News Ticker

Allan McLeod: Proyek Islamphobia di Eropa Menuai Jalan Buntu

ARN0012004001511224_AS_Gagal_Mengkampanyekan_Islamphobia_di_EropaArrahmahnews.com - Meskipun sebagian besar media korporasi cenderung menggambarkan Islam sebagai ancaman terhadap keamanan dan integritas masyarakat Barat, ternyata dalam perkembangannya masyarakat Barat menyadari sifat damai dari kaum Muslim.

Setelah serangan mematikan 3 Januari di kantor majalah Charlie Hebdo satir, Paris. Kemudian menstigma Muslim sebagai "Teroris", kelompok sayap kanan di Eropa mulai mengintensifkan kampanye anti-Islam, mereka menyerukan demonstrasi dan kegiatan promosi terhadap ancaman "Islamisasi" di Eropa. 

PEGIDA adalah pelopor dalam perjuangan dan sponsor beberapa demonstrasi di Jerman dan negara-negara Eropa lainnya terhadap umat Islam. PEGIDA (Patriotik Eropa Terhadap Islamisasi Barat) adalah sebuah organisasi sayap kanan yang berbasis di kota Jerman Dresden. Didirikan pada Oktober 2014.

Namun, aksi-aksi unjuk rasa pembenci Islam dan Islamofobia di Eropa, mendapatkan gelombang protes dari orang-orang Eropa dengan melakukan aksi sama turun ke jalan untuk menghilangkan stigma buruk kepada islam dan pernyataan bahwa Islam tidak mengancam keamanan di Eropa. 

Seorang penulis Inggris dan aktivis yang ikut dalam kontra-protes di Inggris mendukung hak umat Islam untuk hidup dalam masyarakat Barat secara bebas dan tanpa dianiaya. Islamophobia adalah rasisme, dan warga Eropa secara keseluruhan tidak mendukung kebencian terhadap umat Islam dan diskriminasi terhadap mereka atas dasar agama mereka.

“Sebagai orang Eropa yang mengidap Islamofobia yang selalu diteriakkan oleh sayap kanan (Patriotik Eropa Terhadap Islamisasi Barat) tidak mewakili kita, itu aspirasi mereka bukan penduduk eropa” kata Allan-Stuart j. McLeod.

Allan McLeod adalah seorang penulis dan aktivis yang berbasis di Teesside. Dia telah mengatur dan mengambil bagian dalam protes melawan rasisme dan fasisme dari sayap kanan. Tulisan-tulisannya selalu dimuat di newsletter dan majalah online.

Mr McLeod dalam sebuah wawancara dengan FNA, menyatakan sudut pandang nya mengenai munculnya Islamophobia di Barat, terutama negara asalnya, dan reaksi publik atas prasangka anti-Muslim. 

Kelahiran PEGIDA 

Kota Dresden, yang menjadi tempat kelahiran Pegida, memiliki sejarah kelam gerakan anti-Islam. Pada Juli 2009, Marwa El-Sherbini gugur ditikam pisau sebanyak 18 kali tusukan di depan suami dan anaknya sendiri yang berusia tiga tahun ketika berada di pengadilan Dresden. Ironisnya, suami Marwa ditembak pihak keamanan pengadilan Dresden ketika berusaha melindungi isterinya yang diserang dengan senjata tajam oleh pemuda Jerman bernama Alex W. Marwa menuntut Alex di pengadilan, karena telah menyebutnya sebagai teroris, hanya karena Muslimah Mesir ini mengenakan berjilbab. Sedangkan suami Marwa, yang berusaha menolong isterinya, justeru ditembak oleh polisi yang menjaga ruang sidang. Akibat tembakan itu, suami Marwa mengalami luka serius.

Pegida memulai aktivitasnya dari Dresden yang menyebar ke berbagai kota besar Jerman lainnya. Kemudian, para pendukung gerakan anti-Islam ini mengorganisir berbagai aksi unjuk rasa dan propaganda Islamophobia di berbagai negara Eropa seperti Austria,  Swedia, Denmark dan Inggris. Meskipun gerakan yang menentang Pegida di Eropa juga tidak kecil dari hari kehari semakin gencar.

Lebih dari sekedar unjuk rasa dan propaganda anti-Islam, serangan terhadap imigran Muslim juga semakin masif. Berdasarkan data statistik  Jerman, serangan terhadap imigran di negara ini melebihi wilayah lainnya di Eropa. Pada tahun 2013, terjadi sebanyak 159 kasus penyerangan. Jumlah tersebut, naik di tahun 2014 menjadi 179 kasus.

Pegida memanfaatkan sentimen anti-imigran yang marak di Jerman untuk menarik dukungan besar terhadap gerakan anti-Islam di Eropa. Dengan mempertimbangkan tingginya imigran Muslim yang datang dari negara-negara Islam ke Eropa, faktanya gerakan anti imigran tidak lain dari gerakan anti-Islam dan pembatasan lebih ketat terhadap Muslim di Eropa.

Di Jerman muncul keyakinan bahwa kelompok Pegida memainkan peran penting sebagai gerakan anti imigran. Dilaporkan, para pendiri Pegida adalah orang-orang yang memiliki rekam jejak kriminal. Der Spiegel memberitakan, anggota dewan pendiri Pegida memiliki masalah kriminal, bahkan sebagian pernah menjalani hukuman penjara.

Menurut majalah mingguan Jerman ini,  kebanyakan anggota kelompok Pegida adalah hooligan sayap kanan ekstrem pendukung klub sepakbola kota Dresden. Fakta lain yang tidak bisa dipungkiri, sebagian pendukung Pegida adalah pengikut Neo-Nazisme. Dalam sebuah polling yang digelar belum lama ini mengenai kelompok tersebut menunjukkan bahwa sepertiga rakyat Jerman tidak menentang keberadaan kelompok Pegida. Bahkan, sebanyak 65 persen responden menilai Kanselir Jerman tidak menaruh perhatian besar terhadap masalah imigran yang datang ke Jerman.

Gerakan anti-imigran dan anti-Islam di Eropa memiliki kesamaan konsepsi. Partai sayap kanan moderat yang tidak bisa menyuarakan sikap anti-Islamnya, bersembunyi di balik topeng gerakan anti-imigran, dan menciptakan berbagai pembatasan terhadap para imigran dengan target melancarkan Islamophobia.

Beberapa tahun lalu, Kanselir Jerman, Angela Merkel mengakui kegagalan terwujudnya mutikulturalisme di Eropa, terutama Jerman. Kemudian, pernyataan kanselir Jerman tersebut juga dibenarkan oleh Nicolas Sarkozy yang saat itu menjabat sebagai presiden Prancis, dan perdana menteri Inggris, David Cameron.

Sebelumnya, multikulturalisme menjadi proyek prestisius negara-negara Eropa sebelum dinilai gagal penerapannya oleh para pejabat tinggi mereka sendiri. Kini, alih-alih menciptakan keragaman budaya dan kehidupan yang harmonis antarbangsa dan budaya yang beragam di Eropa, Para pejabat negara Eropa justru menelorkan prakarsa baru dengan menggulirkan Islam Eropa, dan menyatukan budaya Muslim Eropa dengan masyarakat Barat. Berdasarkan prakarsa tersebut, Muslim Eropa harus hidup dengan tatanan budaya Eropa.

Dalam sejumlah prakarsa disebutkan mengenai penggabungan imigran dalam budaya Jerman. Salah satunya, prakarsa bagi imigran untuk berbicara dengan bahasa Jerman di rumah mereka. Selain itu, pembatasan di sekolah Muslim dalam penggunaan bahasa Arab dengan alasan menghadapi ancaman radikalisme dan esktremisme.

Sebagian prakarsa tersebut bukan hanya sekedar konsep di atas kertas saja, tapi dengan berlalunya waktu menjadi undang-undang yang meningkatkan tekanan terhadap imigran dan eskalasi Islamophobia. Contoh paling nyata adalah larangan bagi guru berhijab di sekolah-sekolah negeri di Jerman.

Pada awalnya masalah tersebut hanya konsep di atas kertas, tapi kemudian menjadi undang-undang yang mendapatkan kekuatan hukum dari negara. Dalam kasus ini, Prancis berada di garda paling depan. Padahal, negara ini mengklaim sebagai pendukung kebebasan dan demokrasi. Kemudian, negara-negara Eropa lainnya mengikuti jejak Prancis dalam melakukan pembatasan ketat terhadap Muslim di negara masing-masing.

Kondisi tersebut berlangsung di saat Prancis merupakan negara dengan jumlah populasi Muslim terbesar di benua Eropa. Berdasarkan prinsip Liberal Demokrasi Barat sendiri, seharusnya Prancis memberikan kebebasan kepada warga Muslim, termasuk kebebasan menjalankan keyakinan agamanya. Ironisnya, pemerintah Prancis alih-alih mengakui hak Muslim, tapi justru meningkatkan pembatasan terhadap imigran dan mendukung gelombang Islamophobia di negaranya sendiri.

Pengakuan terhadap kegagalan program multikulturalisme, dan prakarsa penyatuan budaya imigran dengan masyarakat Barat menunjukkan jawaban para pejabat tinggi negara-negara Barat terhadap kekhawatiran meningkatnya jumlah Muslim di Eropa. Padahal selama ini mayoritas Muslim Eropa bisa hidup harmonis.

Dengan bangsa-bangsa lainnya, termasuk pribumi. Pemerintah Barat juga terus menerus menyebarkan citra buruk mengenai Islam dan Muslim yang mereka identikkan dengan teroris. Barat mengaitkan aksi teroris ISIS dan al-Qaeda dengan agama Islam. Padahal Islam sejati menyebarkan perdamaian, keadilan dan kasih sayang.

Propaganda masif Islamophobia di Eropa menyulut lahirnya media satir anti-Islam seperti Charlie Hebdo yang membuat kartun menistakan Rasulullah Saw. Ironisnya, terbitnya kartun yang menghina Rasulullah Saw tersebut berlindung di balik kebebasan berekspresi. Tapi pada saat yang sama menerapkan standar ganda dengan membatasi aktivitas beragama Muslim di Eropa. Lahirnya Pegida, bukan hanya sebatas menentang kehadiran imigran, tapi juga bukti nyata dukungan pemerintah dan media Barat terhadap gerakan anti-Islam di Eropa. [ARN] 

 

 

About ArrahmahNews (15805 Articles)
Media Pencerahan Rakyat

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: