Nafas Terakhir Kerajaan Saudi

Saudi-Dan-ASBani al-Saud sudah melakukan satu kesalahan fatal dari berbagai kesalahan lain dengan menyerang Yaman, yang jika tidak dihentikan segera, kemungkinan besar istana padang pasir Badui Najdi yang disebut “Arab Saudi” akan segera runtuh. Sangat mudah bagi sebuah entitas untuk memulai perang meski dia akan sangat kesulitan menentukan arah, hasil atau bagaimana cara mengakhirinya. Ini sudah menjadi sebuah pengetahuan umum. Dan di Yaman, rezim "Saudi" menyulut perang dengan rakyat Yaman -- yang selama ini dianggapnya sebagai kotoran miskin. Perang diluncurkan dengan dalih memerangi separatis al-Houthi yang sukses mendulang kemenangan dan meraup dukungan rakyat dalam beberapa bulan terakhir. Badui dari Najd, alias "Saudi", segera mengerahkan kawan-kawan separit yang dia sebut "تحالف الراغبين" atau "Coalition of the Willing" mencakup organ-organ Arab seperti Kuwait, Qatar, Bahrain, dan Uni Emirat Arab. Saudi dan cs berharap rakyat Yaman gemetar dengan gemuruh derap sandal-sandal bakiak mereka. Saudi kebablasan dengan berakting sebagai  hansip regional dengan megerahkan mesin-mesin pembunuh dari Mesir, Maroko, Yordania, Sudan dan Pakistan.

Dari sudut pandang apapun, serangan Saudi di Yaman adalah tindakan illegal  tak bermoral. Ini agresi telanjang mata terhadap negara merdeka yang diluncurkan dengan dalih palsu dan tipu-tipu. Sementara pada saat yang sama, rezim “Najd” tak pernah melepaskan walau satu peluru pun ke arah penjajah Zionis.  Saudi tergopoh-gopoh menyerang umat Islam di Yaman dengan dalih mengembalikan kekuasaan “pemerintah sah” di Yaman dan menghilangkan ancaman dari al-Houthi yang Syiah terhadap kerajaan Najd.

Apakah dalih Badui Najdi benar?  Bukankah Abdrabbu Mansour Hadi jauh-jauh hari sudah mengundurkan diri bahkan melarikan diri dari Yaman jauh-jauh hari sebelum “Saudi” melancarkan serangan udara dan menewaskan puluhan warga sipil tak berdosa?

Agresi Saudi Wahabi merupakan sebuah kejahatan perang, dan karenanya, para penguasa Saudi harus diseret ke pengadilan internasional untuk mempertanggungjawabkan tindakan criminal mereka.

Kalau mau ditilik-tilik, tentara Saudi sebenarnya mesin pembunuh amatiran belaka. Mereka jarang dan tak pernah terjun dalam pertempuran sesungguhnya melawan musuh-musuh Islam. Saudi hanya berani membentuk milisi-milisi Takfiri, termasuk ISIS dan mengirimnya ke berbagai negara Islam. Rezim yang ini gemar mengandalkan isu-isu sektarian dan fitnah untuk menghancurkan Islam dari dalam. Pada saat yang sama, Saudi royal menyewa tentara bayaran dari negara-negara lain termasuk Amerika Serikat untk melindungi wilayahnya. Ada beberapa pangkalan militer AS yang kini bercokol di Saudi.

Sayangnya, fitnah sektarian dan mazhab tidak berjalan di Yaman karena ada penolakan kuat masyarakat.  Para tokoh dan kelompok Sunni justru melawan rezim boneka illegal Hadi.  Kelompok Syiah al-Houthi, kekuatan revolusioner utama di Yaman, sejak awal menolak isu ini.

Bagaimana “Saudi” bisa menebar tuduhan sektarian melawan Ali Abdullah Saleh yang Sunni, mantan presiden, yang malah bahu-membahu bersama al-Houthi melawan rezim Saudi? Apakah Ali Abdullah Saleh sudah ganti mazhab menjadi Syiah dan karena itu harus diberangus? Lalu, apakah Saudi menutup mata terhadap mayoritas suku Sunni yang jelas-jelas mendukung al-Houthi yang Syiah? Bukankah Saleh  yang Sunni dipaksa mundur pada bulan Februari 2012 di bawah tekanan Raja Abdullah dari “Arab” Saudi?.

Al-Houthi sendiri kini dianggap oleh sebagian besar rakyat Yaman sebagai pahlawan kemerdekaan yang membela kepentingan nasional dan dengan gagah melawan agresi asing.

Tampaknya ada dua faktor utama yang menggelitik Badui Najdi untuk menyerang Yaman. Pertama, mereka panic melihat kegagalan konspirasi-konspirasi di berbagai wilayah,  termasuk di Suriah dan  Irak yang melibatkan para pembunuh Takfiri dan pemakan hati manusia. Sementara monster-monster ciptaan Bandar  bin Sulthan ini , kini bisa memangsa tuannya dan berpotensi menjadi ancaman kerajaan.

Kedua, dua anggota muda dari dinasti yang berkuasa — Muhammad bin Nayef dan Muhammad bin Salman — ingin membuktikan kecerdasan mereka lepas memangku jabatan strategis usai kematian Raja Abdullah Januari lalu.  Muhammad bin Nayef,  keponakan Raja Salman, menjabat tiga posisi penting sekaligus;  Menteri Dalam Negeri, Wakil Kedua Perdana Menteri, dan Ketua Dewan Politik & Keamanan. Plus menjadi wakil putra mahkota,  orang kedua dari cucu al-Saud yang kelak menduduki tahta Arab Saudi setelah pamannya, Pangeran Muqrin bin Abdulaziz al-Saud.  Sedang Muhammad bin Salman adalah Menteri Pertahanan Kerajaan Najd. Dia tercatat menjadi menteri pertahanan termuda sepanjang sejarah dunia. Mungkin kedua bangsawan muda yang miskin pengalaman ini langsung mabuk kepayang kala menyaksikan senjata-senjata canggih buatan Amerika dan mengira pasukan Saudi  segera sim salabim jadi pasukan tangguh tak terkalahkan. Kedua bangsawan muda ini rupanya lupa kalau pistol canggih di tangan bukanlah segalanya. Pemegang pistol yang siap menarik pelatuk lah yang lebih berpengaruh dan menentukan.

Dan sejarah belum kena amnesia.  Kerajaan “Saudi” lebih dikenal karena kekejamannya, bukan karena keberanian mereka di hadapan musuh-musuh Islam. Pada saat yang sama, Badui Najdi  selalu berkoar-koar menyebut diri sebagai “Khadim al-Haramayn” dan menjaga kepentingan Islam.

Sudah saatnya Muslimin segera membuang mitos itu karena Badui Najdi sesungguhnya adalah Khadim al-Mufsidin (Amerika dan Israel).

Sejarah kelak akan membuktikan bahwa jet-jet tempur canggih buatan AS badut-badut Najdi itu tidak akan mampu mengalahkan tekad rakyat Yaman dan al-Houthi. Rakyat Yaman tidak akan terbirit-birit ke parit begitu mendengar derap sandal bakiak Badui-Badui Arab.  Tanah Yaman akan menjadi kuburan bagi badut-tentara “Saudi” dan tentara-tentara bayaran dari rezim represif Arab, Mesir atau Yordania.

Mungkin, Muslim revolusioner hari-hari ini berharap Badui Najdi membuat kesalahan fatal  lain dengan meluncurkan invasi darat di Yaman. Dan ini akan mempercepat game over rezim jompo dan loyo yang sudah sering dikutuk umat Islam dalam beberapa dekade.

Sumber : http://www.islamtimes.org/id/doc/article/451757/

About ArrahmahNews (12235 Articles)

Media Pencerahan Rakyat

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: