NewsTicker

Ketika Agama Dijadikan Kendaraan Meraih Kekuasaan

ARN00120040015172_Agama_PolitisasiArrahmahnews.com - Kerusakan bermula ketika agama dijadikan kendaraan untuk meraih tahta atas nama Tuhan. Seandainya Nabi menganggap kekuasaan sebagai tujuan tentu  beliau --yg digelari Al Amin oleh masyarakatnya sebagai penghormatan atas teladan luar biasa beliau-- akan menerima tawaran pemuka Arab Qurays untuk menjadi Raja dengan bonus harta dan wanita. Tetapi beliau menolak tawaran transaksional tersebut dan beliau kemudian dikucilkan, diembargo, dimusuhi, diancam, diteror lalu akhirnya beliau hijrah meninggalkan tanah kelahiran beliau saaw.

Di Medinah pun beliau memberi contoh bagaimana menjadi warga masyarakat beradab dan berbudaya yang mulia.

Beliau mempersaudarakan dan mempersatukan penduduk medinah dengan cara yg elegan, musyawarah yg menempatkan setiap orang dalam kedudukan yg sejajar. Penghargaan terhadap keragaman agama dan keyakinan. Piagam Madinah adalah kontrak sosial di antara sesama penduduk Madinah yg menjamin keamanan dan kesejahteraan semua anggotanya tanpa melihat latar belakang agamanya.

Nabi dalam waktu singkat berhasil membangun masyarakat yg berbudaya dan beradab (madain). Keberhasilan ini mengkhawatirkan kaum kafir Quraisy yg kemudian menyerang ke Madinah. Allah kemudian mengizinkan nabi untuk membela diri dan menolongnya dengan pertolongan yang kokoh (nashran aziiza).

Nabi tidak pernah memaksakan penerapan hukum Islam kepada penduduk Madinah. Kita harus membedakan antara hukum syariat yang berlaku secara internal pada masing-masing kelompok agama (dan mazhab) dan hukum positif yang diterapkan secara menyeluruh kepada semua penduduk (hablun minannas). [ARN]

 

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: