News Ticker

Tertundanya Kesepakatan Damai Nuklir Iran 30 Juni

Arrahmahnews.com, WINA - Sekretaris Negara Amerika Serikat, John Kerry, menggambarkan pertemuannya pada Selasa dengan Menteri Luar Negeri Iran, Muhammad Javad Zarif sebagai sesuatu yang “baik”. Menunjukkan optimisme terhadap perundingan meski batas waktu akhir yang ditetapkan sebelumnya pada hari itu, 30 Juni 2015 belum mencapai kesepakatan final.

perundingan nuklir iran“Kami melakukan perbincangan yang baik,” ungkap Kerry setelah pertemuan empat mata dengan negoisator tertinggi Iran, hari itu di Wina, Austria, Selasa (30/6).

Sementara itu, Menlu Iran, Muhammad Javad Zarif, dalam hal ini menggaris bawahi penekanan untuk melanjutkan perundingan nuklir dengan enam negara kuat lain demi mencapai kesepakatan akhir.

"Saya tidak pergi tanpa mendapatkan mandat. Saya sudah memiliki mandat untuk bernegosiasi. Saya di sini untuk mendapatkan kesepakatan akhir, dan saya pikir kami bisa," kata Zarif.

Komentar mereka (Zarif dan Kerry) ini diungkapkan setelah Zarif kembali ke Austria bersama dengan kepala Organisasi Energi Atom Iran (AEOI), Ali Akbar Salehi dan Hossein Fereydoon, saudara Presiden Ruhani dan ajudannya untuk meneruskan pembicaraan.

Menlu Iran yang mengunjungi Wina pada hari Sabtu lalu untuk melakukan pembicaraan dengan rekan-rekan dari enam negara kuat dunia itu, sebelumnya sempat kembali terlebih dulu ke Teheran pada hari Minggu, dan kembali lagi ke Wina pada hari Selasa.

Menlu Zarif dan para delegasi Iran

Menlu Zarif dan para delegasi Iran

Setelah kurang lebih dua jam pertemuan antara Zarif dan Kerry, tak lama kemudian Salehi, Fereydoun, wakil Menlu Iran Majid Takht Ravanchi dan sayed Abbas Araqchi, Sekretaris Energi AS, Ernest Moniz dan negoisator senior AS, Wendy Sherman bergabung dengan Menlu Iran dan Sekretasi negara AS tersebut.

Diplomat tertinggi Iran itu kemudian dikabarkan akan mengadakan pertemuan dengan rekan Rusianya, Sergei Lavrov dan ketua Badan Energi Atom Iternasional (IAEA), Yukiya Amano di sore harinya.

Sekembalinya ke Wina pada hari Selasa kemarin, Zarif mengingatkan tentang sensitifitas tinggi dari Teheran kepada negara-negara P5+1 mengenai upaya terakhir untuk mencapai kesepakatan nuklir, dan mengatakan negaranya menginginkan kesepakatan yang adil dan seimbang.

“Perundingan telah sampai di tahap yang sensitif,” ungkap Zarif kepada wartawan.

Ketika ditanya mengenai kehadiran kepala Organisasi  Energi Atom Iran (AEOI), Ali Akbar Salehi yang dikabarkan sakit dalam perundingan nuklir tahap akhir antara Iran dengan kelompok P5+1(AS, Rusia, China, Inggris dan Perancis plus Jerman), Zarif mengatakan bahwa kehadiran Ali Salehi kedalam perundingan padahal ia baru saja menjalani operasi medis, mengindikasikan keseriusan Iran dalam perundingan ini.

Menekankan bahwa perundingan itu “mengalami kemajuan pasti”, Menlu Iran tersebut   mengatakan, “Kesepakatan yang berkelanjutan membutuhkan tekad politik. Teheran akan menerima kesepakatan yang adil dan seimbang.

“Pihak sebelah tahu bahwa kesepakatan yang baik tidak bisa dicapai tanpa menerima hak-hak Iran,” tambahnya.

kerry

Kerry

Sementara itu, seorang anggota dari tim negoisasi Iran mengumumkan pada hari yang sama bahwa perundingan antara Teheran dan negara-negara kuat lainnya bergerak maju, namun dalam gerakan yang lambat.

“Pembicaraan akan diteruskan pada hari ini dihadapan (Menlu Iran) Mohammad Javad Zarif di Wina pada level kementerian dalam metode untuk menyelesaikan perbedaan yang tersisa dan juga rincian-rincian penting lainnya,” ungkap anggota tim negosiasi Iran tersebut kepada FNA.

Menekankan bahwa menteri luar negeri Iran, AS dan Rusia serta wakil-wakil mereka masih terus melakukan perundingan di Wina, ia berkata, “Urusan ini cenderung  bergerak maju, tapi sangat lambat,” ungkapnya.

Sumber itu juga menggaris-bawahi bahwa karena pentingnya isu-isu yang masih tersisa maka negoisasi masih akan berlanjut untuk beberapa hari kedepan. Selasa yang lalu, Ayatullah Ali Khamenei mengatakan bahwa Iran menginginkan sebuah kesepakatan namun yang adil yang mencakup saling memberi dan menerima dalam bobot yang sama.

Ayatullah Ali Khamenei menyatakan bahwa Amerika juga melakukan upaya untuk menghapus keberhasilan besar bangsa Iran dari industri nuklir dengan tetap menjaga tekanan dan sanksi terhadap Republik Islam.

Pemimpin Revolusi Islam itu mengatakan Iran selalu membuat tuntutan rasional sejak awal pembicaraan dengan negara P5+1 dan menekankan bahwa semua “sanksi kejam” terhadap Tehran atas program nuklirnya harus dihapus.

Ayatullah Ali Khamenei juga memuji tim negoisator nuklir Iran untuk kesetiaan dan keberanian mereka dalam perundingan dengan enam kekuatan dunia, dan mengatakan bahwa para negoisator  cermat melakukan upaya untuk menyelesaikan masalah.

Pertama-tama, Pemimpin Iran tersebut mengingatkan sejarah negosiasi yang kini tengah berlangsung, dan mengatakan Iran memulai pembicaraan dengan Washington atas masalah nuklir setelah Presiden AS mendesak Teheran yaitu pemerintahan Iran yang sebelumnya melalui pihak ketiga untuk memulai pembicaraan bilateral.

Ia juga mengatakan bahwa hal itu karena AS menyadari pihaknya tidak memiliki pilihan lain selain mengajukan permohonan seperti itu setelah melihat bahwa semua tekanan berat pada Teheran telah gagal membawa negara itu bertekuk-lutut.

Ayatullah Khamenei mengatakan bahwa Amerika telah berjanji untuk mengakhiri semua sanksi dalam waktu 6 bulan setelah pembicaraan dimulai, namun pada kenyataannya Amerika kemudian mengubah 6 bulan menjadi satu tahun, dan kemudian negosiasi diperpanjang dengan berulang-ulang membuat tuntutan yang berlebihan dan bahkan ancaman untuk meningkatkan sanksi dan berbicara militerisme diatas dan di bawah meja”.

Pemimpin Iran itu kemudian menjelaskan penilaiannya tentang perundingan yang tengah berlangsung itu dan berkata, “Kontemplasi dan studi atas tren tuntutan yang dibuat oleh Amerika menunjukkan bahwa mereka bertujuan untuk menghapus industri nuklir Iran dan esensi nuklir negara itu serta mengubahnya menjadi sebuah “karikatur” dan sebuah jendela tanpa isi,” ungkapnya.

“Tujuan Amerika adalah untuk menghancurkan industri nuklir Iran dan entah bagaimana tetap memberlakukan dan tekanan dalam waktu bersamaan.”

Ayatullah Ali Khamenei mengatakan bahwa tujuan utama Washington adalah untuk membuat Iran menyerah dan menjadi negara yang berketergantungan, terutama  mengingat bahwa Iran adalah panutan bagi negara-negara lain. Karenanya AS  terus menerus melakukan tawar menawar dan begitu sering mengingkari janji demi tujuan tersebut.

Ayatullah Ali Khamenei mengatakan bahwa negosiasi dan kesepakatan berarti memberi dan menerima. “Kami telah menyatakan sejak awal bahwa kami ingin sanksi yang kejam itu dihapus, tentu saja, kami menerima untuk memberikan beberapa poin imbalan tetapi dengan syarat bahwa industri nuklir tidak dihentikan atau dirugikan,” ungkapnya.

Menguraikan tentang garis merah, Ayatullah Ali Khamenei mengatakan bahwa, “Berlawanan dengan kebersikerasan Amerika, kami tidak menginginkan pembatasan waktu  jangka panjang 10-12 tahun dan kami telah katakan kepada mereka mengenai jumlah batasan tahun yang bisa diterima,”

Ayatullah Khamenei juga menggambarkan dalam garis merah kedua, mengenai harus terus berlangsungnya penelitian dan pembangunan nuklir selama periode aktivitas nuklir terbatas dan mengatakan,”Mereka bilang kami tidak boleh melakukan apa-apa dalam jangka waktu 12 tahun, tapi tak diragukan lagi bahwa hal ini adalah salah dan mengintimidasi”.

Beliau kemudian menunjuk garis merah ketiga Iran dan mengatakan bahwa, “Semua sanksi ekonomi, keuangan dan perbankan, tak perduli hal itu terkait pada Dewan Keamanan ataupun Kongres AS maupun pemerintahan AS, harus segera diakhiri  tepat disaat kesepakatan disahkan, sedangkan sanksi lainnya juga harus segera dihapuskan dalam jarak waktu yang rasional”.

Pemimpin Iran tersebut juga mengatakan bahwa AS telah mengajukan rumus yang rumit, berlapis-lapis dan renggang  untuk penghentian sanksi namun tanpa jaminan hasil untuk Iran, “Tapi kami menyatakan bahwa poin kami dalam hal ini sangatlah eksplisit,” jelasnya menanggapi hal itu.

“Penghentian sanksi harus tergantung pada pemenuhan usaha Iran, mereka harus menghindari mengatakan bahwa kami harus melakukan usaha kami dan kemudian Badan (IAEA) perlu memverifikasi usaha itu dahulu sebelum sanksi dihapuskan, (karena) kita benar-benar tidak menerima  sesuatu seperti itu, ” tegasnya.

Pemimpin Iran tersebut lebih lanjut menegaskan bahwa  penghapusan sanksi oleh negara-negara tersebut harus sesuai dengan usaha yang dipenuhi oleh Iran, yang berarti bahwa sanksi yang akan dihapus harus memiliki bobot, nilai dan susunan usaha yang sama yang telah dipenuhi Iran.

“Kami menentang syarat yang menyatakan pemenuhan usaha pihak sebelah bergantung pada laporan (verifikasi) IAEA karena badan itu telah terbukti lagi dan lagi bahwa ia tidak independen dan adil; oleh karena itu kami memiliki pandangan pesimis tentang hal itu,” katanya.

Ayatullah Ali Khamenei mengatakan bahwa Barat telah mengatakan bahwa sebelum menghapuskan sanksi-sanksi tersebut, Badan Energi Atom Internasional harus diyakinkan terlebih dahulu, “Kata-kata irrasional semacam apa ini, bagaimana bisa Badan itu yakin, kecuali menginspeksi setiap inci tanah ini”.

Beliau kemudian menegaskan penolakan kerasnya terhadap “inspeksi tidak konvensional, interogasi terhadap tokoh-tokoh Iran dan penyelidikan terhadap pusat-pusat militer”, dengan mengatakan bahwa mereka semua berada dalam garis merah Iran. Pemimpin Utama Iran tersebut kemudian menggaris bawahi bahwa Iran tidak akan pernah menyetujui kesepakatan semacam itu,

“Kami memang menginginkan penghapusan sanksi, namun kami melihat hal itu sebagai kesempatan dari sudut yang berbeda karena sanksi-sanksi itu telah menyebabkan kami untuk lebih memperhatikan kekuatan dan kapasitas domestik kami”. (ARN/MM/FNA)

About ArrahmahNews (13481 Articles)
Media Pencerahan Rakyat

1 Trackback / Pingback

  1. Analis; Israel Paksakan Amerika Perangi Iran | Salafy News

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: