Teroris Takfiri Melayani Kepentingan Siapa? (2)

Arrahmahnews.com - Analisis terhadap transformasi kawasan selama beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa dimulainya kebangkitan Islam di negara-negara Arab di kawasan Afrika Utara dan Timur Tengah yang terjadi sekitar penghujung tahun 2010 dan mencapai puncaknya tahun 2011, secara umum tidak menunjukkan adanya indikasi kecenderungan terhadap pemikiran takfiri. Oleh karena itu, kelompok Takfiri diciptakan oleh rezim Zionis, Arab Saudi dan Qatar dengan dukungan langsung maupun tidak langsung sejumlah negara transregional, terutama AS demi menghadang gerakan kebangkitan Islam.ARN1421908647_206_Teroris_Takfiri_Melayani_Kepentingan_Siapa
Akhrinya, kelompok Takfiri kembali memasuki kancah politik kawasan Timur Tengah dan Afrika Utara. Kali ini kehadirannya semakin masif didukung dengan pasokan keuangan, militer dan intelejen yang besar. Kelompok Takfiri merekrut anggota dari seluruh penjuru dunia untuk bertempur di Suriah dan Irak.

Di Suriah, kelompok teroris takfiri muncul dengan banyak wajah seperti Front Islam pembebasan Suriah, Jabhah al-Nusra dan ISIS dengan personil dari berbagai negara dunia. Dari sekian kelompok teroris tersebut, ISIS menjadi kubu yang paling besar. Ciri khas tampilan luas dari kelompok teroris ini mengusung Khilafah Islam di negara-negara Muslim.

Berdirinya ISIS tidak bisa dilepaskan dari peran Abu Musab al-Zarqawi. Warga Yordania ini mendirikan kekuatan militer bernama “Jamaat al-Tauhid wal Jihad” di Irak pasca serangan AS ke negara itu tahun 2003. Setelah Zarqawi berbaiat kepada pemimpin al-Qaeda Osama bin Laden, Jamaat al-Tauhid wal Jihad secara resmi menjadi sayap militer al-Qaeda di Irak. Tidak berapa lama setelah itu, Zarqawi melancarkan berbagai aksi teror di wilayah permukiman Sunni dan membunuh warga sipil yang menyebabkan terjadinya friksi antara kelompok-kelompok Sunni dan al-Qaeda.

Friksi tersebut semakin tajam sejak tahun 2005. Menghadapi situasi demikian, Zarqawi mendirikan kelompok “Dewan Mujahidin” sebagai organisasi yang lebih besar dan menyeluruh, dengan melibatkan al-Qaeda dan lima kelompok pemberontak pada April 2006.Terobosan tersebut berhasil meredam friksi dengan sejumlah kelompok Sunni Irak. Kemudian, Zarqawi memperkenalkan “Dewan Mujahidin” sebagai cabang al-Qaeda di Irak. Tidak hanya itu, ia juga mendeklarasikan dirinya sebagai Amir al-Qaeda di Irak.

Sejak itu, hampir seluruh kelompok Jihad ekstrem Irak menjadi Takfiri. Bahkan kelompok Sunni yang tidak mengikuti Zarqawi dinyatakan sebagai Kafir. Pada tahun 2006, Zarqawi dalam pesan suara yang disampaikan kepada Muslim Syiah Irak menyatakan perang. Pemimpin al-Qaeda Irak ini dalam pesannya menyatakan akan memisahkan kota al-Ramadi, Fallujah dan Baqubah yang dikenal sebagai segitiga Sunni Irak dari pemerintahan pusat. Untuk mewujudkan ambisi tersebut, Zarqawi mengeluarkan instruksi pemisahan ketiga kota itu. Tapi, sebelum dijalankan, Zarqawi tewas dalam sebuah serangan pada Agustus 2006 di tempat tinggalnya di sekitar Baqubah. Setelah kematian Zarqawi, Dewan Mujahidin memilih Abu Hamzah al-Muhajir sebagai penggantinya.

Pada tahun 2006, salah seorang tokoh takfiri bernama Abu Omar al-Baghdadi mendirikan “Negara Islam Irak” yang terdiri dari gabungan kelompok bersenjata al-Qaeda. Kelompok teroris ini melancarkan berbagai aksi teror di Irak sejak berdiri hingga tewasnya Abu Omar al-Baghdadi dan Abu Hamzah al-Muhajir oleh serangan pasukan AS pada 19 April 2010. Ketika itu, Negara Islam Irak hanya mengkhususkan daerah operasinya di Irak, sedangkan Suriah hanya dijadikan sebagai basis logistik untuk transfer senjata dan personil.

Setelah Abu Omar al-Baghdadi tewas tahun 2010, Ibrahim bin Awad bin Ibrahim bin Ali bin Muhammad Badri Hashemi Quraisysi Husaini yang dikenal dengan sebutan Abu Bakar al-Baghdadi diangkat menjadi pemimpin Negara Islam Irak. Pria kelahiran Samara tahun 1971 ini adalah doktor studi Islam lulusan Universitas Baghdad. Pada tahun 2005, Abu Bakar al-Baghdadi ditangkap pasukan AS dan dijebloskan ke dalam penjara kamp Buka, di selatan Irak, selama empat tahun karena melancarkan aksi teror. Pada tahun 2009, AS menutup kamp Buka dan al-Baghdadi dibebaskan dari tahanan.

Di tangan al-Baghdadi, Negara Islam Irak melancarkan berbagai operasi besar yang menjadikan kelompok teroris ini kian diperhitungkan. Serangan terhadap bank sentral Irak, kementerian kehakiman dan penjara Abu Ghuraib dan al-Haut yang menyebabkan larinya ratusan teroris, merupakan sejumlah aksi yang dilancarkan Negara Islam Irak di bawah pimpinan al-Baghdadi.

Seiring meletusnya krisis Suriah tahun 2011, Front al-Nusra yang dipimpin Abu Muhammad al-Julani melancarkan pertempuran melawan pemerintah Damaskus. Dengan mempertimbangkan dekatnya pandangan Front al-Nusra dan Negara Islam Irak, pada tahun 2013 Abu Bakar al-Baghdadi menyampaikan pesan suara yang menegaskan bahwa Front al-Nusra merupakan perpanjangan dari Negara Islam Irak dengan nama baru “Negara Islam Irak dan Syam” atau ISIS.

Kelompok teroris ISIS berkeyakinan bahwa perbatasan antara Irak dan Suriah sebagai akibat terpecahnya imperium Ottoman dan hasil kesepakatan Sykes-Picot antara Inggris dan Prancis pasca perang dunia pertama harus dihapuskan, dan perbatasan kedua negara Islam harus dikembalikan sebelum perang dunia pertama.

Abu Bakar al-Baghdadi berkeyakinan bahwa Front al-Nusra harus berada di bawah naungan ISIS. Tapi Ayman al-Zawahiri selaku pemimpin al-Qaeda menentang keputusan al-Baghdadi tersebut. Al-Zawahiri memandang daerah operasi Negara Islam Irak hanya terbatas di negara itu saja. Oleh karena itu, Ayman al-Zawahiri tidak mengakui ISIS yang memasukkan Suriah dalam wilayah kekuasaannya. Dampak keputusan al-Zawahiri ini melahirkan konflik bersenjata antara ISIS dan Front al-Nusra, yang didukung al-Qaeda pusat di Suriah. Pertempuran antara kedua kelompok teroris itu menyebabkan sekitar 2.000 orang tewas dari kedua belah pihak.

Di tengah penentangan keras al-Zawahiri terhadap kehadiran ISIS di Suriah, milisi ISIS yang berpengalaman perang di Irak memasuki Suriah melalui perbatasan di wilayah timur negara Arab ini. Brigade ISIS dengan cepat menguasai sebagian wilayah provinsi Hasakah, di timur Suriah. Kemenangan ini menyebabkan ISIS semakin ekspansif melebarkan pengaruhnya di Suriah.

Kemudian, ISIS meningkatkan operasi teror di provinsi al-Anbar yang terletak di perbatasan Irak dan Suriah, untuk menguasai wilayah strategis tersebut demi memudahkan transfer personil dan persenjataan kedua negara. Selama beberapa bulan, ISIS memusatkan operasi teror di provinsi al-Anbar Irak untuk menyambungkan wilayah Irak itu dengan Deir al-Zour dan Hasakah di Suriah. Untuk mewujudkan tujuan tersebut, ISIS meningkatkan perekrutan besar-besaran dari berbagai penjuru dunia. Dengan bertambahnya personil ISIS di Suriah, kelompok teroris ini mulai bergerak dari wilayah timur menuju utara dan akhirnya menguasai kota Aleppo.

Tapi ISIS di Suriah mendapat perlawanan keras dari militer yang didukung rakyat negara Arab itu. Oleh karena, kelompok teroris ini kembali memusatkan operasinya di Irak. Pada Januari 2014, ISIS memulai serangan ke arah pusat militer Irak di Kota al-Ramadi dan Fallujah. Setelah menguasai Mosul, ISIS meningkatkan serangan ke provinsi Salahuddin dan kota-kota lainnya di Irak. Setelah menguasai Mosul dan melakukan berbagai kejahatan besar dengan bantuan antek-antek rezim Saddam, ISIS mendeklarasikan berdirinya “Khilafah Islam” dan Abu Bakar al-Baghdadi yang mengangkat dirinya sebagai Khalifah mengganti nama “Negara Islam Irak dan Suriah” menjadi “Negara Islam”. [ARN]

About ArrahmahNews (12177 Articles)

Media Pencerahan Rakyat

1 Trackback / Pingback

  1. Jika Abu Bakar al-Baghdadi Benar Mati. Lantas Apa Berikutnya ? | VOA ISLAM NEWS

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: