NewsTicker

Catherine Shakdam: Adu Domba Asing dan Kelicikan Saudi Diantara Perlawanan Bangsa Yaman

JAKARTA, Arrahmahnews.com - Analisa yang menarik tentang perang Yaman yang ditulis oleh Catherine Shakdam*. Yaman kini telah sampai titik penting dalam perlawanannya terhadap penjajahan Arab Saudi. Bersamaan dengan masyarakat, mazhab, wilayah yang diadu domba demi untuk melayani kepentingan asing, gerakan perlawanan Houthi masih memiliki beberapa anak panah ampuh yang siap dilesatkan dari busurnya. (Baca Misteri Perang Yaman Terungkap)

Analis Timur Tengah Catherine Shakdam

Dengan persiapan Saudi untuk melancarkan apa yang mereka harap bisa menjadi pukulan terakhir terhadap gerakan perlawanan itu, maysarakat Yaman juga memperkuat diri untuk segala kemungkinan yang bisa terjadi, mereka sepenuhnya waspada dan menyadari bahwa wilayah utara kota Sana’a, bisa jadi akan menjadi tempat pertahanan terakhir untuk melawan Saudi dalam pertempuran darat, dimana hal itu akan menentukan hasil dari semua pertempuran yang telah dilakukan, apakah akan menang atau kalah.

Kini, saat kerajaan Saudi dan sekutu kawasannya telah membangun benteng di pelabuhan selatan Aden untuk memastikan mudahnya peralatan militer dan tentara  memasuki wilayah Yaman, yang setiap harinya makin membanjiri Yaman, dan setiap hari menantang tekad pasukan perlawanan Yaman, namun jika taruhlah kekalahan telah terjadi, jika taruhlah benar, kota-kota dan beberapa tempat telah tunduk dibawah serangan koalisi pimpinan Saudi, perjuangan Yaman masih belum selesai. (Baca AS Bangun Pangkalan Militer di Pulau Yaman)

Perang sesungguhnya untuk Yaman akan terjadi di dataran tingginya, sebuah negeri dimana tidak ada penakluk manapun yang sanggup untuk menjinakkannya sesuai dengan kehendak mereka walaupun dengan segala usaha. Mulai Roma hingga Ottoman, putra-putra Hamdan tidak pernah bisa dikalahkan. Kini, suku-suku utara Yaman juga telah membuktikan hal itu melalui berbagai tantangan sebelumnya, bahkan sebelum bergabungnya kekayaan Riyadh dan kekuatan militer AS untuk menaklukan mereka. (Baca Arab Saudi Bangun Pangkalan AL di Pulau Socotra Yaman)

Yaman, sebagaimana diingat dalam sejarah, TIDAK PERNAH RAMAH KEPADA PENJAJAH!

Dan sementara media hanya menggambarkan perang yang sebenarnya adalah perang melawan Republik Yaman, satu-satunya negara demokrasi di Semenanjung Arabia, sebagai “kampanye pembebasan” dari kejahatan Houthi, dengan alasan mereka mencari dukungan dan bimbingan dari Iran, penilaian seperti itupun semestinya masih diluar batas yang membuat mereka (gerakan perlawanan Ansarullah) itu layak untuk dimusnahkan.

Dalam waktu hanya lima bulan, masyarakat Yaman telah menyaksikan kehancuran lebih dari yang telah dialami Suriah dalam waktu empat tahun.  Seseorang bisa saja mengatakan bahwa jika saja Saudi dan para sekutunya itu berusaha menghancurkan ISIS sebagaimana serangan membabi buta mereka terhadap Houthi, maka dunia akan menjadi tempat yang sangat berbeda.

Sementara Houthi difitnah sebagai setan memuakkan hanya karena pandangan religius mereka dan keinginan untuk menegakkan demokrasi rakyat di Yaman, sebuah demokrasi  yang melayani rakyat dan bukan oligarki, fitnah ini tidak lantas menjadikan mereka sendirian dalam perangnya.

Dibelakang mereka, suku-suku utara Yaman telah bersatu padu, menawarkan kedua tangan mereka, semua kekuatan politik yang mereka punya untuk menghancurkan warisan penjajahan Saudi. Semua pihak waspada, jika sampai Yaman Utara jatuh, ancaman laten radikalisme akan membangkitkan monster yang tak bisa dibendung di seluruh wilayah Arabia Selatan. (Baca Suku-suku di Yaman Bangkit Melawan Saudi)

Bersatunya Suku-suku di Yaman dengan Pejuang Ansarullah Untuk Perangi Penjajah Saudi dan Koalisinya

Meskipun telah berusaha disembunyikan media-media Barat, banyak laporan telah membenarkan bahwa Al-Qaeda telah memulai aksi untuk kembali ke provinsi Selatan Yaman, dengan sengaja memetakan keuntungan mereka  atas operasi koalisi Saudi.

Dengan lepasnya Aden, Sana’a adalah kota berikutnya yang akan menghadapi perang, brigade pegunungan dan parit yang mengelilinginya telah dipersiapkan. (Baca Kepala Suku Yaman Tolak Suap Menteri Pertahanan Saudi )

Dan walaupun Riyadh masih terus menerus menghujani ibukota itu dengan serangan udara, berharap bisa menghantam gudang-gudang senjata Houthi dan diam-diam memasukkan parjurit-parajuritnya ke kota itu, Sana’a tidak akan pernah membuka pintunya untuk Saudi. Rakyat akan bertahan dan menyerang, bertahan dan melindungi, hingga titik darah penghabisan.

Hingga jika Sana’a akhirnya jatuh, Yaman Utara akan terbakar, dengan seluruh rakyatnya, warisannya, sejarahnya, karena peringatan Saudi yang mengatakan bahwa kerajaan itu akan memburu dan menguburkan siapapun yang berani menentang perintahnya, justru telah mengobarkan api perlawanan dalam pikiran rakyat Yaman, pertempuran ini akan menjadi perang hidup atau mati.

Dan jika sejauh ini mereka akhirnya menyerah dari terlibat dalam memecah belah aliansi Houthi yang telah menjadi yang terkuat, itu adalah karena mereka mengerti kekuatan suku-suku tersebut, legitimasi mereka dalam menawarkan dukungan dari satu kamp ke kamp lainnya. (Baca Ratusan Suku Yaman Bergabung Dengan Ansarullah)

Sumber-sumber Yaman telah mengkonfirmasi bahwa mantan Presiden Hadi berusaha membuat aliansi suku-suku itu untuk melawan Ansarullah, menakut nakuti mereka dengan mengatakan bahwa konfrontasi frontal hanya akan lebih jauh memecah belah negara dan mungkin akan berpotensi menjadi erosi pengaruh Saudi di kawasan. Bagi teokrasi yang mengklaim pihaknya sangat besar dan berkuasa itu, gerakan perlawanan Houthi telah menjadi sesuatu yang berbahaya dan cenderung memperlakukan mereka.

Dan yang lebih membuat Riyadh bermasalah adalah, gerakan itu telah menginspirasi pihak-pihak lain, untuk berevolusi melawan teokrasi Al-Saud.

Dan jika kerajaan telah merencanakan penghancuran Yaman Utara dengan cara membeli dukungan dan tawaran-tawaran politik, Houthi dan aliansinya terlalu sibuk mengorganisir sebuah gerakan perlawanan besar, yang tidak terbatas.

Yaman mungkin kacau balau, tapi rakyatnya tidak.

Dengan tidak ada lagi yang tersisa kecuali kemerdekaan mereka, suku-suku utara Yaman bertekad kuat untuk melakukan apapun demi melancarkan serangan mematikan pada kerajaan Saudi, dimulai dengan mengacaukan rute minyak dunia di selat Bab Al-Mandab dan serangan lintas batas Arab Saudi. (Baca Pejuang Suku-Suku Yaman Serang Perusahaan Minyak Saudi Aramco)

Tak diragukan lagi, jika Saudi meningkatkan kemampuan militernya dengan merogoh kantong lebih dalam dan membeli teknologi tinggi, maka gerakan perlawanan Ansarullah(Houthi) memiliki keunggulan pada titik geostrategis yang krusial. Resistensi Yaman tidak akan mudah dikalahkan di dalam bentengnya, karena Yaman memiliki dukungan yang hampir mutlak dari seluruh rakyat, karena  tegaknya Yaman melawan kerajaan Saudi telah menjadi pertahanan seluruh bangsa Yaman melawan tirani.

Dalam perang tekad ini, Yaman masih berada di posisi paling puncak.

Untuk semua siasat politik dan pernyataan-pernyataan besar, tekad Arab Saudi melawan Yaman sudah goyah. Begitu goyah sehingga pembicaraan mengenai pemisahan Yaman Utara dan Selatan mengemuka di kalangan mereka, demi menghindari perang yang berlarut-larut. Agar jika Yaman terpisah, maka Houthi akan bisa dijebak diantara wilayah kerajaan (Saudi)) dan negara kekuasaan Saudi (Yaman Selatan), sementara Saudi masih tetap bisa mengklaim kemenangan.

Hanya saja, sekali lagi, jika terjadi, hal ini juga akan menjadi bencana bagi kerajaan Saudi karena Yaman Selatan telah menjadi tempat tumbuh dan menjamurnya  persilisihan antar suku dan konflik antar ambisi.

Maka kita akan segera  bisa  belajar untuk selalu mengingat, bahwa Perang Arab Saudi atas Yaman akan menjadi sebab bubarnya negara monarki itu sendiri. (ARN/RM/RT)

Ditulis oleh Chatherine Shakdam, seorang analis politik, penulis dan komentator untuk Timur Tengah dengan fokus khusus pada gerakan radikal dan Yaman. Tulisannya telah diterbitkan dalam publikasi terkenal di dunia seperti Foreign Policy Journal, Mintpress News, the Guardian, Your Middle East, Middle East Monitor, Middle East Eye, Open Democracy, Eurasia Review dan banyak lagi.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: