Surat Bijak Gus Mus Untuk Kedamaian NU

JOMBANG, Arrahmahnews.com  Muktamar NU melahirkan dinamika yang luar biasa. Banyak yang bertanya kepada saya: adakah cerita yang melegakan kami dari Muktamar yang gaduh ini? Kenapa KH A Mustofa Bisri tidak bersedia menjadi Rais Aam? Bagaimana nasib NU ke depan? Saya tuliskan catatan di bawah ini untuk memenuhi pertanyaan dan kegelisahan kawan-kawan. (Baca Celothen Cak Nun : Gus Mus Pendekar NU Tulen)

Surat Gus Mus

Pada malam kedua muktamar, Gus Mus menghampiri area kediaman saya di tempat Syekh Muhlashon, lalu kami keluar untuk makan malam. Gus Mus mengaku bahwa salah satu agenda utama beliau ke muktamar pengen bertemu dengan saya. Subhanallah rendah hati sekali beliau. Di pertemuan khusus tersebut beliau cerita banyak hal, dan ketika saya pancing soal posisi Rais Aam beliau berkisah panjang pada peristiwa sayyidina Abu Bakar dan sayyidina Umar bin Khattab dimana yang pertama mengatakan: ada dua orang yang kena laknat yaitu mereka yang tidak pantas namun menginginkan posisi, dan mereka yang pantas namun tidak bersedia.

Gus Mus merasa masuk kategori pertama karena banyak yang lebih pantas dari beliau. Saya merayu beliau untuk tetap bersedia menjadi Rais Aam dengan mengingatkan beliau resiko bisa masuk kategori kedua. Beliau tetap tidak mau. Tawadhu’ sekali beliau. Disaat banyak yang ingin dan rebutan posisi itu beliau mencontohkan sebuah bentuk ketauladan mulia oleh Gus Mus kepada kita semua. (Baca Jiwa Ikhlas Gus Mus dan Air Mata Saktinya)

Syekh Muhlashon (Mesir)! dan Ayekh Qomar (Melbourne) ikut menemani pertemuan khusus saya dengan Gus Mus di warung pojok. Sebelum beliau masuk mobil, saya minta beliau mendoakan kami. Doa panjang beliau di parkiran itu sangat menyentuh. Air mata saya menetes membayangkan apa yang terjadi di muktamar keesokan harinya. Malam itu jam 11.30 malam ditemani Mbah Candra Malik saya berziarah dan berdoa di makam Hadratus Syekh di tebuireng.

Esok harinya saya kaget menerima pesan Gus Mus yang meminta saya ikut hadir dalam pertemuan terbatas para Rais Syuriah PWNU /PBNU dan kiai sepuh di pendopo kabupaten yang membahas situasi muktamar yang sangat genting. Itu sebabnya mendadak saya ikut hadir di sana semata-mata karena diperintah Gus Mus, bukan karena saya layak hadir di sana. Beliau rupanya sedang memberi pelajaran kepada saya untuk menyimak dan belajar serta ngalap barakah para kiai sepuh. Kita tahu selepas pertemuan itu Gus Mus masuk ke arena muktamar dan kemudian menenangkan muktamirin. (Baca Gus Mus Turun Gunung Tenangkan Muktamar NU)

Gus Mus menyampaikan pengantar yang mengharukan di sidang pleno: “saya bersedia menciumi kaki-kaki kalian para peserta muktamar, memohon agar kalian memegang teguh akhlakul karimah.” Dan isak tangis mulai tedengar di arena. Saya pun menangis menyaksikan kerendahan hati sang Rais Am.

Banyak sekali pelajaran yang bisa kita ambil dari muktamar kali ini. Semoga kita bisa ambil hal-hal yang baik termasuk ketauladanan Gus Mus dan bertekad untuk mengubah hal-hal yang masih kurang baik di kemudian hari pada saat kita mendapat amanah untuk memperbaikinya

Gus Mus sekarang kelihatannya akan fokus membina mereka yang  dalam pesannya kepada saya disebutnya dengan “adik-adik muda yang berwawasan”.  Saya sempat ditemui Ning Alissa Wahid yang menyampaikan bahwa Gus Mus sudah minta diadakan pertemuan setelah beliau tidak lagi jadi Rais Aam. Rencananya pertemuan itu tgl 4 malam di saat beliau sdh demisioner. Tapi kita tahu bahwa muktamar molor dan beliau tidak jelas demisionernya kapan.

Saya pun terpaksa meninggalkan arena muktamar karena mengikuti jadwal penerbangan. Saya beli tiket sendiri jauh-jauh dari Ausie, bukan dibayarin timses. Tiket saya bisa hangus kalau saya mau mengikuti muktanar sampai akhir. Tepat sebelum sidang pleno penetapan ahwa dibuka saya sudah dalam perjalanan menuju bandara Juanda. Semoga setelah saya pergi meninggalkan arena muktamar kemarin, masih akan berlanjut pertemuan Gus Mus dengan kawan-kawan muda tersebut. (Baca Gus Mus : Ini Terakhir Saya Menjabat Jabatan yang Tidak Pantas Bagi Saya)

Beliau kelihatannya akan memainkan peranan menjadi tempat mengadu dan belajar oleh kawan-kawan muda. Peranan beliau di luar sistem ini sangat penting karena menurut beliau sulit mengharap muncul kader muda dari sistem saat ini. Jadi yakinlah Gus Mus tidak akan sepenuhnya lepas tangan terhadap masa depan NU.

Beliaulah yang akan menjadi figur mengayomi gerakan NU kultural para anak muda NU. Beliaulah sang panutan. Beliaulah teladan kami. Beliaulah yang bersedia melangkah menemui para anak muda yang sekaligus membuat kami salah tingkah dengan ketulusan beliau ini. (Baca Gus Mus Enggan jadi Ketua Rois Aam PBNU, KH Ma’ruf Amin Emban)

Di akhir pertemuan saya tanya Gus Mus: “melihat kondisi muktamar seperti ini, apa masih ada harapan untuk NU ke depan?”  beliau dengan gaya khas nya menjawab: “tentu saja masih ada. Kalau saya tidak punya harapan lagi akan nasib NU gak mungkin saya mau menghampiri sampeyan. Kalau putus asa dan gak merasa ada harapan lagi, ya ngapain kita semua masih hidup?” Jawab beliau sambil tersenyum.

Jadi kawan-kawan, harapan perbaikan itu masih ada, dan semoga kita semua menjadi bagian dari harapan itu. Semoga allah mengampuni kita dan semoga Allah terus membimbing kita untuk berkhidmat pada umat dimanapun dan apapun posisi kita. Amin ya Rabbal Alamin. (ARN/MM/Nadirsyah Hosen, Utusan PCI NU Australia)

About Arrahmahnews 26678 Articles
Media Aktual, Tajam dan Terpercaya

1 Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.