Kupan Tuntas Kejahatan ISIS (6)

ARN0012004001586-Kejahatan-ISIS-3Arrahmahnews.com - Sebagian anasir ISIS adalah para warga Sunni yang tidak puas terhadap kinerja pemerintah pusat Irak dan juga eks- militer rezim Baaths yang telah dibubarkan pasca pendudukan negara itu oleh Amerika Serikat pada 2003. Al-Qaeda dan kemudian ISIS memanfaatkan secara maksimal jurang etnis, mazhab, politik dan ekonomi di antara warga Irak yang tidak puas, untuk menjadi anggota mereka. Dalam hal ini, peran pemerintah Arab Saudi, Turki dan Uni Emirat Arab tidak boleh diabaikan dalam mengiringi politik AS di Timur Tengah. Mereka menilai terbentuknya pemerintah pusat yang kokoh dan demokratis berdasarkan suara rakyat di Irak, bertentangan dengan kepentingan mereka.
Oleh karena itu, Arab Saudi, Turki dan UEA berusaha membesar-besarkan perselisihan etnis, mazhab dan politik di Irak untuk mencegah pembentukan pemerintahan tersebut di Baghdad. Pengokohan kelompok-kelompok teroris dan Takfiri di Irak juga mengacu pada tujuan yang sama. Sejak deklarasi eksistensi kelompok teroris Takfiri ISIS hingga kini ribuan pemuda dari berbagai negara telah bergabung dengan kelompok itu di Suriah dan Irak dengan alasan jihad.

Pertanyaannya adalah alasan apa yang membuat seorang warga biasa dapat bergabung dalam barisan kelompok teroris Takfiri bersenjata seperti ISIS atau kelompok-kelompok lain yang aktif di Suriah seperti Front al-Nusra?  Motivasi mereka yang datang dari berbagai belahan dunia khususnya dari negara-negra Arab untuk bergabung dengan ISIS adalah motivasi sektarian. Mereka yang terpengaruh oleh pemikiran Wahabi, memiliki potensi besar untuk bergabung dengan kelompok-kelompok teroris Takfiri.

Sekolah dan madrasah Wahabi mendidik anak dan remaja dengan ajaran yang tidak sesuai dengan pinsip dan nilai-nilai luhur Islam yang membangun manusia dan bersemangat keadilan. Apa yang diajarkan dalam sekolah-sekolah itu pada hakikatnya adalah pemupukan benih kebencian dan dendam kepada para pengikut mazhab Islam lainnya. Mengingat mazhab-mazhab Islam lain, menentang pemikiran anti-Islam Wahabisme.

Pihak-pihak Wahabi dengan menggunakan “dolar petrol” Arab Saudi, berpropaganda secara luas di berbagai negara Islam dan juga di masyarakat Barat di mana kaum Muslim sebagai mayoritas, untuk menarik perhatian mereka. Dengan membangun sekolah-sekolah serta pusat kegiatan keagamaan, mereka berusaha mengumpulkan kekuatan para pemuda. Pemikiran terbelakang Wahabi umumnya diterima oleh kelompok masyarakat yang miskin dan tidak puas atas kondisi yang ada.

Setelah upaya Barat menyulut krisis di Suriah memuncaknya, para mufti Wahabi Arab Saudi mengeluarkan berbagai fatwa yang jelas-jelas bertentangan dengan syariat Islam dan menimbulkan penistaan terhadap agama samawi ini. Termasuk di antara fatwa tersebut adalah “jihad nikah.” Dalam Islam para mufti harus mengeluarkan fatwa sesuai pedoman al-Quran dan sirah Rasulullah Saw. Salah satu perbedaan antara Ahlussunnah dan Syiah adalah terkait sumber-sumber fiqih.

Kaum Syiah selain al-Quran dan sirah Rasulullah Saw, juga meyakini akal dan ijma’ sebagai sumber fiqih. Akan tetapi para mufti Wahabi Arab Saudi yang mengklaim sebagai pengikut sirah dan sunnah Rasulullah Saw, terkadang merilis fatwa yang bukan hanya bertentangan dengan al-Quran dan sunnah Nabi, melainkan tidak masuk akal. “Jihad nikah” adalah dosa besar dalam Islam dan menurut Ayatullah Makarem Shirazi, seorang marji’ taqlid Syiah, itu sama dengan “jihad prostitusi”. Pada hakikatnya jihad nikah adalah perbudakan seks dengan menyematkan label syariat.

Sekelompok perempuan dari berbagai negara bahkan dari Eropa dikirim ke Suriah setelah temakan tipuan fatwa para mufti Wahabi. Banyak di antara mereka setibanya di Suriah dan Irak berhadapan dengan fakta-fakta mengerikan. Mereka menyadari bahwa Islam telah menjadi mainan di tangan sekelompok manusia fasid dan jahat untuk melampiaskan keinginan setan mereka. Jihad nikah adalah justifikasi alasan bagi kelompok-kelompok yang melakukan kebejatan tersebut.

Puluhan ribu orang dari berbagai negara bergabung dengan ISIS dapat dibagi dalam berbagai kelompok. Kelompok pertama adalah mereka yang tertipu ISIS dan beranggapan bahwa kelompok itu berjuang demi menegakkan sunnah Rasulullah Saw. Banyak di antara mereka yang tetap beranggapan seperti itu dan melanjutkan berbagai kejahatan anti-kemanusiaan mereka. Adapun mereka yang menyadari eksistensi ISIS dan ingin pulang ke rumah, kepala mereka dipenggal atau dieksekusi. Ada pula yang berhasil melarikan diri. Mereka itulah yang kemudian membeberkan borok dan kebejatan ISIS. Sekiranya tiada ada satu pekan berlalu tanpa berita pemenggalan kepala korban ISIS.

Kelompok lainnya yang jumlah mereka tidak sedikit, adalah para kriminal dan penjahat yang terkenal di negara mereka dan telah menghabiskan usia mereka di balik jeruji besi atas kejahatan mereka. Kelompok ini bergabung dengan ISIS demi uang.  Jurnal The Economist dalam sebuah artikelnya menyinggung motivasi warga Barat untuk bergabung dengan ISIS dan berperang di Suriah dan menyatakan, “Tidak ada yang tahu, mungkin orang-orang Barat yang bergabung dengan ISIS adalah para pembunuh yang sebelumnya berjalan-jalan di Perancis, Inggris dan Amerika Serikat.”

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dalam laporannya bulan November tahun lalu menyebutkan bahwa jumlah warga asing  yang bergabung dengan ISIS mencapai 15 ribu orang. Turki menjadi gerbang utama mereka untuk bergabung dengan kelompok teroris Takfiri itu.  Disebutkan bahwa sebanyak 4.000 warga Turki bergabung dengan ISIS. Politik konfrontatif pemerintah Turki terhadap Suriah berpengaruh penting dalam hal ini.

Sebuah kelompok atau lembaga memerlukan kesatuan keyakinan atau kriteria kolektif untuk menjamin kelanjutan esksistensi mereka, namun hal itu tidak ditemukan dalam ISIS, mengingat kelompok ini tidak memiliki keselarasan keyakinan dan ideologi di antara para anggotanya. Mereka dengan pemikiran menyimpang dan pemahaman keliru dari Islam, mereka berusaha memperkenalkan diri sebagai Muslim sejati. Akan tetapi aksi-aksi mereka bahkan bertentangan dengan keyakinan keliru, fanatik dan buta mereka sendiri.

Sebagian besar anasir ISIS, khususnya para anggota senior, kehidupan mereka dipenuhi dengan kejahatan, kezaliman dan kemaksiatan. Di wilayah mana pun mereka tinggal, identitas mereka telah diketahui oleh warga setempat dan oleh karena itu mereka telah mengundang kemarahan dan penentangan warga lokal yang pada akhirnya bergabung dengan militer.

Akan tetapi salah satu alasan di balik berlanjutnya eksistensi kelompok teroris ini dan bahkan dapat merekrut anasir baru, adalah dana dan uang yang didapatkan dengan merampas kekayaan publik dan juga penjualan minyak secara ilegal di pasar gelap. Perlu diketahui bahwa para gembong ISIS memberikan uang bayaran lebih besar kepada anggotanya yang datang dari negara-negara Barat.

Namun sekarang menyusul berbagai keberhasilan militer dan pasukan relawan, kelompok ISIS sekarang dalam posisi pasif dan defensif. Mereka juga sedang kehilangan berbagai wilayah yang sebelumnya  mereka kuasai. Ini berarti berkurangnya sumber dana dan semakin lemahnya mentalitas para anggotanya. Aksi pembantaian korban dengan berbagai macam cara sadis juga menunjukkan betapa ISIS kebingungan bagaimana harus mengendalikan kekuatannya yang sedang terurai dan melemah. [ARN]

About ArrahmahNews (12190 Articles)

Media Pencerahan Rakyat

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: