Arab Saudi Aktor Utama Krisis Yaman

Arrpesawatahmahnews.com - Di saat situasi dan kondisi Yaman semakin mengkhawatirkan, dan serangan jet tempur Arab Saudi ke wilayah sipil Yaman semakin meningkat, anggota Dewan Kerjasama Teluk Persia (P-GCC) meningkatkan lobi terhadap Dewan Keamanan PBB supaya menekan lebih keras Ansarullah. Anggota Dewan Kerjasama Teluk Persia menyerahkan draf resolusi terhadap Dewan Keamanan PBB dengan berlindung di balik pasal tujuh piagam PBB, sekaligus sarana meminta izin serangan darat ke Yaman dari organisasi internasional tersebut.

Selain itu, dalam rancangan resolusi ini, Dewan Kerjasama Teluk Persia mendesak Ansarullah melucuti seluruh senjatanya dan menyerahkan kontrol lembaga pemerintahan dan militer kepada kabinet Mansur Hadi yang sudah dibubarkan. Rancangan resolusi ini juga mendesak Ansarullah keluar dari ibukota Yaman dan kota besar lainnya. Dewan Kerjasama Teluk Persia meminta Houthi bergabung dalam perundingan tanpa prasyarat apapun, yang akan digelar di Riyadh atas usulan Abd Rabbuh Mansur Hadi.

Prakarsa Dewan Kerjasama Teluk Persia tersebut ditolak oleh Rusia. Deputi Menlu Rusia, Gennadiy Gatilov menilai draf yang diusulkan negara-negara Arab tidak seimbang dan berat sebelah, oleh karena itu Moskow menolaknya. Dijadwalkan, voting mengenai rancangan resolusi prakarsa Dewan Kerjasama Teluk Persia akan segara dilakukan.

Di luar hasil yang akan diputuskan Dewan Keamanan PBB terhadap prakarsa anti-Yaman, yang jelas Arab Saudi sebagai pemimpin negara-negara di pesisir Teluk Persia menggunakan seluruh saluran politik untuk mewujudkan ambisinya di negara tetangganya. Riyadh menggunakan Dewan Kerjasama Teluk Persia sebagai alat politik untuk mendesak Dewan Keamanan PBB mengeluarkan izin serangan darat ke Yaman.

Tampaknya, Arab Saudi bertumpu pada dukungan penuh AS yang menjadi anggota tetap Dewan Keamanan. Apalagi Washington menghendaki pertempuran di Yaman semakin berkobar demi kepentingan ekonomi politiknya. Indikasinya bisa dilihat dari sikap pasif AS mereaksi agresi militer udara Arab Saudi dan sekutunya di Yaman. Deputi Menlu AS dalam statemennya menyatakan Washington akan segera mengirim senjata bagi Arab Saudi untuk menyerang Yaman. Antony Blinken dalam pertemuan dengan sejumlah pejabat Arab Saudi mengatakan, AS akan meningkatkan pertukaran informasi intelejen dengan pasukan operasi “Badai Mematikan” terhadap Yaman.

Agresi militer Saudi dan sekutunya di Yaman selama dua pekan terakhir menyebabkan warga sipil, termasuk anak-anak dan perempuan menjadi korban utamanya. UNICEF dalam laporan terbarunya mengingatkan ancaman terjadinya tragedi kemanusiaan di Yaman. UNICEF menegaskan, keamanan anak-anak berada dalam ancaman serius. Pernyataan organisasi PBB ini mengemuka di saat sekolah, rumah sakit dan rumah penduduk Yaman menjadi sasaran serangan udara Saudi dan sekutunya.

Meskipun berbagai fakta getir ini telah menunjukkan dengan jelas dampak negatif agresi militer Saudi dan sekutunya di Yaman. Tapi ironisnya, PBB dan organisasi internasional bersikap pasif dan membiarkan sepak terjang destruktif Riyadh di negara tetangganya sendiri. Alih-alih mengeluarkan kecaman dan tindakan tegas terhadap agresi militer Saudi dan sekutunya di Yaman, sikap pasif PBB membuat Riyadh semakin agresif meningkatkan lobi di Dewan Keamanan melalui lampu hijau AS untuk mempengaruhi opini publik dunia terhadap transformasi Yaman. Sejatinya, jika masalah ini tidak disikapi secara serius, maka akan terjadi krisis kemanusian baru di Yaman, yang dimainkan oleh dua aktor utama; Saudi dan Amerika Serikat.

(ARN)

About ArrahmahNews (12186 Articles)

Media Pencerahan Rakyat

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: