Hadiah “SARA” Kaum Radikal dari Tolikara, Ambon hingga Sampang

JAKARTA, Arrahmahnews.com – Kasus SARA adalah dagangan para pecinta intoleran, kasus SARA adalah produksi asing yang tidak mencintai kedamaian dan kerukunan, kasus SARA adalah makanan kaum radikal, kasus SARA adalah tunggangan para pencari rupiah, kasus SARA bencana toleransi beragama. Baca Kerusuhan Tolikara Wamena Papua dan Kecaman Umat Kristiani kepada GIDI

SAra

Kasus kerusuhan Tolikara pecah kaum radikal dan gerbong medianya, media-media yang sempat di blokir oleh pemerintah memberitakan kasus Tolikara sedemikian hebatnya, seakan-akan peristiwa itu sebagai bentuk pembelaan mereka terhadap Islam tapi di lain waktu media-media ini juga menghembuskan api sektarian, saya tidak habis pikir dengan ulah mereka yang mengaku jadi jagoan dan bodyguard “agama”, saya bertanya-tanya Islam seperti apa yang kalian bela? Islam seperti apa yang kalian yakini? Islam seperti apa yang kalian lakukan? Tidak ada surat mandat khusus dari Tuhan dan Nabi untuk kalian diperbolehkan membinasakan orang lain yang tidak satu keyakinan. Baca Kesaksian Warga Tolikara, Penyerang Masjid Bukan Warga Karubaga

Keanehan kaum radikal yang mungkin kita tidak sadari adalah ketika terjadi pemboman masjid-masjid di belahan dunia dan banyak muslimin meninggal kalian tenang-tenang aja tak seheboh Tolikara, anak-anak Palestina, Suriah dan Irak serta Libanon tiap hari terbunuh kalian diam-diam aja, ada apa ini?? Israel dan Amerika membantai muslimin kalian juga diam aja. Kalian kaum radikal hanya ingin mendulang intoleransi dan mandat kejahatan dan kemunafikan. Baca Kasus Kerusuhan Wamena, GIDI Penganut Kristen Radikal

Kisah-kisah nabi ketika melakukan peperangan tidak langsung menyerang tapi dilakukan dialog dan mencari solusi, dan mencari akar masalahnya, Nabi melakukan dialog perdamaian dan persatuan terlebih dahulu bukan seperti kalian main serang dan ingin berjihad menurut versi kalian dan bukan versi Islam.

Kasus-kasus SARA di Indonesia terjadi di daerah-daerah minus dan pedalaman. Kasus-kasus kerusuhan yang berbau SARA di Indonesia masih di dominasi oleh pelaku-pelaku lama dengan polesan wajah barunya, mereka adalah kelompok radikal baik dari Kristen maupun Islam yang jadi tunggangan kepentingan asing yang hanya untuk menghancurkan suatu Negara dan bangsa. Tidak ada kasus SARA yang murni di Indonesia, semua adalah akal-akal-an para penjajah kedamaian. Mari kita simak beberapa peristiwa-peristiwa mendunia kasus SARA yang terjadi di Indonesia, dan berlangsung pada saat hari raya.

Kasus SARA bukan masalah yang bisa disederhanakan juga oleh pemerintah, aparat dan tokoh-tokoh agama, pemerintah, aparat dan tokoh-tokoh agama yang pasti mereka akan meredakan konflik ini biar tidak merajalela kemana-mana, ini kasus lokal di Tolikara dan diselesaikan tingkat lokal dulu, pemerintah dan tokoh agama mencari solusi nyata dalam kasus ini, bukan malah kalian kaum radikal menjadi kompor pertikaian semakin meluas. Itulah kehebatan kaum radikal yang bersembunyi di balik wajah agama.

Sebaiknya kita sebagai umat Islam melakukan langkah-langkah positif dan riil dalam penyelesaian kasus ini, seperti yang dilakukan Joserizal Jurnalis dari MER-C yang akan membangun kembali masjid yang terbakar. Itu langkah nyata dan amat Islami sekali. ( Baca Joserizal: MER-C akan Bangun kembali Masjid di Tolikara) Kita harus melihat dan mengambil contoh dari sebuah Film India yang fenomenal “MY NAME IS KHAN” kisah tentang fenomena Islamofobia di Amerika Serikat pasca serangan 9/11. Masyarakat Amerika amat membenci umat Islam setelah peristiwa 9/11, tapi ada seorang muslim yang bernama Rizvan Khan yang menyuguhkan nilai-nilai kebaikan dan kemanusiaan yang dicitrakan pada sesosok pria yang tidak normal secara mental. Namun di tengah keterbatasan tersebut justru Rizvan-lah yang mampu mengetuk pintu hati jutaan rakyat Amerika tentang bagaimana agama itu mengajarkan keindahan, kedamaian dan penuh kasih sayang. Agama tidak pernah mengajarkan kebencian, dendam, dan pembunuhan atas nama jihad. Badai Katrina yang melanda Georgia menggerakkan Khan untuk menolong para korban, padahal bantuan dari pemerintah saja belum mencapai wilayah itu. Ia menolong para korban di rumah sakit, memperbaiki gereja, dan membantu pembangunan kembali daerah itu. Aksinya diliput oleh wartawan yang simpatik tadi. Akhirnya tindakan heroik ini diliput dan dibahas secara luas di media-media terkemuka di Amerika. Dalam sekejap Risvan Khan menjadi newsmaker. Dalam film ini ada kesan dan pesan sangat mendalam sekali bahwa Islam adalah agama damai dan penuh kasih sayang dan agama kemanusiaan. Jadilah KHAN yang nyata dalam menyikapi kasus SARA. Islam, bangsa dan negara, serta kedamaian tidak diuntungkan dalam semua kasus SARA. Baca Islam Agama Cinta dan Kasih Sayang Bukan Agama Radikal dan Kekerasan

Berikut ini ada contoh beberapa kasus SARA di Indonesia yang terjadi ketika hari raya Idul Fitri :

Kasus Ambon, Setidaknya, ada tiga peristiwa penting yang dapat dianggap sebagai bagian dari tragedi Idul Fitri berdarah 1999. Ketiga peristiwa itu adalah peristiwa Wailete tanggal 13 Desember 1998, peristiwa Air Bak 27 Desember 1998, dan peristiwa Dobo 14 dan 19 Januari 1999. Ini terjadi di Ambon dan akhirnya menjadi kasus SARA terheboh pada waktu itu. Bisa baca dan lihat di beberap media nasional dan internasional.

Kasus Sampang, “ Perayaan Lebaran ketupat warga Syiah di Dusun Nangkernang, Desa Karanggayam, Kecamatan Omben, Sampang, kemarin, berubah menjadi horor. Kejadian penyerangan pada Desember 2011 terulang. Satu orang tewas, empat orang lainnya kritis, dan puluhan rumah terbakar akibat penyerangan, Minggu, 26 Agustus 2012”. Baca Kasus SARA di Sampang

Kasus Tolikara, Pukul 07.00 WIT saat Jamaah muslim akan memulai kegiatan shalat Ied di lapangan Makoramil 1702-11/Karubaga Pendeta Marthen Jingga dan sdr. Harianto Wanimbo (koorlap) yang menggunakan megaphone berorasi dan menghimbau kepada jamaah shalat Ied untuk tidak melaksanakan ibadah shalat Ied di Tolikara. Baca Kronologi Kerusuhan Saat Sholat Ied di wamena, Tolikara Papua

Ketiga kasus di atas adalah sejarah. Dibaca, dipelajari, disimak, supaya kita semua belajar untuk TIDAK terjerumus ke lubang yang sama. Kita ingat konteks Ambon, Sampang, dan yang terbaru kasus Tolikara. Pemicunya juga sama, serangan oleh kelompok Radikal, justru pada hari Idul Fitri atau sesudah bulan puasa! (sebetulnya dalam pola intelijen, tidak penting siapa pelakunya karena bisa direkrut dari siapa saja dan dari mana saja, walau di-set up agar mencitrakan kelompok tertentu untuk memicu kerusuhan yang lebih luas).

stop sara di papua
Stop Provokasi SARA di Tanah Papua

Menurut sumber-sumber, gerakan kerusuhan Ambon, Sampang dan Tolikara waktu itu sebetulnya sudah terendus oleh intelijen. Lantas kenapa kerusuhan besar dan saling bunuh bisa tetap terjadi di Ambon, Sampang dan Tolikara? Untuk pertanyaan ini, ada beberapa dugaan: Pertama, Kasus itu dianggap remeh, sehingga meski sudah dilaporkan oleh intelijen, tidak ditangani secara memadai. Kedua, Kasus itu diketahui akan rusuh, tetapi sengaja dibiarkan untuk tujuan-tujuan tertentu. Jadi ada unsur rekayasa sejak awal, bukan spontanitas. Kita belum tahu persis pada kasus Papua 2015 ini, tetapi pada kasus kerusuhan Ambon dan Sampang kita ingat konteksnya. Situasi politik-ekonomi goyah (tidak stabil), ada kepentingan pihak asing, dan ada pihak-pihak yang merasa terancam (dan diduga memainkan kartu rusuh SARA untuk mengancam pihak lain yang mau menindak/memperkarakannya). Berdasarkan pengalaman rusuh Ambon dan Sampang, maka dalam kasus Papua 2015 saya mengimbau pada rekan-rekan media: Pertama, Hati-hati membuat berita, agar tidak menjadi kompor yang memanaskan suasana atau meningkatkan ketegangan antar-umat beragama. Kedua, Jangan memberi forum terlalu besar pada pihak-pihak yang ucapannya tidak menjernihkan atau menenangkan, tetapi justru cenderung mengeruhkan suasana dan mengobar-ngobarkan rusuh antar-umat beragama. Ketiga, Jangan menari sesuai irama gendang yang ditabuh para provokator, yang akan bersorak-sorak gembira melihat provokasinya berhasil merusuhkan Papua sebagai bagian dari Indonesia. Keempat, Pihak Pemerintah dan kepolisian harus tegas dan hadir dalam masalah ini, serta menangani kasus ini dengan cepat agar tidak berefek ke daerah lain. Buktikan bahwa media tidak bisa diperalat dan media bukanlah bagian dari upaya kelompok tertentu, yang ingin merusak dan menghancurkan kesatuan NKRI. Baca Gus Dur : Islamku, Islam Anda, Islam Kita

Selain politik dan ekonomi negara, masalah SARA juga harus diperhatikan secara khusus oleh pemerintah. Karena selama diskriminasi SARA masih ada, negara kita akan susah untuk lebih maju dan menjadi kepribadian bangsa yang dapat dipatuhi. Baca KERUSUHAN TOLIKARA ANTARA PROPAGANDA ASING DAN GERAKAN PEMECAH BELAH BANGSA

dangerDibutuhkannya kebijakan yang tegas dan konkret dalam pengendalian diskriminasi ini agar terciptanya lingkungan yang sejahtera dan pembangunan bangsa yang sempurna. Berikut beberapa cara dan saran pengendalian diskriminasi SARA :
1. Tidak terikat dengan perbedaan-perbedaan yang ada.

2. Hargailah apa yang sesama miliki 

3. Menciptakan suasana gotong royong

4. Tindakan dan sanksi tegas atas penyelewengan HAM

5. Menghindari sikap fanatisme di dalam kelompok

Marilah ciptakan bangsa yang penuh toleransi, sikap hormat dan saling menghargai. NKRI HARGA MATI JANGAN DI PECAH BELAH OLEH KAUM RADIKAL DAN MEDIANYA. (ARN/MM/Abu Hamzah)

*Penulis Abu Hamzah seorang aktifis gerakan Kemanusiaan di salah satu Yayasan Kemanusiaan di Indonesia.

About Arrahmahnews 31268 Articles
Media Aktual, Tajam dan Terpercaya

1 Komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.