Iklan
News Ticker

Pemberontak Suriah Terima Kargo Berupa Senjata Kimia

DAMASKUS, Arrahmahnews.com - Seorang sumber lokal di Suriah, pada hari Senin (3/8) kemarin mengatakan bahwa para teroris di Suriah telah menerima zat –zat kimia berbahaya yang di angkut menggunakan truk-truk yang melewati perbatasan dengan negara tetangga, Yordania.

13940424000527_Gas_Klorin“Kelompok takfiri itu telah menerima zat-zat kimia berbahaya dari truk-truk yang menyeberang dari Yordania ke Rusia melewati perbatasan Nasib,” ungkap sumber-sumber lokal Suriah tersebut.

Sumber lokal itu juga mengungkap bahwa zat-zat kimia itu termasuk juga zat klorin.

Pada bulan April 2014, para milisi dukungan asing menembakkan mortir, yang mengandung zat kimia beracun, pada beberapa wilayah pemukiman di kota Homs.

Para teroris menyerang kota-kota kabupaten Al-Sabil dan Al-Zahra di Homs dengan mortir yang mengandung zat beracun, klorin.

Gas klorin, yang banyak digunakan selama Perang Dunia I, sangat mematikan.

Pada akhir Agustus 2013 pemberontak dan penduduk lokal di Ghouta di pedesaan Damaskus menuduh kepala intelijen Saudi saat itu, Pangeran Bandar bin Sultan, memberikan senjata kimia kepada kelompok pemberontak al-Qaeda.

Wawancara dengan orang-orang di Damaskus dan Ghouta, pinggiran ibukota Suriah, di mana Dokter lembaga kemanusiaan Without Borders mengatakan sedikitnya 355 orang telah tewas akibat terkena neurotoksik pada akhir Agustus, menunjukkan angka yang sama dengan yang diungkap Infowars. com dalam sebuah laporan yang ditulis oleh Dale Gavlak dan Yahya Ababneh.

Dari berbagai wawancara dengan dokter, warga Ghouta, pejuang pemberontak dan keluarga mereka, gambaran yang berbeda muncul. Banyak yang percaya bahwa pemberontak tertentu menerima senjata kimia melalui kepala intelijen Saudi, Pangeran Bandar bin Sultan, dan bertanggung jawab untuk atas pelaksanakan serangan gas.

“Anak saya datang kepada saya dua minggu lalu dan bertanya, menurut saya, senjata apa diperintahkan untuk dibawanya,” ungkap Abu Abdel-Moneim, ayah dari seorang pemberontak untuk menggulingkan Presiden Assad, yang tinggal di Ghouta.

Abdel-Moneim mengatakan anaknya dan 12 pemberontak lainnya tewas dalam sebuah terowongan yang digunakan untuk menyimpan senjata yang disediakan oleh milisi Saudi, yang dikenal sebagai Abu Aisyah, pemimpin batalion pertempuran. Sang ayah menggambarkan senjata yang dibawa anaknya itu memiliki “struktur seperti tabung” dan beberapa senjata lain seperti “botol gas besar.

Warga kota mengatakan bahwa para pemberontak menggunakan masjid dan rumah-rumah pribadi untuk tidur sementara menyimpan senjata mereka di terowongan.

Abdel-Moneim mengatakan anaknya dan yang lain tewas dalam serangan senjata kimia tersebut. Pada hari yang sama, kelompok militan Jabhat al-Nusra, yang merupakan cabang al-Qaeda di Suriah, mengumumkan bahwa mereka juga akan menyerang warga sipil di jantung negara rezim Assad di pantai barat Suriah, Lattakia, dan mengklaim hal itu sebagai upaya pembalasan.

“Mereka tidak memberi tahu kami senjata apa ini ataupun memberi tahu bagaimana menggunakannya,” keluh seorang pejuang wanita bernama ‘K.’ “Kami tidak tahu kalau itu senjata kimia. Kami tidak pernah membayangkan bahwa itu adalah senjata kimia. “

“Ketika Pangeran Saudi, Bandar memberi senjata tersebut kepada orang-orang, ia harus memberikannya kepada orang-orang yang tahu bagaimana menangani dan menggunakannya,” tambahnya. K, seperti sumber Suriah lainnya, tidak ingin menggunakan nama lengkap mereka dalam wawancara karena takut adanya pembalasan.

Seorang pemimpin pemberontak terkenal di Ghouta bernama ‘J’ menyetujui ucapan ‘K’ tersebut. “Militan Jabhat al-Nusra tidak bekerja sama dengan pemberontak lainnya, kecuali saat pertempuran darat. Mereka tidak berbagi informasi rahasia. Mereka hanya menggunakan beberapa pemberontak biasa untuk membawa dan mengoperasikan bahan ini, “katanya.

“Kami sangat ingin tahu tentang senjata ini. Dan sayangnya, beberapa pejuang salah menangani senjata itu dan memicu terjadinya ledakan, ” ungkap ‘J’.

Dokter yang merawat korban serangan senjata kimia memperingatkan pewawancara untuk berhati-hati mengajukan pertanyaan mengenai siapa, tepatnya, yang bertanggung jawab atas serangan mematikan tersebut.

Dokter kelompok kemanusiaan Without Borders menambahkan bahwa petugas kesehatan yang membantu 3.600 pasien juga melaporkan telah mengalami gejala yang sama, termasuk buih di mulut, gangguan pernapasan, kejang dan pandangan kabur. Kelompok ini sendiri belum mampu untuk secara independen memverifikasi informasi mengenai hal itu.

Puluhan para pemberontak yang diwawancarai itu melaporkan bahwa gaji mereka berasal dari pemerintah Saudi.(lm/fna/ARN)

Iklan

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: