Kupas Tuntas Kejahatan ISIS (9)

ARN001200400151111_ISISArrahmahnews.com - Pemerintah dan rakyat Irak serta negara-negara lain di Timur Tengah tercengang atas kemajuan cepat yang dicapai kelompok ISIS dan kejahatan keji yang mereka lakukan di sejumlah daerah. Namun, orang-orang yang mengikuti perkembangan Timur Tengah dari dekat,tidak terkejut dengan manuver-manuver ISIS pada pertengahan 2014, mengingat kelompok itu mendapat dukungan besar dari negara-negara Barat dan regional. ISIS melalui dukungan penuh dan langsung mereka telah menciptakan krisis di Suriah dan Irak. Dukungan itu juga membuat ISIS menjadi kelompok teroris terbesar di dunia.

Negara-negara Barat dengan alasan membantu terciptanya kebebasan di Suriah, memberikan segala bentuk bantuan kepada kelompok-kelompok teroris Takfiri, terutama ISIS. Pemerintah Turki, Arab Saudi, Qatar, dan Uni Emirat Arab tentu saja memainkan peran signifikan dalam kegiatan ini. Kelompok-kelompok teroris itu memperluas kegiatan operasinya di Irak setelah gagal mencapai tujuannya di Suriah. Kelemahan pemerintah Baghdad dan pengaruh luas para loyalis Saddam di tubuh militer Irak serta pengkhianatan mereka, merupakan faktor utama yang mempercepat kemajuan ISIS di Negeri Kisah 1001 Malam itu.

Kekejaman yang dipertontonkan ISIS dan kebencian publik internasional terhadap kelompok itu, membuat negara-negara pendukung teroris berada pada posisi sulit. Mereka sekarang tidak bisa lagi menyatakan dukungan terang-terangan kepada ISIS dengan alasan membantu rakyat Suriah mencapai kebebasan dan demokrasi. Pada dasarnya, negara-negara Barat khususnya Amerika Serikat hanya memanfaatkan kelompok-kelompok teroris seperti, ISIS sebagai instrumen untuk menjamin kepentingan ilegal mereka dan kelompok itu juga punya tanggal kadaluarsa.

Sebelum terjadinya transformasi tahun lalu di Irak dan kemajuan cepat yang dicapai ISIS, tanggal kadaluarsa kelompok teroris tampaknya belum tiba. Sebab, negara-negara Barat dan sekutu regional mereka belum berhasil mencapai tujuan-tujuannya di Suriah setelah empat tahun menciptakan kekacauan di negara itu. Akan tetapi, gerak cepat ISIS di Irak telah membuat kelompok teroris ini lepas dari kontrol para pendukungnya. Negara-negara pendukung kini tidak bisa lagi menutup mataatas kebencian publik dunia terhadap kejahatan luas ISIS di Suriah dan Irak selama beberapa tahun terakhir.

Pemenggalan beberapa sandera Barat juga membuat negara-negara pendukung ISIS frustasi. Oleh karena itu, pemerintah Barat dan sekutu mereka terpaksa mengubah permainan mereka di Timur Tengah.

Presiden Amerika Serikat Barack Obama dalam pidato peringatan peristiwa 11 September pada tahun 2014, berbicara tentang urgensitas memerangi ISIS. Dia mengatakan, “Kita akan memperlemah ISIS dan pada akhirnya menghancurkan mereka.” Obama melontarkan slogan memerangi ISIS pada saat strategi Amerika di Suriah tetap berpijak pada pemberian dukungan kepada kelompok-kelompok teroris untuk menumbangkan pemerintah Bashar al-Assad.

Mantan Menteri Pertahanan AS, Robert Gates dalam satu pernyataan menyebut tujuan-tujuan Obama dalam perang melawan ISIS tidak akan tercapai. Dia mengatakan, “Dalam situasi seperti ini, tujuan Presiden Obama untuk menghancurkan ISIS terlalu ambisius. Pola penanganan pemerintahan Obama dalam memerangi ISIS dengan mengandalkan sebuah tim kecil, tidak realistis. Menurut Gates, diperlukan sejumlah instruktur dan pasukan komando Amerika untuk melemahkan atau menghancurkan ISIS.

Koran The Los Angeles Times juga menurunkan sebuah catatan tentang cara AS menangani kelompok ISIS. Harian ini menulis, “Pidato Presiden Obama untuk memerangi teroris ISIS merupakan sebuah kemunafikan.” Disebutkan pula bahwa sesumbar AS mengenai kemampuan militer negara itu dalam memerangi ISIS sebagai klaim palsu dan menipu.Menurut The Los Angeles Times, militerisme Amerika di berbagai belahan dunia termasuk di Timur Tengah dan wilayah Afrika telah memperparah krisis di kawasan. Menurutnya, kepemimpinan dalam memerangi ISIS seharusnya dipegang oleh negara-negara yang mengalami kerugian terbesar.

Komentar beberapa mantan pejabat dan pejabat Washington serta analisa beberapa media Amerika adalah bukti bahwa Negeri Paman Sam tidak memiliki tekad serius untuk menghancurkan ISIS. Komposisi negara anggota koalisi internasional anti-ISIS juga sarat dengan kepentingan politik dan pencitraan. Di benua Eropa, Perancis dan Inggris termasuk negara terdepan dan aktif dalam koalisi internasional anti-ISIS. Poin yang patut dicermati di sini adalah sejumlah besar anggota ISIS justru berasal dari negara-negara Eropa.

Sebelum serangan terorisme di Paris pada awal Januari 2015, kelompok ISIS dengan mudah merekrut anggota baru dari negara-negara Eropa melalui jejaring sosial. Anggota ISIS dari Eropa juga leluasa pergi ke Suriah dan Irak dan kemudian kembali ke negara asal mereka. Gerbang utama mereka untuk masuk ke Suriah dan Irak dan kemudian kembali ke Eropa adalah Turki. Kebanyakan dari mereka menerima pelatihan di kamp-kamp di Turki sebelum bergerak ke Suriah dan Irak.

Pengetatan keamanan di Eropa pasca serangan Paris merupakan sebuah keputusan yang tidak bisa dihindari oleh negara-negara Eropa untuk melawan ancaman teroris ISIS. Akan tetapi, pengambilan kebijakan itu tidak berarti secara serius ikut mengubah pendekatan mereka dalam memerangi ekstrimisme, kekerasan, dan terorisme di wilayah Timur Tengah. ISIS kini telah menjadi simbol terorisme dan ekstrimisme di Timur Tengah, sementara di Afrika ada Boko Haram. Padahal sebelum ini, Al Qaeda merupakan ikon terorisme dan ekstrimisme.

Jika negara-negara Eropa seperti, Perancis dan Jerman benar-benar ingin memerangi terorisme, mereka harus mengecam segala bentuk terorisme tanpa memperhatikan siapa yang jadi korban,agama, atau kebangsaan mereka.Karena selama tindakan-tindakan terorisme ISIS belum menelan korban dari warga negara Barat, maka kekejaman kelompok itu di Suriah dan Irak tidak layak dikecam. Mereka justru menganggap kekejaman itu sebagai harga untuk sebuah kebebasan dan demokrasi yang diperjuangkan rakyat Suriah. Barat bahkan memberi dukungan finansial dan senjata kepada kelompok tersebut. Ini adalah bentuk pembagian teroris baik dan buruk oleh negara-negara Barat.

Padahal, apa yang sedang terjadi di Suriah adalah benar-benar serangan terorisme. Akan tetapi, negara-negara Barat sejauh ini belum memperbaiki perilakunya dalam menyikapi pemerintah Damaskus. Barat tetap bersikeras bahwa mereka sedang mendukung “kelompok moderat”yang berperang melawan pemerintah Assad. Namun, bantuan-bantuan senjata Barat kepada “kelompok moderat” di Suriah jatuh ke tangan kelompok ISIS. Perilaku Barat ini semakin mempertegas bahwa pembentukan koalisi internasional anti-ISIS bertujuan mengejar kepentingan politik, pencitraan, dan mengelabui opini publik.

Kehadiran Arab Saudi, Qatar, dan Uni Emirat Arab serta beberapa negara Arab pendukung ISIS di tengah koalisi, juga telah mengundang keraguan tentang tujuan-tujuan pembentukan koalisi ini. Para mufti Saudi merupakan inspirator kelompok teroris ISIS. Kelompok ISIS menganggap kejahatan-kejahatannya sejalan dengan tuntunan syariat berdasarkan fatwa para mufti Wahabi Saudi. Tanpa dukungan finansial dan senjata dari beberapa pangeran Saudi, ISIS mustahil bisa menyandang predikat sebagai kelompok teroris terbesar di dunia.

Wakil Presiden Amerika Serikat Joe Biden bahkan pernah mengeluarkan pengakuan yang layak dicermati. Biden dalam pidatonya di Universitas Harvard mengatakan, “Turki, Uni Emirat Arab, dan Arab Saudi telah menggelontorkan dana milyaran dolar dan puluhan ribu ton senjata kepada militan Sunni untuk mengalahkan Presiden Suriah Bashar al-Assad.Mereka membantu dan menyambut warga asing yang ingin bergabung dan bertempur bersama Al Qaeda dan Front al-Nusra.”

Tidak hanya Biden yang menyerang sekutu-sekutu Barat di Timur Tengah, Jenderal Jonathan Shaw, mantan Panglima Pasukan Inggris di Irak mengatakan, “Arab Saudi dan Qatar memberikan bantuan finansial kepada teroris ISIS.” Koran Daily Telegraph juga menyingkap sebuah fakta tentang dukungan finansial Bank Sentral Qatar kepada kelompok-kelompok teroris yang beroperasi di Suriah dan Irak. [ARN]

About ArrahmahNews (12177 Articles)

Media Pencerahan Rakyat

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: