NewsTicker

Perang Menteri Susi dengan Mafia Daging Sapi

JAKARTA, Arrahmahnews.com - Saat pasokan daging sapi di pasar langka dan mahal, Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti mendorong masyarakat untuk mengkonsumsi ikan. "Jelas dong, ikan bisa gantikan daging yang kini langka," ujar Susi di kantornya, Selasa, 11 Agustus 2015.

Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti

Susi mengatakan mahalnya harga daging sapi yang mencapai Rp 140 ribu per kilogram ini adalah kesempatan bagi sektor perikanan. Harga jual ikan yang lebih murah dibanding daging, kata Susi, bisa mendongkrak konsumsi ikan di masyarakat. "Nelayan juga jadi senang banyak yang beli ikan," ujar Susi.

Sejak sepekan terakhir, terjadi kenaikan harga daging yang cukup drastis. Kenaikan ini diduga disebabkan pemogokan sejumlah pedagang daging sapi yang menahan pasokan daging.

Sesudah sempat perang dengan mafia laut, mafia minyak yang dikuasai petral, mafia pangan, sekarang pemerintah perang dengan mafia daging.

Rencana pemerintah yang akan men-stop impor daging sapi secara bertahap, jelas menimbulkan reaksi keras dari mereka yang selama ini menikmati hasil dari fees impor dan diskon pemasok. Ini seperti menutup periuk nasi yang selama ini mengenyangkan mereka selama bertahun-tahun.

Maka dengan segala daya upaya mereka mencoba mengembalikan keadaan supaya kita impor lagi.

Kerjasama antara pembuat kebijakan impor, perusahaan penggemukan sapi ( feedlloter ) dan pedagang, benar-benar membuat pemerintah kelimpungan. Perusahaan penggemukan men-stop pasokan sapi ke rumah potong hewan (RPH), sehingga RPH tidak punya stok daging yang harus dipotong. Kemudian para pemasok besar men-stop penyaluran daging ke pasar yang membuat pedagang tidak bisa jualan. Pedagang pun digerakkan untuk men-demo pemerintah supaya kembali impor daging sapi.

Benar saja, harga daging sapi langsung meroket di pasar karena langkanya stok. Untuk menyeimbangkan kembali harga, pemerintah memerintahkan Bulog untuk kembali mengimpor 50 ribu daging sapi sebagai kebijakan jangka pendek demi menjamin keberadaan daging dan menstabilkan harga pasar.

Perang ini akan terus berkelanjutan sampai pemerintah berhasil memotong mata rantai mafia daging, yaitu dengan mengembang-biakkan sapi lokal dan menambah kapasitas produksinya sehingga daging lokal surplus dan ketika itu terjadi, maka kita sudah berhasil mencapai yang namanya swasembada.

Permasalahannya, kapan itu bisa terjadi sedangkan perusahaan penggemukan sapi atau feedlotter menguasai pasar ? Mereka membentuk kartel yang kuat karena selama bertahun2 mereka menjaga harga daging sapi pada level yang sangat menguntungkan mereka. Sebagai contoh mereka memotong sapi di RPH dengan harga 40 ribu/kg tapi ketika sampai di pasar harganya sudah menjadi 90 ribu/kg. Dengan untung sekian besarnya mereka mampu membayar orang2 di pemerintahan supaya bekerja pada mereka.

Kita tunggu hasil perang ini siapa yang lebih kuat, pemerintah atau kartel ? Pemerintah sudah melakukan langkah strategis dengan mengikut-sertakan kepolisian untuk mengusut dan memecah rantai kartel ini sampai mem-pidanakan mereka.

Yang menarik sebenarnya pernyataan bu Susi, menteri perikanan. Bu Susi ini malah mempunyai sudut pandang lain dengan langkanya daging sapi ini. Buat dia, biarkan saja daging sapi langka toh yang makan daging sapi hanya masyarakat kelas menengah. Pemerintah tidak perlu melawan langkanya daging sapi dengan mengimpor, karena ketergantungan kita pada impor pangan lah akar dari semua masalah.

Kata bu Susi, pemerintah tetap saja fokus pada pengembangan swasembada daging sapi. Langkanya daging malah menjadikan masyarakat mengganti protein mereka dengan ikan. Pasokan ikan kita yang berlimpah, ketika menjadi konsumsi utama bangsa akan menjadikan harga ikan sangat murah karena permintaan yang tinggi. Dengan begitu, kartel daging sapi akan mati dengan sendirinya. Dan bu Susi siap mengawal kampanye makan ikan ini.

Bagi sebagian orang, masalah malah membuatnya menjadi cerdas karena ketika ada masalah maka kita belajar mencari solusi. Bagi pengeluh, masalah selalu menjadi pembenaran bagi kekurangannya. (ARN/DS/Tempo/MM)

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: