Kupas Tuntas Kejahatan ISIS (4)

ARN0012004001587-Kejahatan-ISIS-4Arrahmahnews.com - Pasca gerakan Kebangkitan Islam yang mengguncang negara-negara despotik Tunisia, Mesir dan Libya, Turki tampil untuk mengesankan sebagai “bapak” gerakan tersebut dan memimpinnya. Oleh karena itu, tak lama berselang setelah tumbangnya rezim Hosni Mubarak di Mesir, Recep Tayyib Erdogan yang saat itu sebagai perdana menteri, berkunjung ke Kairo dan meminta para revolusioner negara itu untuk menjadikan pemerintah Turki sebagai model pemerintahan politik mendatang mereka.

Partai Keadilan dan Pembangunan (AKP) yang berkuasa di Turki, karena dekat dengan gerakan Ikhwanul Muslimin, memiliki hubungan sangat erat dengan partai Mesir itu setelah berhasil mengantongi suara terbanyak di parlemen dan juga meraih kursi kepresidenan oleh Muhammad Morsi. Pemerintah Erdogan juga berupaya memanfaatkan krisis demonstrasi Suriah demi tujuan ambisiusnya merevivalisasi rezim Ottoman dan perluasan pengaruh Turki.

Atas dasar itu, Ankara mengubah gerakan reformasi di Suriah sebagai gerakan penggulingan pemerintah Suriah. Mendadak bermunculan kelompok-kelompok oposisi di Suriah bak jamur yang nama mereka bahkan tidak pernah terdengar sebelum transformasi baru di Suriah. Secara perlahan, di samping kelompok-kelompok oposisi, terbentuk pula kelompok-kelompok beranggotakan para anasir dari berbagai negara asing dan memiliki pemikiran terbelakang Takfiri.

Medan operasi kelompok-kelompok tersebut di Suriah semakin meluas yang secara otomatis mempersempit medan operasi kelompok-kelompok oposisi. Sedemikian rupa sampai kelompok oposisi akhirnya berusaha membentuk sebuah pemerintahan di pengasingan dan menyatakan tidak dapat membentuk kantor di dalam Suriah karena perselisihan tajam dengan kelompok-kelompok Takfiri.

Pemerintah Turki mendukung kedua kelompok tersebut. Dukungan politik dan finansial pemerintah Turki kepada kelompok oposisi Suriah sedemikian kentara sehingga secara berkala digelar sidang di Istanbul untuk mewujudkan koordinasi dan persatuan dalam barisan kelompok oposisi. Akan tetapi rangkaian sidang tersebut tidak membuahkan hasil karena perselisihan politik yang sangat tajam. Sejak awal mereka tidak memiliki itikad baik yang sama dengan apa yang dituntut masyarakat Suriah, dan masing-masing mengupayakan kepentingan politik dan finansial serta memperebutkan kekuasaan.

Akan tetapi dukungan Turki terhadap kelompok-kelompok Takfiri dan teroris seperti ISIS dan Front al-Nusra, berlanjut secara intensif namun diupayakan tetap terselubung. Meski pun demikian, dukungan tersebut tidak dapat disembunyikan dari pantauan para pengamat. Ketika Amerika Serikat berselisih pendapat dengan Turki soal berlanjutnya dukungan terhadap ISIS, Wakil Presiden Amerika Serikat, Joe Biden, dengan tegas memaparkan dukungan Turki, Arab Saudi dan Uni Emirat Arab terhadap ISIS.

Kelompok-kelompok Takfiri memiliki anggota dari 86 negara dunia khususnya Arab, Kaukasus dan Eropa. Setelah memasuki Turki, mereka melalui tahap pelatihan militer di kamp-kamp pelatihan di dalam Turki, kemudian dikerahkan menuju Suriah untuk menebar kejahatan. Dalam hal ini terdapat berbagai rekaman dan dokumen, namun yang paling terpenting adalah pengakuan Joe Biden.

Televisi Turki sebelumnya mengungkapkan bahwa di jalan-jalan Fatih di Istanbul, Turki, telah dibuka sebuah kantor ISIS yang secara terang-terangan mengumpulkan bantuan dan dana untuk para teroris dan juga menerima pendaftaran calon anggota untuk dikirim ke Irak dan Suriah. Berdasarkan laporan ini, terdapat sejumlah kamp dan pangkalan pelatihan anasir ISIS di Turki yang salah satunya adalah kamp Gaziantep. Kamp Urufa di tenggara Turki juga merupakan kamp pelatihan lain untuk para anasir ISIS. Para teroris ISIS keluar dari kamp tersebut untuk menyerang kota perbatasan Kessab di Suriah, yang mayoritasnya adalah warga Kristen.

Adapun kamp al-Utsmaniya di Adana, selatan Turki, adalah kamp ketiga yang digunakan ISIS. Kamp itu berposisi di dekat pangkalan udara terbesar Amerika Serikat di Turki. Menariknya, kamp tersebut juga sangat dekat dengan persimpangan jalur pipa gas dari Irak dan Asia Tengah. Jalur pipa tersebut membentang hingga pelabuhan Jihan di sisi laut Mediterania.

Masih ada pula kamp Kerman di Adana yang berdekatan dengan perbatasan Suriah. Televisi CNN akhir tahun lalu dalam sebuah laporannya menayangkan film dokumentasi tentang penyusupan para anasir asing ke wilayah perbatasan Suriah melalui Turki. Reporter CNN merekam para anasir ISIS asal Mauritania, Libya, Mesir, Arab Saudi dan Inggris yang direlokasi ke wilayah perbatasan Hatay di dekat perbatasan Suriah. Dalam hal ini, para jurnalis dan wartawan Turki telah mengkonfirmasikan perubahan wilayah perbatasan Turki dan Suriah menjadi jalur lalu-lalang para teroris. Mereka juga berpendapat bahwa lembaga-lembaga intelijen Turki bekerjasama dengan para teroris.

Kelompok ISIS adalah kelompok teroris terbesar dan terkaya di dunia yang tidak mungkin mencapai posisi tersebut tanpa dukungan Turki. ISIS memiliki berbagai sumber dana. Arab Saudi, Qatar dan Uni Emirat Arab merupakan para penyokong dana terbesar ISIS. Salah satu sumber pendapatan ISIS adalah penjualan minyak di wilayah-wilayah yang dikuasainya di Suriah dan Irak. Kelompok Takfiri ISIS dengan menyelundupkan minyak yang mereka curi dari Suriah dan Irak serta merelokasinya ke Turki, mengantongi dana besar dari penjualan minyak di pasar gelap.

Hubungan pemerintah Turki dengan salah satu pangeran Saudi pendonor ISIS menunjukkan dukungan nyata baik secara terang-terangan maupun tersembunyi Turki terhadap kelompok teroris. Pemerintah Ankara berusaha menepis hubungan tersebut akan tetapi berbagai laporan di koran-koran Turki mengungkap hubungan itu.

Yasin al-Qadhi, seorang milyarder Saudi, terkenal sebagai pendukung kelompok-kelompok teroris di dunia. Pasca serangan 11 September 2001, dia dan beberapa orang lain termasuk dalam daftar para teroris internasional yang dilarang masuk ke banyak negara, dan Turki juga termasuk di antaranya. Namun pada awal tahun ini, terpublikasi foto-foto pertemuan al-Qadhi dengan Erdogan dan juga dengan putra Erdogan bernama Bilal.

Pada tahun 2012, al-Qadhi empat kali berkunjung ke Turki dan Erdogan menyambut kedatangannya setelah menginstruksikan pemutusan seluruh kamera CCTV di bandara Istanbul. Dalam proses penyidikan hukum, Erdogan menghindar menyebut al-Qadhi sebagai seorang teroris dan mengatakan, “Sama seperti saya yakin pada diri saya sendiri, saya juga yakin kepada bapak al-Qadhi, dia adalah seorang dermawan.”

Koran Jumhuriyet terbitan Turki menulis, al-Qadhi berkunjung ke Turki sebanyak 12 kali dan tujuh di antaranya adalah dengan bantuan Erdogan, karena nama dia termasuk dalam list para teroris. Koran itu, memampang foto pertemuan al-Qadhi dengan Erdogan dan juga Ketua Dinas Rahasia Turki, seraya menambahkan, “Di saat polisi Turki mencari al-Qadhi, dia bertemu dengan  perdana menteri [kala itu]”. [ARN]

About ArrahmahNews (12190 Articles)

Media Pencerahan Rakyat

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: