Arab Saudi Tagih Dukungan Indonesia Soal Yaman

Saudi-Tagih-Dukungan-IndonesiaArrahmahnews.com - Pemerintah Arab Saudi meminta dukungan dari Pemerintah Indonesia atas serangan yang dilakukan terhadap Yaman. Permohonan itu disampaikan Duta Besar Arab Saudi untuk Indonesia, Mustafa Ibrahim Al Mubarak seusai menerima pernyataan dukungan dari sejumlah ulama di kediamannya, Jalan Teuku Umar, Jakarta, Sabtu, 11 April 2015. “Tentu saja saya gembira mendapat dukungan dari para ulama, dukungan yang sama juga kami harapkan dari pemerintah Indonesia,” kata Mustafa dalam konferensi pers.

Sejumlah ulama yang hadir dalam acara tersebut antara lain Imam Mesjid Istiqlal Jakarta Ali Mustafa Yakub, Ketua Persatuan Ulama dan Dai se-Asia Tenggara Muhammad Zaituhi, Ketua Umum Persatuan Islam Maman Abdurrahman, Ketua Al Irsad Yusuf Usman Baisa, Cholil Nafis dari MUI yang juga berasal dari kalangan Nahdlatul Ulama.

Dalam pertemuan yang juga menghadirkan puluhan wartawan tersebut, Mustafa mengungkapkan latar belakang Operasi Decisive Storm yang dipimpin oleh negara Arab Saudi.

Nafis yang mengatakan dia mewakili umat muslim Indonesia menyatakan memahami latar belakang serangan Arab Saudi dan negara-negara Teluk ke Yaman. Namun Nafis mengingatkan untuk sedapat mungkin menghindari korban dari warga sipil. “Yang paling penting juga adalah menjaga persatuan Yaman,” kata Cholil.

Mustafa menyatakan serangan yang dipimpin negaranya hanya ditujukan kepada kantong-kantong wilayah yang diduduki Houthi. Arab pun sedapat mungkin menghindari korban warga sipil.

Serangan itu akhirnya dilancarkan setelah sejumlah upaya dialog antara Houthi dan pemerintah Presiden Abdu Rabuh Mansour Hadi gagal. “Houthi malah menggelar pasukan di perbatasan dengan Arab Saudi di Jizan,“ kata Mustafa.

Operasi Decisive Storm merupakan gabungan dari Arab Saudi, Bahrain, Uni Emirat Arab, Qatar, dan Kuwait. Operasi tersebut merespons seruan permintaan bantuan dari Presiden Mansour di Konferensi Kerja Sama Negara-negara Teluk, Riyadh, pada 7 Maret 2015 lalu.

Milisi Houthi yang memberontak sejak 2004 akhirnya menguasai Ibukota Sanaa dan menduduki Istana Kepresidenan pada September 2014. Mereka juga mengejar Presiden Mansour yang melarikan diri ke Aden, lalu mengungsi ke Riyadh.

Pemerintah Indonesia tidak pernah menyatakan dukungannya terhadap serangan pimpinan Arab Saudi. Sebaliknya, Indonesia menyesalkan terjadinya kembali korban sipil dalam pertikaian di Yaman. Pemerintah Indonesia terus menyerukan agar semua pihak menahan diri dan memperhatikan keselamatan warga sipil, baik itu warga Yaman maupun warga asing.

Pada beberapa kesempatan dan melalui Wakil Tetap RI di Perserikatan Bangsa-bangsa, Menteri Luar Negeri Retno Lestari Priansari Marsudi meminta kepada semua pihak di Yaman agar memberlakukan jeda kemanusiaan (humanitarian pause) guna memberikan kesempatan bagi warga sipil dievakuasi keluar dari Yaman. Kesempatan ini akan digunakan oleh Pemerintah RI untuk melakukan evakuasi WNI secepatnya dari Yaman.

Mustafa menyatakan permintaan jeda kemanusiaan telah disampaikan Kementerian Luar Negeri RI dan telah diteruskan kepada pemerintahnya di Arab Saudia . Namun belum ada tanggapan. Mustafa menegaskan meski demikian negara-negara seperti India dan Indonesia berhasil mengevakuasi ribuan warganya tanpa ada yang luka. [ARN/Tempo]

About ArrahmahNews (12171 Articles)

Media Pencerahan Rakyat

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: