News Ticker

Pemilu Turki, Bencana Bagi Erdogan

Arrahmahnews.com, ANKARA - Peserta pemilu Turki telah menyampaikan kekuatan demokratis mereka. Kini ada dua pecundang dan satu pemenang yang sangat jelas dalam pemilu ini.

Pecundang itu adalah Presiden Recep Tayyip Erdogan dan partainya yang konservatif, AKP(Partai Keadilan Dan Pembangunan), yang mendukungnya di setiap langkah yang ia tempuh. Sementara itu, disisi lain, Partai pro Kurdi, HDP, karena ini untuk pertama kalinya partai itu memenangkan lebih dari 10 persen suara yang diperlukan untuk bisa memenuhi representasi parlemen dan berhak masuk ke Majelis Agung Nasional Turki.

Hasil pemilu kemarin adalah bencana bagi Erdogan. Dalam aspirasinya mengubah Turki menjadi pemerintahan republik presidensial, Erdogan bagai meletakkan semua telurnya dalam satu keranjang. Ia berkampanye penuh sepanjang beberapa minggu kemarin mengelilingi Turki secara terus-menerus tanpa perduli telah melanggar kewajiban netralitasnya sebagai presiden bangsa itu.  Lagipula, ia tidak menghindari serangan verbal dan juga kritik dari partai-partai lawannya.

ARN0012004001511372_Pemilu_Turki

Erdogan dan penerusnya yang memimpin pemerintahan dan AKP, Ahmet Dayutoglu tak disukai  para pemilih, karena dianggap telah menyalahgunakan agama demi mencapai tujuan-tujuan politiknya. Dari hasil 99,9 persen suara yang telah dihitung, AKP hanya berhasil meraih 41 persen suara dari pemilih. Sesuai proyeksi AKP akan mendapatkan 258 kursi, kurang 18 kursi dari minimun yang diperlukan untuk menjadi mayoritas.

Kemunduran terbesar AKP datang bersamaan dengan berhasilnya Partai HDP untuk pertama kali masuk ke dalam parlemen. Hasil awal meyatakan partai pro-Kurdi tersebut berhasil meraih 13 persen suara. Lompatan HDP di atas ambang batas akan membawanya ke dalam posisi signifikan di Parlemen.

Kemenangan AKP yang pertama adalah 34 persen dibawah kepemimpinan Erdogan pada tahun 2002. Kemenangan selanjutnya yang merupakan kemenangan besar karena mencapai 50 persen terjadi 4 tahun lalu, kemudian lagi kemenangan diperoleh sebesar 52 persen suara yang lagi-lagi membawa Erdogan ke kursi kepresidenan setahun yang lalu.

Kini, dia harus menelan kekalahan dengan menurunnya jumlah suara yang diperoleh, hanya sekitar 40 persen. Harapan Erdogan hancur sudah, dan yang tertinggal hanyalah sekedar ilusi.  Ia bahkan tidak sampai mendapatkan dua pertiga suara yang diperlukan untuk membawanya memperoleh kekuasaan utama guna menjadi kandidat terkuat meraih kursi kepresidenan.

ARN0012004001511373_Pemilu_Turki

Kekalahan pertama dari mayoritas mutlak itu kini memaksa AKP untuk membentuk koalisi pemerintahan dengan partai lain. Karena jika tidak, maka partai tersebut beresiko hanya menjadi oposisi, dan nasibnya menjadi tak jelas. Selama dua puluh tahun terakhir, biasanya semua partai yang berkuasa di Turki akan menghilang begitu pemimpinnya naik menjadi presiden.

Sebagaimanapun mereka tidak suka dengan kekalahan yang diterima, Erdogan dan AKP tetap harus menelan pil pahit itu. Di saat yang bersamaan pula, tiga partai yang selalu berada di oposisi hingga hari ini, harus menghindari berpuas diri dalam bentuk apapun. Mereka sebenarnya telah diuntungkan dengan sikap sombong Erdogan dan partai AKPnya, yang untuk saat ini sedang “diingatkan” atas keterbatasannya.

0,,18385197_303,00

Kini, pemenang yang sesungguhnya, partai pro Kurdi, Partai Demokratik Rakyat Turki(HDP), tidak seharusnya beristirahat, atau jika tidak maka akan beresiko menghadapi pemilihan ulang di musim gugur nanti dan oposisi ekstra parlementer yang baru. (Setelah konfirmasi resmi dari petugas selama periode 45 hari, maka pemerintah akan memutuskan apakah akan membentuk pemerintahan atau menggelar pemilihan baru.) Dua pimpinan partai, Selahattin Demirtas dan Figen Yuksekdag, harus menyadari bahwa taktik pemilihan suara dari partai-partai lain secara tidak langsung menambah perolehan suara mereka dan membantu mereka menuju kesuksesan.

Penolakan rencana Erdogan untuk merangkul semua masyarakat, telah mencegah Erdogan memperkuat cengkeramannya dan menjauhkan Turki dari demokrasi pluralis.

Kini HDP harus membuktikan klaimya sebagai partai demokratis bagi semua masyarakat dan bukan hanya sebagai sayap politik dari organisasi milisi Kurdi, PKK.  Bagaimanapun juga setelah tewasnya 40.000 orang dalam konflik antara PKK dan negara Turki di tahun 1984, nasionalis sayap kanan dan sayap kiri bagaikan sedang menunggu waktu yang tepat untuk menggulingkan HDP dari pemerintahan lagi.

Ekstrimis sayap kanan seperti tidak bisa menerima kenyataan bahwa HDP telah memenangkan  jumlah kursi yang sama dengan nasionalis MHP. HDP juga bisa saja menghadapi konsekwensi fatal jika mereka menggunakan taktik politik untuk membebaskan Abdullah Ocalan, pimpinan PKK yang telah dipenjara selama 16 tahun.(lm/dw)

Ditulis: Bahaeddin Güngör (gro)

About ArrahmahNews (16643 Articles)
Media Pencerahan Rakyat

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: