News Ticker

Saatnya Akhiri Hegemoni Dolar

Zafar Bangash

Penulis; Zafar Bangash

Arrahmahnews.com - Selama ini, Amerika Serikat telah berhasil menerapkan dominasinya dalam urusan-urusan global melalui militerisme dan dolar. Jika dolar pensiun sebagai mata uang dunia, maka militerisme AS dan agresinya akan menghadapi pukulan berat.

Sewaktu masih menjadi negara adidaya, AS berhasil menciptakan hegemoni globalnya dikarenakan kekuatan militer besar yang dimiliki sekaligus supremasi dolar sebagai mata uang global. Washington memang diasumsikan akan memegang peran dominan setelah melemahnya Inggris akibat pertumpahan darah di Perang Dunia II. Saat itu, pound memegang peran terpenting sebagai mata uang di dunia.

Amerika Serikat, kini telah terlalu lama memegang peran dominan untuk kepentingannya sendiri, semua juga tahu kekacauan akibat hegemoninya yang telah menimpa seluruh dunia. Bank Dunia dan Dana Moneter Internasional(IMF) yang diciptakan sebagai alat finansial guna mengendalikankeuangan seluruh dunia setelah Perang Dunia Dua, gagal untuk menggeser dominansi dolar AS.

Amerika memproklamirkan diri sebagai yang berhak menerima pengecualian dalam hal militer dan keuangan yang tentu saja pernyataan sepihak itu tidak pernah bisa benar-benar diterima . Kekuatan tandingan kini muncul untuk menantang dunia unipolar pimpinan AS.

Selama ini, jauh dari mengikuti prinsip-prinsip perilaku yang beradab, tindakan-tindakan Amerika selalu penuh skandal. Bukti nyata dari kelakuan bejat Amerika bisa dilihat dengan jelas di tempat-tempat seperti Afghanistan, Pakistan, Irak, Libya, Suriah, Somalia dan beberapa tempat lain. Menariknya, dengan begitu banyaknya kekuatan bersenjata, militer AS masih juga gagal menguasai Afghanistan, tidak juga Irak. Pada kenyataannya, di dua tempat itu, AS terlihat seperti macan kertas. Sangat jelas bahwa Amerika bisa dikalahkan. Dan hal yang sama juga berlaku pada peran dolar sebagai mata uang global. Memang benar, kemunculan euro telah berkonstribusi pada melemahnya dolar, tapi hal itu tidak cukup untuk menjelaskan adanya momentum perubahan secara jelas.

Kemunculan China sebagai pemimpin kekuatan keuangan barulah yang telah memporak-prandakan pengaruh dolar. Keputusan China untuk meluncurkan Bank Investasi Infrastruktur Asia dengan modal awal sebesar 50 miliar dolar telah mengirimkan kejutan besar di koridor kekuasaan Washingon dan Wall Street. Bahkan mantan sekutu-sekutu Amerika seperti Inggris, Jerman, Perancis dan Italia langsung menyatakan diri untuk bergabung bersama AIIB sejalan dengan negara-negara lain sebagai anggota pendiri. Mereka rata-rata kecewa dengan aksi koboi Washington.

Tambahan kabar buruk lagi bagi baron sang perampok dari Wallstreet adalah, China dengan uang tunainya telah merencanakan investasi dalam pembangunan infrastruktur dunia dengan jumlah total mencapai 150 miliar dolar( 46 miliar dolar telah dialokasikan dalam koridor Pakistan- China saja!).

Didahului dengan keputusan negara-negara BRICS(Brazil, Rusia, China, India dan Afrika Selatan) pada tahun lalu untuk mendirikan Bank Pembangunan Baru, beberapa negara dipimpin Iran juga telah memasuki kesepakatan barter atau perdagangan dalam mata uang masing-masing dengan Rusia, Turki, India dan Irak tanpa menggunakan euro ataupun dolar Amerika.

Di masa lalu, AS bereaksi keras terhadap upaya setiap pemerintahan yang berusaha untuk menggantikan dolar. Saddam Husain dari Irak pernah berusaha menggantikan dolar dengan euro dan membayar hal itu dengan kematiannya. Begitu juga dengan Muammar Qaddafi ketika melayangkan ide pendirian Dana Moneter Afrika, namun kini AS tidak berada dalam posisi untuk bisa bermain-main dengan China atau Rusia ataupun kombinasi negara-negara lain yang ingin mengambil langkah mereka sendiri.

China sendiri tidak memberi indikasi apapun yang menunjukkan keinginan pihaknya untuk menjadikan Yuan sebagai mata uang global pengganti dolar. Walaupun mungkin nantinya hal itu bisa terjadi dengan sendirinya, dunia tidak perlu hegemoni lain yang akan memberikan pengalaman pahit seperti yang telah terjadi saat ini dengan apa yang dilakukan Amerika. Ini adalah waktunya untuk membuat dolar pensiun. Dengan hal inilah kekurang ajaran Amerika bisa diakhiri dan seluruh dunia akhirnya bisa bersama-sama bernapas lega. (lm/crescent/ARN)

Zafar Bangash adalah seorang jurnalis gerakan Islam, dan analis dari Toronto AS. Ia adalah mantan editor di majalah internasional Crescent dan presiden Masyarakat Islam di wilayah York Toronto.

About ArrahmahNews (15805 Articles)
Media Pencerahan Rakyat

1 Trackback / Pingback

  1. Jumlah Siswa Tunawisma di Amerika Membludak | SalafyNews

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: