Kupas Tuntas Kejahatan ISIS (5)

ARN0012004001586-Kupas-Tuntas-Kejahatan-ISIS-4Arrahmahnews.com - Kelompok ISIS sebenarnya dapat disebut sebagai kepanjangan tangan Al Qaeda. Organisasi ini sendiri dibentuk oleh para petempur yang umumnya berasal dari negara-negara Arab untuk memerangi Tentara Merah Uni Soviet di Afghanistan. Pada masa itu, Al Qaeda memperoleh dukungan dari dinas-dinas intelijen Pakistan, Amerika Serikat, dan Inggris, serta beberapa negara Arab terutama Arab Saudi. Dengan berbekal dukungan itu, Al Qaeda bersama kelompok Taliban menentang pemerintahan Mujahidin di Afghanistan. Pemerintah Mujahidin di Kabul digulingkan dan Taliban berhasil menguasai 90 persen dari wilayah Afghanistan.

Taliban dan Al Qaeda di Afghanistan mengatur roda pemerintahan seperti era Abad Pertengahan dengan mengadopsi pemikiran yang kaku dan ekstrim atas nama Islam. Kedua kelompok ini mendapat dukungan penuh dari AS, Barat, Pakistan, dan Arab Saudiselama masih menjalankan kebijakan-kebijakan mereka.Taliban dan Al Qaeda bahkan diizinkan untuk membuka beberapa kantor cabang di negara-negara tersebut. Akan tetapi, semua berubah setelah peristiwa 11 September 2001 di AS. Taliban dan Al Qaeda yang menganut ideologi Wahabisme Saudi, secara mendadak berubah menjadi organisasi terorisme terbesar yang mengancam keamanan global.

Kubu Neo-Konservatifyang berkuasa di Gedung Putih melancarkan serangan ke Afghanistan dan kemudian ke Irak dengan alasan memerangi terorisme. Akan tetapi, kampanye militer AS selain tidak mengurangi aktivitas kelompok teroris, tapi malah memperbesar potensi ancaman terorisme. Ribuan warga sipil di Afghanistan dan Irak menjadi korban terorisme dan ancaman teror masih terus membayangi mereka. Rakyat Afghanistan dan Irak dari satu sisi menjadi sasaran brutalisme tentara Amerika dan dari sisi lain, mereka menjadi target serangan kelompok-kelompok teroris serta Taliban dan Al Qaeda.

Pada dasarnya, intervensi militer AS di Afghanistan dan Irak selama 13 tahun lalu telah mendorong penguatan basis-basis gerakan ekstrimisme dan terorisme.Kelompok ISIS lahir di tengah meningkatnya ketegangan, krisis, dan instabilitas di Irak. Pembubaran militer Irak oleh AS setelah menduduki negara itu dan upaya untuk mengobarkan konflik sektarian dan etnis, telah membuka peluang bagi terbentuknya embrio kelompok-kelompok ekstrim di Irak.

Terdapat dua pandangan mengenai esensi kelompok teroris ISIS. Golongan pertama menilaipembentukan kelompok takfiri dan terorisme dipicu oleh perpercahan etnis dan sektarian serta ketidakefektifan pemerintah pusat Irak di Baghdad.Sementara golongan kedua percaya bahwa kelompok ISIS diciptakan oleh dinas-dinas keamanan AS melalui bantuan sekutunya di Timur Tengah, khususnya Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Turki. Sejarah kemunculan ISIS menyebutkan bahwa kedua faktor tersebut berperan dalam proses kelahiran kelompok itu.

Sebenarnya, AS dan sekutu regionalnya telah memanfaatkan perpecahan etnis dan sektarian di Irak untuk memperluaspertumpahan darah di Negeri Kisah 1001 Malam itu dan membentuk kelompok-kelompok takfiri dan terorisme di Irak dan Suriah.

Kelompok “Jamaat al-Tawhid wal-Jihad” pimpinan Abu Musab al-Zarqawi mengumumkan kemunculannya pasca pendudukan Irak oleh militer AS. Zarqawi telah berbaiat kepada Osama bin Laden dan menyatakan kelompok Jamaat al-Tawhid wal-Jihad sebagai cabang Al Qaeda di Irak. Pada tahun 2006, Zarqawi dalam sebuah rekaman video mengabarkan pembentukan Syura Mujahidin yang dipimpin oleh Abu Abdullah al-Rashid al-Baghdadi.Di akhir 2006, kelompok “Daulah Islam Irak” juga dibentuk di bawah pimpinan Abu Omar al-Baghdadi. Pada tahun 2010, Abu Omar al-Baghdadi dan Abu Hamza al-Muhajirtewas dalam operasi gabungan pasukan Irak dan AS.

Setelah Omar al-Baghdadi tewas, Abu Bakr al-Baghdadi ditunjuk untuk memimpin Daulah Islam Irak. Dia kemudian memperluas operasi teror dan melakukan serangan terorganisir. Bersamaan dengan pecahnya krisis di Suriah, anasir-anasir kelompok Daulah Islam Irak mulai melebarkan zona operasinya sampai ke Suriah. Pada akhir 2011 dan bersamaan dengan dimulainya krisis Suriah,Jabhat al Nusrah li Ahli Syam (Front al-Nusra) didirikan sebagai cabang Daulah Islam Irak dan dengan cepat berubah menjadi salah satu kelompok berpengaruh di medan tempur Suriah.

Pada 2013,Abu Bakr al-Baghdadidalam sebuah pesan suara mengumumkan penggabungan Front al-Nusra ke dalam kelompok Daulah Islam Irak. Dengan begitu,kelompok Negara Islam Irak dan Suriah resmi berdiri dan lebih dikenal dengan sebutan ISIS atau Daesh.

Seiring perjalanan waktu, muncul perbedaan pandangan antara Abu Bakr al-Baghdadi dan Ayman al Zawahiri.Baghdadi kemudian mengumumkan bahwa ISIS bukan lagi bagian dari Al Qaeda. Pertempuran antara pasukan ISIS dan Front al-Nusra berkobar di Suriah dan ratusan orang dari anggota kedua kelompok tersebut tewas dalam perang.Oleh sebab itu, ISIS memindahkan fokus operasinya dari Irak ke Suriah dan kemudian kembali ke Irak setelah gagal dalam pertempuran dengan pasukan Presiden Bashar al-Assad.

Kelompok ISIS dengan mudah menduduki Kota Mosul dan beberapa wilayah lain di Irak. Mereka memanfaatkan isu perpecahan etnis dan sektarian serta pengaruh anasir Partai Baath di tubuh militer dan lembaga keamanan Irak. Pasukan ISIS merupakan gabungan dari anggota Partai Baath dan kelompok Sunni yang terpengaruh oleh propaganda ISIS.Pasca invasi Irak pada 2003, penguasa sementara Baghdad, Paul Bremer mengeluarkan sebuah perintah untuk membubarkan militer Irak karena ia khawatir akan dikudeta oleh sisa-sisa Partai Baath.

Militer Irak menguasai banyak sektor strategis di era rezim Saddam Hussein dan setelah dibubarkan,mayoritas pejabat tinggi militer menjadi pengangguran. Diperkirakan hampir 110-160 ribu tentara Saddam sekarang berada di tiga provinsi Irak yang dikuasai ISIS.Ketiga wilayah itu adalah Provinsi al-Anbar dengan Ibukota Fallujah, Provinsi Nainawa dengan Ibukota Tikrit, dan Provinsi Salaheddin dengan Ibukota Mosul.

Tentu saja, tidak semua mantan pasukan Saddam bergabung dengan kelompok ISIS. Namunwilayah tersebut siap untuk merekrut anggota baru ISIS. Ketidakpuasan masyarakat Sunni, kehadiran sisa-sisa Partai Baath, dan kemunculan kelompok radikal Suriah, telah membentuk kekuatan utama pasukan ISIS. Kelompok ISIS dalam waktu singkat dan dengan 1.500 kekuatan berhasil menduduki Mosul pada Juni 2014 dan kemudian dengan cepat menguasai kota-kota lain di Irak.

Perkembangan itu terjadi karena adanya pengkhianatan di tubuh militer dan lembaga keamanan Irak, kekecewaan masyarakat Sunni yang merasa dipinggirkan dari kancah politik dan ekonomi negara itu, dan perselisihan di tengah gerakan-gerakan politik Syiah di Irak. Pendudukan wilayah yang luas khususnya sumber-sumber minyak Irak, telah membantu kelompok ISIS untuk memiliki pundi-pundi pendanaan independen.

ISIS memperoleh pendapatan besar dari hasil penjualan minyak di Provinsi Raqqa, Suriah dan beberapa provinsi di wilayah utara Irak. Dana ISIS juga bersumber dari hasil penjarahan kas keuangan pemerintah Irak dan Suriah serta perampasan masyarakat. ISIS juga mengumpulkan dana dari pemungutan pajak dari pedagang dan mafia-mafia lokal yang terlibat jaringan penyelundupan. Dana besar tersebut membantu ISIS untuk membeli senjata baru dan modern di pasar gelap.

Menurut laporan sejumlah media, pendapatan ISIS dari penjualan minyak Irak dan Suriah sebelum serangan koalisi internasional terhadap posisi mereka, mencapai 800 juta dolar per tahun atau sekitar 2 juta dolar per hari. Para pakar minyak mengatakan, “ISIS menguasai tujuh sumur minyak dan dua kilang minyak di utara Irak, serta enam sumur dari 10 sumur minyak Suriah, khususnya di Provinsi Deir ez-Zor.”ISIS menjual minyak jarahannya dengan harga rendah untuk menarik para pembeli. Dilaporkan bahwa harga minyak ISIS di pasar gelap separuh dari harga minyak di pasar dunia. [ARN]

About ArrahmahNews (12209 Articles)

Media Pencerahan Rakyat

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: