NewsTicker

Misteri Perang Yaman Terungkap

Penulis ; Chaterine Shakdam *

JAKARTA, Arrahmahnews.com - Sebuah negara diusik, Yaman terus dicengkram perang, terperangkap dalam konflik penuh pergolakan yang bisa jadi berubah menjadi invasi di selatan Arabia oleh tentara-tentara ISIS. Bagaimana jika ternyata Houthi bukanlah musuh tapi melainkan gerakan perlawanan?

catherine-shakdam

Catherine Shakdam

Jika dari awal perang Yaman, 25 Maret lalu, Arab Saudi secara sepihak memproklamirkan nafsunya untuk “memerdekakan” negara itu dari pengaruh Houthi, dan untuk mengembalikan legitimasi politik Yaman kepada seseorang yang telah mengundurkan diri sekali, yang melarikan diri dua kali, Presiden Abdo Rabbo Mansour Hadi, maka  kerajaan al-Saud telah gagal menyangkal bahwa agenda mereka sesungguhnya adalah untuk membuka Yaman dan mengambil-alih negara itu secara radikal.

Untuk mereka yang terus berada dalam ilusi bahwa perang di Yaman bertujuan untuk memberantas apa yang disebut kebangkitan Syi’ah dan meningkatnya pengaruh Iran di Timur-Tengah terutama di semenanjung Arab, Jangan salah! Kapitalis dunia hanya mencari satu hal, yaitu menanamkan benih-benih terror, dan melihatnya menghasilkan jutaan dolar.

Bagi neo-imperialis di seluruh dunia, ada lebih banyak uang yang bisa dihasilkan melalui cara  menciptakan kekacauan daripada menjaga perdamaian. Dan karena instabilitas dan ekstrimisme selama ini selalu dimainkan dalam paduan yang sempurna dengan perang bualan Amerika, yang berakting sedang meramalkan peristiwa horor dan pertumpahan darah yang akan terjadi  demi  membenarkan adanya intervensi militer, maka mengapa harus menghentikan (untuk menciptakan kekacauan) hanya di Irak dan Suriah? (Baca Perang Yaman Merubah Peta Politik Kerajaan Saudi)

Boneka-boneka di tangan imperialis Amerika (ada banyak di Saudi), yang telah mengorbankan paranoia politik mereka sendiri. Mereka menjadi tawanan atas kejahatan yang telah mereka ciptakan dari kursi kekuasaan serta legitimasi agung mereka yaitu, Wahabisme.

Dipaksa untuk bersaing dengan meningkatnya ambisi Wahabisme, Raja Salman terpaksa memainkan sebuah permainan “memberi dan menerima” yang berbahaya demi mencegah mereka menguasai rumahnya.

Sumber asli dari ideologi yang disebut kekuatan barat sebagai “Islam Radikal” yaitu Wahabisme itu, telah menjadi hama yang berkembang dalam kerajaan, yang menyeru dan mencari-cari alasan untuk melakukan perang sektarian yang besar melawan apa yang mereka anggap musuh, yaitu Syiah Islam. (Baca Wahabi Mulai Hancurkan Kubah Habaib di Mukalla)

Dan karena Yaman telah lancang berani menolak diktat Riyadh, namun justru lebih memilih untuk bergabung dengan gerakan perlawanan non aliansi pan Arab, negara miskin itu kini mendapati dirinya dikeroyok badai kemarahan. Konflik Yaman tentu saja berlapis-lapis dan multi dimensi. Geografi Yaman dan sumber alamnya sebagai contoh, sudah sejak lama menjadi sumber kecemburuan dan menjadikannya pusat sasaran. (Baca Serangan Koalisi Saudi Brutal )

Diatas nafsu Saudi untuk mengendalikan kekayaan alam Yaman dan mentransformasi wilayah itu menjadi calon basis permainan globalisasi besar-besaran ini, mari kita jangan menyepelekan peran wabah hitam, ISIS, dalam mendukung agenda terselubung ini.

Seseorang mungkin melihat rencana pertempuran darat Saudi yang menyajikan perspektif menarik, yang bisa dianggap  mengkhianati tujuan utama kerajaan, yaitu memecah-belah Yaman  jika tidak bisa menaklukkannya.

Jika kita berasumsi bahwa Riyadh berniat untuk menghabisi Houthi di tempat dimana mereka berada, dan mengembalikan sekutu politik raja Salman, kepada Hadi, lalu mengapa mengkonsentrasikan begitu banyak kekuatan bersenjata di Selatan Yaman? Dimana kelompok (Houthi) itu hanya memiliki fraksi yang sedikit di sana? Mengapa mengubah Aden, sebuah permata geopolitik menjadi garis depan utama perang ini?

Hingga kini kebanyakan ahli berargumentasi bahwa Saudi berusaha mengganggu setiap bantuan potensial Iran untuk Yaman, memblokir garis pantai negara itu terhadap dunia luar demi lebih mempersempit gerakan perlawanan Houthi. Dan meski hal itu telah dengan jelas terbukti kebenarannya, namun hal itu sebenarnya meninggalkan sisi lain yang lebih gelap, desain lain yang jauh lebih berbahaya, yaitu persiapan aneksasi (pencaplokan) Yaman oleh pasukan ISIS.

Tidak seperti wilayah Yaman Utara yang selalu menolak pandangan-pandangan radikal Al-Qaeda karena warisan Zaidinya, Yaman Selatan telah terbukti lebih mudah menerima paham Wahabisme dan saudara terornya, Salafisme. Dalam konteks ini, pertempuran di Aden lebih masuk akal bagi Saudi.

Sumber-sumber militer terkait Houthi di Aden telah mengkonfirmasi bahwa aliran senjata begitu besar telah disalurkan ke kota tersebut, tanpa dicek, tanpa tantangan apapun akibat meningkatnya konflik. Senjata-senjata itu, sebagaimana telah diperingatkan pejabat Garda Republik, menuju langsung kepada sel-sel tidur Al-Qaeda. (Baca Arab Saudi bukan “Negara Islam”, Tapi “Penjual Islam”)

Laporan keamanan pra perang yang tak terhitung jumlahnya telah lama menyatakan bahwa menjelang rencana pengambil alihan Aden, milisi-milisi radikal telah menyusup ke Aden dan beberapa provinsi sekitarnya, menunggu sang pemimpin untuk membuat jam berdering, dan ketika banyak yang beranggapan bahwa kepala ularnya ada di Abyan (selatan provinsi Yaman), dimana Al-Qaeda pernah mengklaim ke khalifhannya sendiri (2012), mungkin mereka semua melewatkan tulisan Wall Street Journal. Bagaimana jika kepemimpinan yang sebenarnya  duduk di Riyadh? Yang menggunakan intervensi sanksi militer Barat di selatan Arabia itu  untuk memenuhi apa yang tidak pernah bisa dipenuhi sebelumnya?

Jika laporan di Wall Street Journal selalu bisa dijadikan acuan, maka Yaman bukan sekedar sasaran empuk, perbatasannya telah dilanggar.  Bunyi laporan itu, “Milisi lokal dukungan Arab Saudi, pasukan khusus Uni Emirat Arab, dan para milisi al-Qaeda semuanya berjuang dipihak yang sama minggu ini untuk mengambil alih kembali kendali atas kota kedua terbesar di Yaman, Aden.”

Tidakkah menjadi sah bila kita menganggap bahwa Al-Qaeda diarahkan oleh pelindungnya, Arab Saudi untuk menabur kekacauan di Yaman dan mengacaukan kemampuan Yaman untuk meningkatkan fungsi demokrasi di wilayah selatan yang reaksioner terhadap kerajaan Saudi?

Menariknya, Presiden Ali Abdullah Saleh justru adalah orang pertama yang  mengungkapkan hipotesis seperti itu terhadap bangsanya, beranggapan bahwa Riyadh akan mengklaim ingin membangun demokrasi dalam rencananya melakukan invasi atas Yaman dan merusak pertahanan Yaman  dengan memainkan kartunya, yaitu al-Qaeda.

Dan meskipun pengungkapan-pengungkapan seperti itu dianggap sebagai bagian dari keinginan Saleh untuk mengembalikan dukungan kepadanya, tetap tak bisa disangkal bahwa veteran politik itu  telah memberi petunjuk mengenai  inti konflik ini.

Perang Yaman bukan hanya sekedar konflik legitimasi politik atau bahkan sumber daya alam, perang ini adalah tentang penaklukan Arabia selatan oleh pemerintahan teror Saudi.

Mari kita ingat bagaimana bernafsunya Riyadh membombardir infrastruktur Yaman beberapa bulan terakhir, bagaimana Riyadh berusaha menghancurkan gudang-gudang persenjataan dan basis militer di seluruh provinsi, berusaha menghancurkan seluruh kemampuan pertahanan negara itu menjadi puing-puing.

Tujuan rezim Saudi bukan hanya untuk menghabisi Houthi, ambisinya adalah untuk membuka Yaman untuk invasi melalui jalur darat dan menyerahkan masyarakatnya yang tidak lagi memiliki pertahanan kepada kekejaman ISIS, sebuah pengulangan kembali  bencana seperti yang terjadi di Irak.

Dan jika masih ada rakyat Yaman yng masih hidup dibawah ilusi yang menyatakan bahwa Haouthi adalah musuh, maka mereka sebaiknya belajar dengan baik terhadap apa yang terjadi di Irak dan Suriah sebelum nanti menemukan tangan dan kakinya dibelenggu pasukan ISIS.

Seperti yang terlihat saat ini, Yaman telah diserang selama berbulan-bulan oleh koalisi pimpinan Saudi serta dibawah blokade maritim yang diorganisir Barat. Dengan kelaparan yang melonjak dan ketidakstabilan sosial yang begitu tinggi, perlawanan seperti apa yang bisa ditawarkan Yaman kepada pasukan bendera hitam (ISIS) itu ketika mereka memutuskan untuk menyerang?

(Pasukan Houthi lah nantinya yang akan menjadi satu-satunya gerakan perlawanan yang bisa diandalkan untuk  membela tanah air Yaman dari serangan ISIS). (ARN/RM/Mintpressnews)

Ditulis oleh Chatherine Shakdam, seorang analis politik, penulis dan komentator untuk Timur Tengah dengan fokus khusus pada gerakan radikal dan Yaman. Tulisannya telah diterbitkan dalam publikasi terkenal di dunia seperti Foreign Policy Journal, Mintpress News, the Guardian, Your Middle East, Middle East Monitor, Middle East Eye, Open Democracy, Eurasia Review dan banyak lagi.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: