Kupas Tuntas Kejahatan ISIS (7)

ARN001200400151112_ISISArrahmahnews.com - Sebelumnya kita sudah berbicara tentang komponen pembentuk ISIS serta peran negara-negara Barat dan sekutu regional mereka dalam menciptakan kelompok itu. Namun untuk melihat lebih jauh tentangperan mereka dalam membentuk dan mempersenjatai ISIS untuk mengacaukan Irak dan Suriah, kita akan mengkaji mengenai sumber-sumber finansial, persenjataan, dan pelatihan pasukan ISIS. Kajian ini akan menyingkap peran negara-negara Barat – sebagai pihak yang mengaku memerangi terorisme –dalam membentuk dan mempersenjatai organisasi terorisme terbesar di dunia ini.

Tanpa sebuah jaringan yang kuat untuk menjamin pendanaan, persenjataan, dan pelatihan para petempur yang datang dari berbagai penjuru dunia, tentu saja mustahil bagi ISIS untuk bisa menguasai banyak daerah di Suriah dan Irak dalam waktu singkat. Pundi-pundi keuangan militan ISIS umumnya dijamin oleh para pangeran Arab Saudi yang disalurkan melalui Qatar, Uni Emirat Arab, dan Kuwait. Sebagian dari dana itu ditransfer melalui bank-bank di Barat untuk memenuhi kebutuhan senjata dan logistik yang diperlukan oleh pasukan ISIS.

Profesor Guenter Meyer, Direktur Pusat Riset Dunia Arab (CERAW) di Universitas Mainz Jerman, percaya bahwa negara-negara Arab di Teluk Persia terutama Arab Saudi, Qatar, Kuwait, dan Uni Emirat Arab merupakan sumber utama pendanaan kelompok ISIS. Berkenaan dengan dukungan finansial Saudi untuk kelompok ISIS, Institut Washington untuk Kebijakan Timur Dekat (WINEP) dalam sebuah artikel yang ditulis oleh Lori Plotkin Boghardt menyebutkan, “Demi memastikan sampainya bantuan finansial ke tangan kelompok-kelompok teroris yang beroperasi di Suriah, pemain asing meminta para penyumbang dana di Saudi untuk memindahkan bantuan ke Kuwait, karena Kuwait merupakan salah satu negara Arab yang paling bisa dipercaya di Teluk Persia untuk menyampaikan bantuan itu kepada teroris.”

Menurut tulisan di situs WINEP, kelompok ISIS selain menikmati sokongan dana dari Arab Saudi, juga memiliki sumber pendanaan independen yang diperoleh dari hasil penjualan minyak, senjata, peninggalan sejarah, uang tebusan, dan aksi pencurian. Turki tentu saja memainkan peran dominan dalam kasus penyelundupan minyak dan penyaluran dolar hasil penjualan minyak itu kepada ISIS. Oleh karena itu, salah satu cara untuk melawan militan ISIS adalah memutus sumber-sumber finansial kelompok tersebut.

Namun sayangnya, koalisi Barat pimpinan Amerika Serikat untuk memerangi ISIS tidak memperhatikan masalah pemutusan sumber-sumber dana teroris. Hal ini menunjukkan bahwa mereka tidak memiliki tekad yang serius untuk menumpas ISIS dan pembentukan koalisi internasional anti-ISIS hanya untuk mengelabui opini publik.

Kajian mengenai sumber-sumber persenjataan ISIS semakin memperjelas tentang sejauh mana peran Barat dan sekutu mereka di Timur Tengah seperti, Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Qatar, dan Turki dalam mengandung dan melahirkan kelompok ISIS.Dalam sejumlah operasi yang dilakukan oleh militer dan pasukan sukarelawan Irak dan Suriah untuk membebaskan daerah-daerah yang dikuasai ISIS, berbagai jenis senjata ditemukan di markas ISIS mulai dari senjata buatan Cina, Rusia sampai senjata bikinan Amerika Serikat, Israel, dan beberapa negara Eropa.

Sebagian besar senjata buatan Rusia dan Cina diperoleh oleh militan ISIS setelah menguasai wilayah tertentu di Suriah atau Irak. Mereka menjarah senjata-senjata tersebut di gudang logistik militer. Namun, senjata-senjata Barat milik ISIS merupakan pemberian pemerintah Barat baik itu disalurkan secara langsung atau melalui perantara kepada kelompok teroris tersebut.

Majalah Foreign Policy milik Dewan Kebijakan Luar Negeri Amerika Serikat pada Oktober 2014, mempublikasikan sebuah artikel yang ditulis oleh Jeffrey Smith, tentang sumber-sumber persenjataan ISIS. Jeffrey Smithdalam artikel berjudul “Where Does the Islamic State Get Its Weapons?” menulis, “Kebanyakan senjata yang dipakai oleh kelompok ISIS di Irak dan Suriahdatang dari Amerika Serikat.” Laporan itu menambahkan,“Sebuah grup independen pemantau senjata telah mengumpulkan bukti-bukti yang menunjukkan bahwa militan ISIS menggunakan senjata dan amunisi yang diproduksi di 21 negara termasuk AS.”

Beberapa laporan intelijen menulis bahwa pendapatan ISIS dari penjualan minyak dan sumber-sumber lain terbilang tinggi sehingga mereka mampu membeli senjata dari perusahaan-perusahaan dan para broker, yang diuntungkan oleh perang di Timur Tengah. Dalam sebuah kajian lain, grup peneliti senjata militer yang bermarkas di London menerjunkan para pakarnya ke medan tempur untuk mengidentifikasi jenis dan sumber senjata dan kemudian mereka menyusun sebuah laporan berdasarkan temuan di lapangan.

Dalam laporannya, kelompok itu menguak fakta tentang sumber lebih dari 1.700 peluru dan amunisi yang dipakai dalam perang antara pasukan Kurdi dan ISIS di Irak Utara dan Suriah selama bulan Januari dan Agustus 2014. Menurut mereka, “AS juga merupakan salah satu pemasok utama senjata untuk ISIS. Sekitar 323 peluru dan amunisi adalah milik AS.”Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) juga pernah mengeluarkan laporan mengenai sumber-sumber senjata ISIS dan menemukan fakta bahwa gudang-gudang logistik ISIS telah penuh dengan berbagai jenis senjata ringan dan berat keluaran negara-negara dunia. Laporan itu juga menyinggung tentang ukuran dan luas gudang senjata yang dimiliki ISIS.

Para pakar PBB  percaya bahwa ISIS merupakan salah satu kelompok yang paling aktif bermanuver dan memperluas wilayah operasinya. Hal ini ditandai dengan keberadaan gudang-gudang senjata mereka yang tersebar luas di berbagai daerah. Berdasarkan penyelidikan PBB, gudang senjata ISIS menyimpan tank T-55 dan T-72, mobil Hummer yang bisa membawa rudal dari darat ke udara buatan AS, artileri anti-udara, bazooka, dan jenis-jenis lain.

Mayoritas pasukan ISIS merupakan para petempur yang sudah punya pengalaman perang di Libya dan beberapa negara lain yang dilanda krisis di Timur Tengah. Akan tetapi, pendatang baru dari Eropa, Amerika, dan beberapa negara Asia yang bergabung dengan ISIS, tidak memiliki pengalaman seperti itu dan mereka harus mengikuti pelatihan untuk mengeporasikan senjata-senjata modern. Berkenaan dengan pelatihan para pendatang baru itu, AS dan sekutunya di Eropa serta Timur Tengah memainkan peran penting dalam memperkuat posisi kelompok ISIS.

Pada tahun 2014, sejumlah perwira militer Turki ditangkap di sekitar Mosul, Irak. Mereka mengaku bahwa anasir-anasir teroris sedang menjalani latihan untuk melakukan operasi di Irak dan pelatihan mereka berada di bawah pengawasan para perwira Turki di Pangkalan Udara Incirlik. Pangkalan ini merupakan salah satu basis militer terbesar Amerika di luar negeri. Washington menyimpan sekitar 90 buah bom atom di pangkalan tersebut. Militan ISIS menerima pelatihan di pangkalan yang sangat strategis dan penting ini.

Kota Gaziantep juga merupakan salah satu lokasi lain untuk pelatihan pasukan ISIS di wilayah Turki. Koran al-Sabah Irak mengutip sumber-sumber terpercaya menulis, “Abu Bakr al-Baghdadi dan Shakir Wahib paling sedikit pernah menjalani pelatihan militer di kota itu selama dua tahun. Mereka juga beberapa kali melakukan perjalanan ke Israel dengan menggunakan maskapai EL AL Israel dan mengadakan pertemuan dengan para pejabat keamanan rezim Zionis.”

Sejumlah laporan juga menyingkap tentang peran dominan Mossad dan militer Israel dalam melatih pasukan ISIS. Meski pelatihan itu dilakukan sebagai dukungan untuk Tentara Bebas Suriah (FSA), namun faktanya menunjukkan langkah itu hanya kedok untuk menutupi misi memperkuat ISIS. Situs DEBKAfile dalam laporannya menulis bahwa kelompok bersenjata (Yarmuk), salah satu brigade FSA akhirnya bergabung dengan ISIS setelah dilatih Mossad di Yordania dan mendapat dukungan dari AS.

DEBKAfile mengutip unit kontraterorisme militer Israel mengabarkan bahwa militer rezim Zionis juga memberikan senjata kepada kelompok militan tersebut untuk berperang melawan pasukan Suriah. Lalu, bagaimana kelompok yang didukung oleh musuh-musuh kaum Muslim bisa mengklaim dirinya sedang menghidupkan Islam? Jelas bahwa ISIS mengejar beberapa tujuan yang sesuai dengan arahan Israel dan AS. Mereka ingin mencoreng citra agama Islam dan memusnahkan poros muqawama yang menentang eksistensi rezim Zionis. [ARN]

About ArrahmahNews (12170 Articles)

Media Pencerahan Rakyat

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: