Nenek Tua, Maulid Nabi dan Secuil Cerita Tentang Bid’ah

Arrahmahnews.com - Setiap Maulid Nabi Saww, saya teringat dengan kisah seorang wanita tua renta penyapu masjid. Nenek yang tak pernah diketahui asal-usulnya, tapi di setiap pagi sering terlihat menyapu masjid. Hingga suatu ketika, para jamaah masjid merasa kasihan terhadap nenek tersebut. Mereka sepakat untuk menyapu bersih pekaranga masjid sebelum nenek itu tiba. Singkat cerita, nenek itu, seperti biasanya, tiba di masjid dan menemukan pekarangan telah bersih. Mengejutkan, ia bukan bahagia. Sebaliknya, ia menangis tersedu-sedu. Tangisannya menyayat hati dan membuat para jamaah bertanya kepada sang nenek. Namun nenek itu bungkam. MAulidHingga ajal menjemput si nenek. Rahasia ia menangis kala itu-pun terkuak. Ia sedih saat mendapati pekarangan masjid telah bersih dari daun-daun. Sebab, setiap ia memunguti helai demi helai daun, di saat itu pula ia ber-shalawat kepada Nabi Muhammad Saww. Ada banyak contoh seperti layaknya nenek itu di sekitar kita. Individu-individu yang tak mengerti dan paham mengenai dalil-dalil shahih Alquran dan Hadis mengenai cinta terhadap Nabi Saww. Namun, mereka mewujudkan kecintaannya dengan cara mereka sendiri. Bagi nenek tua pada kisah di atas, ber-shalawat kepada Nabi adalah bentuk terbaik mewujudkan cinta kepada Nabi Saww. Sama seperti kisah nenek tua, nenek saya di kampung juga menunjukkan kecintaannya kepada hadirat Nabi Saww. Setiap hari ia senantiasa membaca kitab “Dalalil Khairat”. Kitab yang memuat berbagai hizib dan kumpulan shalawat kepada Nabi berdasarkan hari.

Berbeda dengan kita. Iya, kita yang mengaku sebagai umatnya dan cinta terhadapnya. Membaca shalawat dan merayakan Maulid Nabi dikecam sebagai perbuatan Bid’ah. Pelakunya diancam dengan siksa neraka yang paling pedih dan niscaya berkumpul dengan para pelaku syirik.

Coba anda tanyakan apa itu Bid’ah kepada nenek saya. Ia akan menggeleng tak mengerti. Ia tak paham bahwa mambaca shalawat dan merayakan Maulid adalah Bid’ah. Ia hanya paham bahwa ketika seseorang jatuh cinta, maka ia harus menunjukkan kecintaannya.

Nenek tua penyapu masjid dan nenek saya telah memahami arti cinta kepada Nabi Saww, meski mereka tak paham dalil-dalil shahihnya. Dengan cara sederhana mereka menunjukkan kecintaan kepada Nabi Muhammad Saww. Bandingkan oleh anda dengan orang-orang yang mengecam mereka dan menyatakan perbuatan itu sebagai Bid’ah.

Nenek tua penyapu masjid tak mengantongi ribuan dalil, namun ia tahu satu dalil yang “dipungutnya” dari majelis-majelis pengajian para Kiai, bahwa “Barang Siapa Mencintaiku (Nabi), maka ia akan bersamku di surga”. Nenek tua itu tahu, bahwa “Seorang pecinta akan senantiasa bersama dengan orang yang dicintainya”.

Menjelang akhir hayat, nenek saya ingin bersama dengan orang yang paling dirindukan dan dicintainya, yakni Muhammad Saww. Ia tak tahu Bid’ah. Ia hanya ingin bersama dengan Nabi. Ia hanya ingin menunjukkan kecintaan terhadap Nabi. Dan ia menunjukkan dengan cara yang sederhana, yaitu bershalawat, bergembira serta merayakan atas hari kelahiran Nabi Muhammad Saww.

Duhai Rassul, tak ada yang bisa menggantikan kecintaanku terhadapmu. Meski seluruh semesta ditawarkan kepadaku, niscaya aku akan tetap memilih bersamamu. Aku akan tetap memendam kerinduan bertemu denganmu.

Duhai Rassul, aku datang ke hadiratmu. Aku persembahkan shalawat dan salam kepadamu dan keluarga sucimu.  (ARN)

Shallu Ala Nabi Wa Alihi…. Ditulis sebagai tanggapan atas Maulid Nabi Muhammad Saww.

Sumber : Kompasiana

About ArrahmahNews (12170 Articles)

Media Pencerahan Rakyat

1 Comment on Nenek Tua, Maulid Nabi dan Secuil Cerita Tentang Bid’ah

  1. Subhanallah, Alhamdulillah, Laa ilaaha illallah, Allah Akbar
    Allahumma shalli ‘ala sayyidina Muhammad wa ‘ala alihi washahbihi wasallim.
    Allahumma shalli wasallim wabarik ‘alaihi wa ‘ala alih.
    terkadang klo baca artikel yang menceritakan tentang nabi Muhammad suka sedih, terharu, merinding, rindu. apa lagi waktu lagi maulid, air mata tiba2 menetes T-T

1 Trackback / Pingback

  1. Peringati Maulud Nabi, Ulama Turki Tekankan Pentingnya Persatuan dan Bahaya Teroris – “Bagi kami siapapun yang mempersoalkan keyakinan pihak lain berarti musuh bangsa ini, dan LKK akan berusaha berada di front terdepan menghadapi kaum intoleran d

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: