Pemkab – dalam hal ini Camat Tambun Utara, Bekasi – justru tetap menutup Gereja dengan alasan dikhawatirkan adanya penyerangan atau keributan.

Di belahan Indonesia yang lain, pada Agustus 2011 yang lalu, pelarangan pendirian masjid sebagai rumah ibadah juga dilakukan oleh sekelompok massa di Nusa Tengagra Timur (NTT). Berdasarkan desakan warga tersebut, Camat Batuplat, Kupang, NTT, menghentikan sementara pembangunan masjid tersebut agar kedua belah pihak dapat menyelesaikan permasalahan izin pembangunannya.

Sisi yang lain, tindakan aneh yang baru-baru ini juga dilakukan oleh para pemangku kewajiban adalah tatkala ustadz Tajul Muluk, tokoh keagamaan Syiah Sampang, Madura, pada Kamis yang lalu (12/4/2012) ditetapkan sebagai tersangka karena dianggap telah menodai agama Islam. Suatu keputusan yang sangat aneh, mengingat persandingan antara Sunni dan Syiah di Indonesia selama ini baik-baik saja. Ibarat kata, usia orang yang menuduh Tajul Muluk menodai Islam tidak lebih tua dari usia harmonis antara Syiah dan Sunni di Indonesia. Menurut sementara keluarga Tajul Muluk, penahanan ini disebabkan oleh ancaman yang datang dari terpidana penyerangan sebelumnya yang telah keluar kepada Tajul sendiri, sehingga pihak kepolisian juga menahan Tajul agar dirasa adil oleh semua pihak.

Kondisi-kondisi singkat dan secuil dari segudang permasalahan lain yang ada tersebut di atas menunjukkan betapa Negara ini telah lalai menjadikan hukum sebagai pedoman kehidupan, tetapi bernaung dengan suara mayoritas dan tak jarang dengan kepentingan politik sesaat. Akibatnya, siapapun yang kecil, minoritas dan tak berdaya akan dijadikan tumbal kekuasaan dan mayoritas. Tak segan-segan Negara berselingkuh dengan kelompok mayoritas dan menafikan hak-hak minoritas. Bila kondisi ini terus dibiarkan, siapa yang berani menjamin bahwa Indonesia ke depan masih menjadi sebuah kesatuan atau hidup damai berdampingan. Sebaliknya, Indonesia menjadi hutan para preman, yang lebih mengedepankan kekuataan daripada hati nurani dan akal pikiran. Dan tidak bisa dibayangkan bila kelompok minoritas yang diganggu memiliki kekuatan seperti gang motor cepak akhir-akhir ini, pembantaian dan peperangan yang lebih luas dapat saja terjadi.

Untuk itu, berandai-andai Indonesia menjadi seragam adalah mustahil, seperti halnya berharap agar Indonesia menjadi satu daratan yang tersambung. Tinggal lagi, bila belum mampu merayakan perbedaan dan membela keragaman yang ada, cukuplah kita menjadi orang yang paling lemah imannya untuk tidak menghakimi dan mengganggu ketentraman orang lain dalam beribadah atau berkeyakinan. Lebih dari itu, mampu menjadi manusia yang selalu merawat dan melindungi perbedaan yang ada merupakan sebuah mata air bagi bangsa Indonesia yang tengah berada di padang pasir intoleran dewasa ini. Tak semuanya harus sama, karena perbedaan adalah niscaya.

Mengakhiri catatan ini, sebuah ayat di dalam Alquran – yang disebutkan di atas – telah mensinyalir keniscayaan perbedaan ini, sehingga apakah firman Tuhan ini harus pula kita ingkari.

“Toleransi itu setengah Kebahagian”

Oleh: Muhammad Hafiz

 

 

About ArrahmahNews (12177 Articles)

Media Pencerahan Rakyat

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: