Teroris Takfiri Melayani Kepentingan Siapa? (1)

Arrahmahnews.com - Dalam beberapa tahun terakhir, Suriah dan Irak menjadi target serangan brutal dan sadis kelompok teroris. Saat ini tengah berlangsung perjuangan sengit dan berat untuk menghancurkan teroris di kedua negara tersebut. Kini muncul sederet pertanyaan, mengapa dan bagaimana Irak dan Suriah berubah menjadi pangkalan kelompok teroris dan di mana tepatnya posisi markas mereka di kedua negara ini. Apa esensi dan ideologi kelompok teroris ini? Negara mana yang berada di balik terorisme di kawasan dan mendukung mereka?ARN471281244_Peran _AS_Dalam_Eksistensi_ISIS
Kelompok teroris yang merajalela di Irak dan Suriah saat ini sepertinya dikemas dengan identitas agama dan mazhab. Mereka sejatinya kelompok Takfiri dengan beragam simbol, namun memiliki satu tujuan, yakni mengabdi kepada Amerika Serikat serta menebar kejahatan sadis di kawasan demi menjamin kepentingan rezim Zionis Israel. Dalam kesempatan kali ini, kami berusaha untuk membongkar isu ini dan mencoba memberikan analisa mengenai bentuk hubungan AS dengan isu yang kita kaji serta mekanisme dukungan Washington terhadap kelompok teroris takfiri yang mengganas di Irak dan Suriah serta tujuan kebijakan Gedung Putih.

Amerika Serikat pada 20 Maret 2003, tanpa restu Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK-PBB) mengagresi Irak. Petinggi pemerintahan George W. Bush dengan menebar sejumlah kebohongan berusaha mencitrakan agresi negara ini ke Irak sebagai langkah legal dan dilakukan demi tuntutan internasional. Dalam hal ini, klaim seperti kepemilikan senjata pemusnah massal oleh Irak dan dukungan Saddam Hossein terhadap al-Qaeda menjadi landasan kebohongan mereka, sehingga persiapan agresi ke Irak terbentuk dan akhirnya terjadi.

Agresi brutal ini tak hanya menewaskan setengah juta warga Irak antara tahun 2003-2011, memaksa satu juta warga tak berdosa negara ini mengungsi dan merusak infrastruktur di negara ini, namun juga memunculkan bencana baru kekerasan dan bentrokan etnis serta sektarian. Secara resmi AS keluar dari Irak pada 15 Desember 2011, namun kehadiran militer AS selama delapan tahun di Irak menjadi alasan bagi pembentukan kelompok teroris dan takfiri serta aksi mereka di negara ini.

Tujuan kelompok teroris-takfiri di Irak di era pendudukan pasukan asing adalah sejumlah slogan seperti jihad mengusir pasukan koalisi dari Irak, menumbangkan pemerintahan sementara, teror terhadap tokoh yang bekerjasama dengan pasukan penjajah serta memperlemah dan menghapus kelompok Syiah serta mendirikan pemerintahan berdasarkan interpretasi menyimpang terhadap Islam. Namun setelah empat tahun penarikan pasukan AS dari Irak (2011-2015), bukan saja negara ini semakin aman, namun malah sebaliknya, Irak semakin dilanda aksi brutal teroris yang kian menggila. Aksi bom bunuh diri yang terus marak membuat sejumlah kawasan di Irak menjadi daerah tak aman.

Sementara itu aksi berdarah yang dikobarkan kelompok teroris bikinan Amerika Serikat juga marak di Suriah, sehingga negara ini pun tak luput dari perang, pertumpahan darah dan dampaknya. Kini jutaan warga Suriah terpaksa mengungsi dan berlindung di negara-negara tetangga, akibat brutalitas kelompok teroris takfiri. Namun demikian kondisi parah di Irak tak dapat disamakan dengan Suriah, karena keberadaan teroris di Irak terbatas di sejumlah kota di Provinsi Ninava dan al-Anbar. Selain itu, pemerintah Baghdad dengan bantuan militer serta rakyat berhasil dalam perang melawan kelompok teroris dan mencegah aksi kelompok ini ke berbagai daerah lainnya. Sementara di Suriah, kondisi sangat berbeda.

Kini pertanyaan yang muncul adalah apakah ada perbedaan antara kelompok teroris yang mengganas baik itu di Irak maupun di Suriah. Jika ada, maka apa perbedaan di antara mereka? Berdasarkan kategorisasi politik dan ideologi kelompok-kelompok teroris, kelompok teroris terpenting di Irak dan Suriah seperti ISIS, Front al-Nusra, kelompok Tauhid dan Jihad, Front Islam Pembebasan Suriah, Tentara Bebas Suriah (FSA) serta seluruh kelompok kecil dan menengah lainnya seperti Dewan Mujahidin Irak dan Ansar al-Sunnah adalah kelompok yang muncul berdasarkan ideologi keras Salafi dan ditujukan untuk menyebarkan paham Wahabisme, Takfiri serta anti-Syiah.

Kelompok teroris ini menjadikan slogan pelaksanaan syariat Islam dan pembentukan pemerintahan Islam. Ambisi mereka ini dibarengi dengan aksi terorisme. Padahal esensi dari mereka ini adalah kejahatan total yang tidak dapat dibenarkan oleh ajaran Islam sendiri. Lebih dari itu, aksi sadis mereka bahkan telah keluar dari prinsip dasar dan norma-norma kemanusiaan. Pembantaian Muslim dan pengikut agama lain dengan mengatasnamakan agama, teror, pelecehan seksual dan pemerkosaan, menyerang warga sipil bahkan anak-anak serta orang lanjut usia, melecehkan sakralitas agama dan merusaknya, pemenggalan kepala dan mencacah jenazah korban, kesemuanya dilakukan dengan slogan palsu atas nama agama.

Namun dewasa ini, semua orang telah menyadari bahwa kejahatan ini dan kelompok teroris tersebut tidak ada kaitannya sama sekali dengan agama. Apa yang mereka kerjakan adalah memperluas instabilitas di kawasan yang dipandang AS, Israel dan Inggris dengan rakus. Kondisi yang ditimbulkan oleh ulah brutal kelompok teroris telah membuka peluang bagi negara-negara Barat khususnya Amerika Serikat untuk menyalahgunakan situasi yang ada.

Kini berbagai bukti menunjukkan bahwa Amerika Serikat, rezim Zionis Israel, Arab Saudi, Qatar dan Turki dengan beragam cara mendukung kelompok teroris di Irak dan Suriah untuk menggapai ambisi mereka. Pemerintah Turki dengan slogan menghapus kendala dengan negara tetangga dan menjalin hubungan baik dengan negara-negara Islam khususnya negara tetangga, seiring berlalunya waktu malah melontarkan protes keras atas sikap pemerintah Nouri al-Maliki di Irak dan Bashar al-Assad di Suriah. Sikap Turki tersebut diambil untuk merealisasikan impianImperium Ottoman Baru serta keinginan untuk menjadi kekuatan terbesar di kawasan.

Pertemuan Friends of Syria di Turki dan lobi politik serta dukungan propaganda gerakan anti-Assad, dukungan finansial terhadap kelompok teroris, persiapan mapan bagi penyelundupan dan penjualan minyak Suriah oleh anasir ISIS, penyediaan fasilitas transit dan lalu lalang kelompok teroris dari wilayah Turki ke Irak dan Suriah, pelatihan anasir teroris di kamp militer di Turki dan pengiriman mereka ke negara tetangga Turki termasuk langkah-langkah Ankara dalam mendukung kelompok teroris.

Sementara itu, Amerika melalui berbagai kanal juga mendukung kelompok teroris di kawasan. Dinas Rahasia AS (CIA) melakukan langkah-langkah untuk membentuk, mempersenjatai dan memperkokoh kelompok teroris yang aktif di Irak serta Suriah. Pelatihan bagi kubu bersenjata anti-Suriah, pengiriman senjata baik ringan maupun semi-berat, peralatan komunikasi serta bahan makanan melalui penerbangan mencurigakan di kawasan yang dikuasai ISIS, hanya sekelumit dukungan Washington terhadap kelompok ini.

Meski Amerika lebih besar menfokuskan upayanya menjamin serta mempersenjatai teroris di Suriah untuk melawan serta melemahkan Bashar al-Assad bila di banding dengan di Irak, namun harus diingat bahwa kubu oposisi bersenjata Suriah sekedar melengkapi dirinya dengan simbol Suriah, karena mengingat ambisi kolektif teroris di Irak dan Suriah untuk membentuk serta memperluas wilayah kekhalifahan Islam yang mereka klaim beraroma Islam, maka segala bentuk dukungan AS terhadap kelompok teroris Suriah serta pelatihan mereka dengan istilah pelatihan militer kubu moderat, juga dapat dikategorikan sebagai dukungan Washington terhadap teroris di Irak.

Ini adalah realita yang pahit bahwa AS dengan sengaja tidak menginginkan kemenangan baik itu bagi kelompok teroris maupun pemerintah Irak serta Suriah. Berlanjutnya perang sama halnya dengan kian lemahnya kedua pihak (teroris dan pemerintah Baghdad serta Damaskus) dan membuka semakin lebar pengaruh Amerika. Sejatinya langkah AS seperti ini memiliki beragam tujuan seperti menguasai kelompok teroris ini untuk menjamin kepentingannya serta sekutu kawasan Washington. Dengan demikian langkah tersebut menjadi sebuah kebijakan strategis.

Kebijakan AS ini memiliki beragam tujuan seperti menghancurkan infrastruktur Suriah dan melengserkan Bashar al-Assad dari kekuasaan, represi terhadap pemerintah Baghdad untuk senantiasa bergantung pada Washington, menghancurkan poros muqawama Iran-Suriah dan Lebanon untuk menjamin keamanan rezim Zionis Israel serta pada akhirnya mencegah peran dan pengaruh Republik Islam Iran di kawasan.

Pahitnya fenomena ini adalah sejak Amerika Serikat menggulirkan isu perang melawan terorisme tak lama setelah tragedi 11 September dan menjadikannya sebagai alat bagi kebijakan arogannya ke negara lain. Sementara realitanya AS dan sekutunya merupakan pendukung utama terorisme di seluruh dunia. Hal ini dapat dicermati dari peran Amerika Serikat menciptakan milisi al-Qaeda dan dukungannya terhadap kelompok teroris ini di era perang dingin. Contoh terbaru dari kebijakan AS ini adalah dukungan Washington dan sekutu kawasannya terhadap pembentukan serta pengokohan kelompok teroris-Takfiri di Irak serta Suriah termasuk ISIS. Isu ini kembali pada peristiwa tahun 2010 dan 2011 di kawasan. [ARN]

 

About ArrahmahNews (12202 Articles)

Media Pencerahan Rakyat

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: