Kupas Tuntas Kejahatan ISIS (8)

ARN001200400151111_ISISArrahmahnews.com - Pada seri sebelumnya, kita sudah berbicara tentang sumber-sumber finansial, senjata, serta peran negara-negara Barat dan sekutu mereka di Timur Tengah dalam melatih pasukan ISIS.Tanpa dukungan Barat dan kontribusi langsung pemerintah Turki, Arab Saudi, Qatar, dan Uni Emirat Arab dalam mengacaukan Suriah dan Irak, kelompok ISIS mustahil dapat menjadi organisasi terorisme terbesar dan terkuat di dunia. Saat ini, keberlangsungan hidup kelompok ISIS juga bergantung pada dukungan mereka.
Pada pertengahan 2014, semua pandangan tertuju ke arah transformasi yang terjadi di Irak. Pasukan ISIS dalam waktu singkat mampu menduduki Mosul, kota dengan populasi terpadat kedua di Irak dan pusat Provinsi Nainawa.Pemerintah Irak mengeluarkan alarm tanda peringatan menyusul gerak maju pasukan ISIS dan kejahatan yang mereka lakukan di daerah kekuasaannya. Kelompok ISIS bahkan pernah bergerak maju sampai ke gerbang Kota Baghdad.

Para analis melontarkan sejumlah alasan di balik kemajuan cepat yang diraih ISIS di Irak, termasuk pendudukan beberapa daerah oleh kelompok ini. Kota Mosul yang memiliki salah satu pangkalan terbesar militer Irak dengan mudah jatuh ke tangan ISIS. Salah satu faktor tumbangnya Mosul karena adanya persekongkolan beberapa pejabat daerah dan para panglima militer dengan kelompok ISIS. Selama bertahun-tahun berkuasa di Irak, Saddam Hussein telah membentuk sebuah kekuatan militer, di mana posisi-posisi kunci diserahkan kepada para pejabat Partai Baath.

Organisasi baru militer dibentuk di Irak setelah pendudukan negara itu oleh AS dan pembubaran militer era Saddam. Akan tetapi, pasukan Amerika tidak mengizinkan anggota kelompok-kelompok milisi penentang Saddam seperti Sepah Badr, untuk bergabung dengan militer baru Irak dengan alasan kedekatan mereka dengan Republik Islam Iran. Pasukan Amerika justru menekan pemerintah Baghdad untuk memanggil kembali para perwira militer Saddam untuk mengatur organisasi baru militer Irak. Pada akhirnya, para loyalis Saddam kembali menduduki posisi-posisi penting di militer baru Irak.

Pada dasarnya, para perwira Partai Baath tidak meyakini sistem pemerintahan baru Irak.Mereka juga memanfaatkan kesempatan itu untuk melakukan korupsi dan memperkaya diri. Fenomena korupsi di tengah para pejabat tinggi militer sudah cukup parah sehingga membuat mereka tidak berdaya dalam melawan kelompok ISIS. Anak buah mereka juga tidak punya semangat untuk terlibat perang setelah menyaksikan kebobrokan moral para pemimpinnya. Kita juga tidak boleh menutup mata terhadap motivasi politik anasir Partai Baath yang merasuki tubuh militer baru Irak dengan tujuan menggulingkan pemerintah dan juga menyerahkan Mosul ke tangan ISIS.

Tentu saja, itu bukan satu-satunya faktor yang membuat militan ISIS mampu bermanuver di akhir pertengahan 2014. Faktor lain kemajuan ISIS di Irak adalah karena dukungan finansial dan persenjataan yang diberikan Barat, Turki, Arab Saudi, Qatar, dan beberapa negara regional lainnya kepada pasukan ISIS yang beroperasi di Suriah. Dari satu sisi, pemerintah Damaskus kehilangan kontrol atas wilayah perbatasan bersama Irak-Suriah karena militer Suriah sedang terlibat perang dengan kelompok-kelompok bersenjata di negara itu. Di sisi lain, tentara Irak juga tidak mampu mengontrol garis perbatasan yang begitu panjang.

Di tengah kekacauan itu, aktivitas penyelundupan senjata dan amunisi dari Suriah ke Irak meningkat tajam. Berbagai jenis senjata pemberian Barat kepada kelompok yang disebut oposisi moderat Suriah, mengalir deras ke Irak dan kelompok ISIS menggunakan senjata tersebut untuk melawan tentara Irak. Setelah menguasai Mosul dan menjarah gudang-gudang senjata, militan ISIS dengan cepat bergerak ke daerah-daerah lain di Irak. Keikutsertaan suku-suku Irak di barisan pasukan ISIS juga ikut membantugerak cepat teroris Takfiri tersebut.

Kekuatan ISIS tidak hanya terpusat di medan perang, tapi mereka juga melancarkan propaganda media dengan dukungan beberapa jaringan berita dan media Arab. Tersiarnya berita seputar kejahatan-kejahatan ISIS di wilayah kekuasaan mereka telah menciptakan ketakutan di daerah-daerah yang terancam diserang ISIS. Masyarakat di wilayah itu memilih eksodus dan mencari tempat perlindungan untuk menghindari serangan ISIS.Beberapa daerah juga mengobarkan perlawanan terhadap ISIS seperti Kota Amerli.

Masyarakat Amerli telah melakukan perlawanan hampir tiga bulan terhadap teroris ISIS. Pada akhirnya setelah datang bala bantuan, pasukan ISIS terpaksa mundur dari kota tersebut. Marja’ Besar Syiah Ayatullah Sayid Ali Sistani mengeluarkan fatwa jihad kifai setelah pemerintah Irak membunyikan peringatan tanda bahaya. Fatwa ini mendorong ratusan ribu warga Irak dari Syiah dan Sunni membentuk pasukan relawan untuk memerangi teroris ISIS.

Di kancah internasional, pemerintah AS mencoba untuk membentuk sebuah koalisi internasional anti-ISIS. Selain Turki, semua negara yang selama ini membantu kelompok ISIS di Suriah, bergabung dalam koalisi pimpinan Amerika. Mereka sudah tidak punya jalan lain, karena kejahatan yang dilakukan ISIS telah menciptakan api kebencian di seluruh dunia. Negara-negara regional dan Barat juga mengkhawatirkan serangan ISIS ke wilayah mereka sehingga harus segera mendeklarasikan perang anti-ISIS.

Akan tetapi, AS dan sekutunya sama-sama tidak memiliki tekad serius untuk menumpas ISIS. Mereka meluncurkan kampanye udara untuk menghancurkan pusat-pusat konsentrasi dan gudang senjata ISIS. Namun, serangan-serangan itu sama sekali tidak memberi pukulan serius bagi teroris. Sebaliknya, kampanye udara koalisi justru telah menghancurkan sarana infrastruktur ekonomi dan industri Suriah dan Irak. Pasukan ISIS juga mulai belajar untuk menghindari serangan udara koalisi.

Sebenarnya, serangan udara koalisi internasional anti-ISIS telah menjadi alat AS dan sekutunya untuk meraup keuntungan politik, melakukan pencitraan, dan menipu opini publik dunia. Jika Barat benar-benar ingin menghancurkan kelompok ISIS,cukup bagi mereka memaksa Turki untuk bergabung dalamkoalisi. Perbatasan Turki merupakan gerbang terbesar dan terpenting untuk menyalurkan bantuan kepada ISIS dan pintu perlintasan orang-orang dari berbagai belahan dunia untuk bergabung dengan kelompok itu.

Kota Kobani di Suriah hanya berjarak dua kilometer dari perbatasan Turki dan kota ini merupakan salah satu simbol perlawanan anti-ISIS. Meski Kobani menghadapi serangan besar-besaran oleh pasukan ISISdan warga Kurdi di sana berada dalam ancaman serius, tapi militer Turki hanya memamerkan tank-tanknya di garis perbatasan dan duduk menyaksikan pembantaian massal warga Kobani.Meski demikian, rakyat Irak dan Suriah tentu saja tidak sendirian dalam memerangi ISIS. Republik Islam Iran dalam beberapa tahun terakhir memainkan peran besar dalam membantu pemerintah dan rakyat Irak dan Suriah untuk menumpas teroris Takfiri. Para pejabat Baghdad dan Damaskus berkali-kali mengakui hal itu.

Presiden Irak Fuad Masum termasuk tokoh yang mengakui kontribusi besar Iran dalam memerangi ISIS. Dalam sebuah wawancara, ia mengatakan, “Iran telah memberikan banyak bantuan kemanusiaan dan militer kepada kami sejak hari pertama munculnya ISIS dan serangan kelompok itu ke Mosul.” Kantor berita Associated Press dalam sebuah analisanya menulis, “Dalam pandangan mayoritas warga Irak,sekutu terbaik negara mereka dalam perang melawan ISIS adalah bukan Amerika Serikat atau koalisi internasional, tapi Iran di mana negara itu telah menghalau serangan militan ke Baghdad.”

Duta Besar Amerika di Irak, Stuart E. Jones dalam wawancara dengan Associated Press, juga mengakui bahwa Iran memiliki peran penting dalam memerangi teroris ISIS. Komentar-komentar tersebut membuktikan bahwa Republik Islam Iran memainkan peran utama di Timur Tengah dalam perang kontra-terorisme, terutama kelompok ISIS. [ARN]

About ArrahmahNews (12188 Articles)

Media Pencerahan Rakyat

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: