News Ticker

Saudi Potong Anggaran Belanja, Menyusul Anjloknya Harga Minyak

RIYADH, Arrahmahnews.com - Menyusul anjloknya harga minyak mentah, pemerintah Arab Saudi bekerjasama dengan para penasihat kerajaan akhirnya memutuskan untuk mengurangi anggaran belanjanya untuk tahun depan hingga miliaran dolar. Demikian dilaporkan sputniknews pada Rabu(26/8) kemarin mengutip media Bloomberg.

1022831772Para ahli mengklaim bahwa jatuhnya harga minyak ini mencerminkan permasalahan struktural dalam perekonomian dunia dan hal ini tidak mudah untuk segera diperbaiki. (Baca Liburan Kontroversial dan Mewah Raja Monarki Arab Saudi dari Masa ke Masa)

Mengutip dari dua sumber yang tak ingin disebutkan namanya, laporan tersebut memberitakan bahwa Riyadh saat ini tengah berada di tahap awal peninjauan kembali rencana untuk mengurangi anggaran belanjanya di tahun 2016.

“Peninjauan kembali ini dilakukan seiring dengan terus jatuhnya harga minyak. Peninjauan kembali ini juga meliputi rencana untuk memangkas pengeluaran modal. Hal ini berarti bahwa negara Arab dengan ekonomi terkuat itu harus memotong pengeluaran investasinya sekitar 102 miliar dolar, atau setidaknya sekitar 10 %,” ungkap sumber anonim Riyadh.

“Pengeluaran di beberapa bidang seperti gaji sektor publik, bagaimanapun, tidak akan terpengaruh,” tambah sumber tersebut kepada Bloomberg.

Lebih dari 90% dari pendapatan Arab Saudi tergantung pada minyak, dan dengan kejatuhan harga minyak lebih dari 50% pada tahun lalu, kerajaan itu kini tengah bergelut untuk mengatasi tekanan keuangan. Faktor-faktor lain yang berkontribusi terhadap melemahnya ekonomi Saudi yang sangat jelas terlihat adalah agresinya yang dipaksakan atas Yaman, serta pengeluaran domestik yang terus meningkat di negara itu. (Baca Arab Saudi Persenjatai Teroris di Suriah dengan Senjata Canggih Buatan Israel)

Menurut Dana Moneter Internasional (IMF), kerajaan padang pasir itu diperkirakan akan mengakhiri tahun ini dengan defisit anggaran sebesar 20% pada produk domestik bruto, dan untuk pertama kalinya semenjak tahun 2007, negara itu telah mengeluarkan surat berharga dengan jangka waktu 12 bulan.

“Ini mungkin adalah akibat dari rendahnya harga minyak, namun juga mungkin kenyataan bahwa pengeluaran modal telah tumbuh terlalu kuat selama beberapa tahun terakhir,” ungkap Fahad al-Turki, kepala ekonom dari Jawda Investasi Co, kepada Bloomberg.

IMF juga melaporkan bahwa pertumbuhan ekonomi Arab Saudi diperkirakan akan melemah dalam beberapa tahun kedepan karena pemerintah memaksa untuk mengurangi pengeluaran.

Sebagai bagian dari peninjauan ulang tersebut, pemerintah sedang mempertimbangkan untuk menunda atau mengurangi beberapa proyek infrastruktur untuk menghemat uang. Dalam nada yang sama, Riyadh juga tengah memikirkan kembali komitmen pengeluarannya, terutama karena pemerintah selama ini membayar hingga $ 52 untuk subsidi minyak.

Gubernur Bank Sentral Fahad al-Mubarak telah menyeru peninjauan kembali mengenai subsidi minyak. Pemikiran ini datang setelah satu bulan Uni Emirat Arab menghapus subsidi minyaknya sendiri, dengan menaikkan harga sebesar 24% dalam upaya serupa untuk meningkatkan keuangannya.

Menurut IMF, Arab Saudi membutuhkan “reformasi harga energi yang komprehensif, kontrol yang kuat terhadap pembayaran gaji di sektor publik, serta efisiensi yang lebih besar dalam sektor investasi.” Jika tidak, “penurunan tajam dari pendapatan minyak serta terus membengkaknya pengeluaran akan mengakibatkan defisit fiskal yang sangat besar untuk tahun ini dan hanya dalam jangka waktu menengah hal ini akan mengikis buffer fiskal yang telah dibangun dalam satu dekade terakhir.” (ARN/RM/Sputnik)

Iklan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: