Benarkah “Langgam Jawa” Bertentangan dengan Hadis Nabi????

Arrahmahnews.com, DARI BILIK KAMARKU - Pembacaan Alquran dengan langgam Jawa itu hanyalah sebuah test case saja. Sesudah ini akan ada festival membaca Alquran dengan langgam Nusantara. Kenapa begitu ? Ini adalah usaha para pegiat “bid’ah” mengembalikan Islam kembali ke budaya arab, menurut mereka. Contoh nyata Seperti zaman saat WaliSongo menebarkan Islam dengan damai dan disesuaikan dengan budaya setempat sehingga mudah diserap dan diterima warga setempat. santri-kunoDengan mempopulerkan pembacaan Alquran langgam nusantara, maka masing-masing daerah akan sadar kedaerahannya, dan kembali sadar akan kebhinekaan nusantara ini. Kalau sudah sadar akan kebhinekaan, maka sulit untuk menjadikan konsep khilafah yang diusung oleh para wahabi di bumi ini. Banyak sekali bacaan Qosidah yang dibaca dengan bermacam-macam langgam kenapa pengikut wahabi tidak pernah protes, Islam itu hidup di kehidupan setiap manusia dari ras, suku, bangsa apapun, Islam itu Universal. Budaya arab beda dengan budaya Islam ya, ini catatan penting, budaya Arab dibawa oleh mereka yg pernah belajar di arab dan dipaksakan disini termasuk kekerasan, rasa dendam, picik, yang menjadi bagian dari arab pada zaman jahiliyyah dan terikut kesini, jadi sulit bermutasi. Bahaya sekali ini kalau budaya Arab dianggap budaya Islam, karena akhirnya ada batasan-batasan di Islam karena Islam itu tidak terbatas wilayahnya baik dari segi kebudayaan dan lain-lain. Contoh nyata budaya panggilan akhi dan ukhti, ana dan ente itu bukan budaya Islami tapi panggilan dengan bahasa Arab.

Kebutaan budaya, kini kerap muncul di kalangan Muslim pandangan ”antibudaya”. Mereka meneriakkan puritanisme dan hendak melenyapkan segala bentuk budaya. Radikalisme agama dan terorisme juga muncul akibat penolakan budaya. Inilah fakta bersemayamnya sikap ”kebutaan budaya”. Baca KH Aqil Siradj “Agama Perlu Menyatu dengan Budaya”.

Tentang masalah “Langgam Jawa” kenapa mendapat protes dari kalangan Wahabi karena menurut mereka Alquran harus dibaca dengan langgam Arab, sedangkan Islam tidak melarang bacaan Alquran dengan langgam sesuai daerahnya masing-masing. Memang ada riwayat yang dinisbahkan kepada Nabi saw. yang menganjurkan agar Alquran dibaca dengan langgam Arab. Konon beliau bersabda: “Bacalah Alquran dengan langgam Arab dan “suara” (cara pengucapan) mereka;  jangan sekali-kali membacanya dengan langgam orang-orang fasiq dan dukun-dukun. Nanti akan datang orang-orang yang  membacanya dengan mengulang-ulangnya seperti pengulangan para penyanyi dan para pendeta atau seperti tangisan orang yang dibayar untuk menangisi seorang yang meninggal dunia….”

Hadits tersebut kalaupun dinilai shahih, maka itu bukan berarti bahwa langgam selain langgam Arab  beliau larang. Bukankah beliau menganjurkan untuk membaca dengan baik dan indah, apalagi sementara pakar hadits menilai riwayat yang diriwayatkan oleh an-Nasa’iy al-Baihaqy dan at-Thabarani di atas lemah  karena dalam rangkaian perawinya terdapat Baqiyah bin al-Walid yang dikenal lemah dalam riwayat-riwayatnya. Baca Penjelasan Qurais Shihab tentang Langgam Jawa dalam Membaca al-Qur’an

Yang jadi masalah karena pembacaan Al-Qur’an dengan langgam jawa itu di Istana Presiden, ada unsure-unsur politik juga akhirnya dalam masalah ini, banyak kalangan yang tidak pro Jokowi membuat masalah ini jadi besar, apalagi para media wahabi juga bersemangat sekali memberitakannya “Arrahmah.com” baca Kekhawatiran Nabi adanya generasi yang menjadikan Al-Qur’an sebagai nyanyian, ini jelas-jelas mau mengkaburkan masalah dan mau memberikan ke opini publik dan masyarakat bahwa Jokowi mau dibenturkan dengan umat Islam. Ini bentuk provokasi dan sangat intoleran sekali.

Kita lihat lagi Para wali yang berasal dari arab-persia tidak memaksakan budaya arab untuk diserap oleh masyarakat. Yang mereka bawa adalah ajaran dan ahlak, sehingga mereka begitu diterima dan dicintai. Para wali tidak meng-kafirkan masyarakat dengan budayanya, bahkan mereka masuk melalui budaya masyarakat. Maka kita melihat keragaman budaya yang kental bernafaskan Islam mulai dari sastra, kesenian, arsitektur, shalawatan, macapat sampai wayang. Baca Islam Nusantara Ajaran Wali Songo

Maka masyarakat muslim di Indonesia jangan sampai termakan oleh propaganda-propaganda wahabi yang ingin meng-arabisasi- budaya Indonesia. itu bertentangan dengan cara dakwah para Nabi. (RNA)

About ArrahmahNews (12216 Articles)

Media Pencerahan Rakyat

2 Comments on Benarkah “Langgam Jawa” Bertentangan dengan Hadis Nabi????

  1. Umat Islam dlm membaca Al-Quran, wajib hukumnya belajar Tajwid, agar supaya terpelihara huruf, makhraj, ghunnah, dan Mad-nya dan hukum orang yang mempelajari ilmu Tajwid adalah Fardhu Kifayah, hukum mengamalkannya Fardhu Ain itulah tata cara aturan kita dalam membaca AlQuran kalaulah “langgam”diartikan sama dengan ‘dialek’, sama dengan ‘logat’ tentu kaum muslimin tidak mempermasalahkan dan dapat memakluminya karena itulah budaya, identitas dari kedaerahan kita tetapi kalau “langgam” itu mengubah makna panjang pendek dll.. itu yang tidak benar sekalipun maksudnya untuk memperindah mempercantik bacaan tetapi sudah melanggar aturan aturan dan kaidah kita dlm membaca AlQuran yang akhirnya menjadi golongan orang-orang yang fasik…
    Mendengar bacaan AlQuran dengan langgam jawa diistana kemarin bagi saya sangat ganjil, aneh dan bahkan menyakitkan ditelinga.. sangat kentara sekali begitu dipaksakan dan saya meyakini umat muslim yang terbiasa mengaji , penghapal AlQuran pasti akan merasakan hal yang sama karena semua aturan dan tata cara membacanya telah dilanggar baikkah makhraj, ghunnah, dan Mad-nya

  2. Muda Sulaiman // Jun 29, 2015 at 11:09 am // Balas

    Tidak apa-apa, Langgam tidak melanggar apapun. Lagipula sudah banyak kok variasi untuk memperindah bacaan Qur’an, ini bukti Rahmatan Lil’ Alamin.

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: