NewsTicker

Dolar Naik Bukan Salah Jokowi Tapi Salah Obama dan Tukang Fitnah

JAKARTA, Arrahmahnews.com - Artikel dan analisa menarik tentang naiknya nilai tukar dolar di dunia dan khususnya di Indonesia oleh Yuni Fauzan.

Dolar MenguatDaripada sibuk memaki-maki Presiden Jokowi yang kurus ini, dikarenakan melemahnya Rupiah terhadap US dollar, silahkan mencoba baca tulisan ini sebentar saja. Bukan supaya pinter, minimal supaya sedikit paham kenapa dolar naik meskipun perekonomian kita juga naik.

Nilai tukar rupiah, saat tulisan ini dibuat, 1 dolar mencapai Rp. 13.460 per dollar. Angka objektif ini secara subjektif dan secara de facto dibaca dengan banyak lafal.

Yang hobi jalan keluar negeri, yang suka barang impor, dan musuh politik Jokowi menyebutnya sebagai rupiah lagi jeblok. Yang punya produk ekspor, termasuk UKM kreatif yang sudah mulai pinter, diam-diam bilang, rejeki nomplok memang nggak kemana. Kaum realis non politis, plus nggak punya uang buat keluar negeri, plus senang menyanyikan lagu sumbang “cintailah ploduk-ploduk produk-produk Indonesia” akan ikut menyanyikan paduan suara kelas dunia: emang dollar AS sedang perkasa, kita mau apa?

Betapa tidak. Dollar AS memang sedang perkasa-perkasanya, terhadap hampir semua mata uang dunia.

EURO, Terhadap euro, dollar AS mencapai titik tertingginya dalam 10 tahun terakhir. Pertengahan 2005, per satu euro dihargai sekitar 1,25 dollar. Setelah itu euro terus berjaya, dan mencapai puncaknya pada Juli 2008. Waktu itu satu euro dihargai 1,58 dollar. Anda tentu masih ingat, ini adalah ketika dunia heboh oleh kasus sub-prime mortgage. Setelahnya, nilai tukar keduanya selalu saling adu kuat. Tapi sejak April 2011 dolar terus semakin berjaya, dan euro melemah. Juli ini AS berada di puncak kejayaannya terhadap euro. Akhir Juli ini satu euro bisa dibeli hanya dengan 1,09 dollar AS.

YEN, Nasib yen sama saja. Tak berdaya melawan kekuatan dollar AS. Saat tulisan ini dibuat, dollar AS berada pada puncak tertingginya sejak Juni 2007. Waktu itu kekuatan dollar ditakar pada angka 123,88 yen. Setelahnya dolar terus melemah hingga titik terendahnya pada Oktober 2011, ketika dollar As berharga 76 yen. Tapi sejak saat itu dollar terus melambung, dan lagi-lagi, sekarang sudah melampaui titik tertinggi 2007 tadi. Harga dollar sekarang sudah mencapai 125 yen lebih sedikit.

SGD, Mau bicara dollar Singapura? Sama saja. Dalam rentang yang lebih pendek, dollar AS juga memperlihatkan otot perkasanya. Saat ini untuk membeli satu dollar AS diperlukan 1,38 dollar singapura, melampaui rekor yang dicatat pada april 2011 sebesar 1,31 dollar. Lebih spesifik lagi, kalau melihatnya sejak Oktober 2012, grafik dollar AS bergerak ke kanan atas.

AUD, Mau dibandingkan dengan dollar Australia? Sama saja, kawan. Di hadapan dollar kanguru ini, saat ini si greenback dihargai paling mahal sejak Juli 2009. Waktu itu orang membeli dollar AS pada harga 1,29 dollar kanguru. Lha sekarang harga apel washington dollar AS sudah mencapai 1,36 dollar ausie. Padahal, di antara kedua waktu itu, pernah dengan 0,91 dollar australia orang sudah bisa membeli satu dollar AS.

CAD, Dollar Kanada? Sama saja. Kalau kita buat grafiknya sejak Maret 2009 sampai sekarang, kita lihat gambar mangkok yang sangat cekung. Dari 1,3 dollar kanada per dollar Amerika, grafiknya terus menurun dan mencapai titik paling jebloknya pada Juli 2011. Harga dollar AS pernah nyungsep di angka 0,94 dollar Kanada. Tapi sekarang jangan ditanya. Orang Kanada harus keluar duit 1,3 dollar setempat untuk mendapat satu dollar AS.

Guncangan nilai tukar seperti ini, sebagaimana saya sebut di paragraf pertama, memang mendatangkan tawa dan air mata, pada saat yang sama. Di perekonomian yang saya sebutkan di atas situasinya sama. Pertanyaannya adalah, apakah intensitas tawa dan air mata itu akan meningkat, datar, menurun, atau akan berganti posisi? Yang menangis akan tertawa, dan sebaliknya?

Di Amerika pun situasinya sama. Ada yang tertawa, ada yang berduka. Perusahaan-perusahaan manufaktur negara itu (umumnya berorientasi ekspor) sudah mulai berteriak-teriak sejak awal tahun ini. Perusahaan-perusahaan seperti Schlumberger, P&G, Coca Cola, IBM, Facebook… dan banyak di antara perusahaan dalam daftar SP-500 lainnya yang berteriak pemasukannya terjungkal. Penyebabnya seragam. Pendapatan dalam mata uang asing (bagi mereka), biaya produksi (terutama tenaga kerja) dalam dollar AS.

Nah, kelompok yang terakhir ini mulai berteriak-teriak supaya negaranya tidak ngotot memegang kebijakan dollar perkasa (strong dollar policy).

Upsss… jadi, dollar yang perkasa adalah hasil sebuah kebijakan? Kebijakan Amerika Serikat?

Apa boleh buat, Menkeu Amerika Serikat sendiri, Jacob Lew, yang wajah dan rambutnya mirip Haji Lulung, mengatakan bahwa dollar yang kuat mencerminkan kuatnya ekonomi Amerika. Entah berapa kali dia bilang begini, “Gue sih konsisten dan sejalan ame semua pendahulu gue. Dollar yang kuat nunjukin ekonomi Amrik yang kuat. Kalau ente jujur ngliatnye, ekonomi Amrik sekarang lagi bagus-bagusnye.”

Lah… apakah Amerika, secara makro nggak kelimpungan kalau dollarnya terlalu mahal?

Banyak analis yang bilang, nggak masalah. Sebab, secara struktur, ekonomi Amerika jauh lebih mandiri dibanding dengan negara-negara lain di dunia. Secara global perekonomian Amerika tidak terlalu dipengaruhi oleh ekspor-impor. Pendek kata, Amerika adalah negara yang paling tidak peduli dengan defisit perdagangan. Lagi pula, kalaupun ekspor Amerika Jeblok, jangan salah. Mereka tetap bisa menangguk untung global, yakni dengan impor minyak dan bahan baku pada harga [sangat] murah. [Bayangkan, sudah harga minyak jeblok, dollarnya kuat lagi. Ada yang seberuntung Amerika Serikat?] Sementara itu inflasi dalam negeri bisa ditekan pada tingkat yang amat rendah dan pada gilirannya suku bunga juga bisa ditekan. Ada yang mau melawan? Nah. Jadi… mau memaki atau mau berdoa… buat Jokowi atau buat Obama… silakan saja… (ARN/DS/MM/Yuni Fauzan)

sumber data dan kutipan: the fed, indexmundi, reuters, bbc, wall street journal

8 Comments on Dolar Naik Bukan Salah Jokowi Tapi Salah Obama dan Tukang Fitnah

  1. Reblogged this on PKSPIYUNGANGARISLURUS and commented:
    Dolar Naik Bukan Salah Jokowi Tapi Salah Obama dan Tukang Fitnah

  2. Ini ulasan moneter apa lenong Betawi. Isinya bagus, bahasanya mirip si Doel?

  3. Akhirnya ada orang yang ga cuma melihat dari faktor dalam saja mengenai mata uang kita.
    Kalau ada satu saja yang saya ga setuju adalah judulnya. Kenapa sih harus menyalahkan pihak? Kan egois. Amerika ga salah dong kalau mau menaikkan nilai mata uangnya sendiri? Sekarang kalau Indonesia tiba-tiba mata uangnya naik apa mau disalahkan juga?
    Great article btw. 😀

  4. Yg salah adalah koruptor yg nilep uang rakyat dan negara, sehingga rakyat dan negara gak berdaya dalam berkreasi meningkatkatkan ekonomi. Modal ngutang dg IMF atau bank dunia dg bunga seabrek. Jadi baiknya mari sama2 berantas koruptor dan tingkatkan kemampuan berproduksi dalam segala bidang, baik technologi maupun lainnya yg bisa meningkatkan pendapatan rakyat dan negara.
    Kasihan juga si Kurus disalahkan terus
    Padahal sudah ngurus dg becus
    Biar harapan rakyat gak pupus….. dan terkena penyakit lupus.
    Komentator otak kotor…. baiknya jangan asal nyosor
    Hanya hambat kebijakan si kurus molor
    Yang menguntungkan penjilat Tersohor.
    Indonesia ada masanya akan bangkit, jika berusaha tak kenal sakit, biarkan para peragu terus bicara pahit, yang optimis akan meraih sukses yg selangit.

  5. Hebat ya obama salahnya ja masih bisa untung.. Gimana klo benernya..

  6. Arif syukurin // Sep 14, 2015 at 3:41 pm //

    yang salah para trader suka main Dollar___________________hahahaha

  7. anonymous // Sep 24, 2015 at 5:33 pm //

    seharusnya rakyat indonesia juga membeli produk indonesia.

  8. anonymous // Sep 24, 2015 at 5:34 pm //

    cintailah produk Indonesia jangan mmbeli produk impor.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: