NewsTicker

Belajarlah dari Ibu Susi, Sang Negarawan yang Berperawakan Sederhana

JAKARTA, Arrahmahnews.com - Ingat gagapnya Ketua DPR RI dan wakilnya saat ketemu Donald Trump, saya jadi teringat bu Susi. Bu Susi ini salah seorang yang mempunyai self confidence atau rasa percaya diri yang sangat tinggi. Kelemahan situasi-nya yang tidak tamat SMA, malah dijadikan kekuatannya. Dalam karirnya yang terus menanjak, ia seperti mengirim pesan kepada orang-orang di sekitarnya, "saya jauh lebih besar dari kalian, meski pendidikan saya lebih rendah dari kalian."

Susi Cara memberontaknya dari situasi yang lemah, sangat mengagumkan. Ia menapaki satu persatu anak tangga dengan keuletan seorang pendaki gunung yang ingin mencapai puncak tertinggi dalam hidupnya. Cuma sekedar ingin menampar mereka-mereka yang suka meremehkannya, tidak lebih dan tidak kurang.

Dia tidak perlu jam tangan seharga 1,5 miliar untuk mengangkat namanya di pergaulan internasional. Orang sudah tahu, dia pulang ke kampung halamannya saja naik pesawat pribadi miliknya. Dia tidak perlu menjadi sosialita supaya diterima di lingkup elit, karena itu bukan kelasnya. Kelasnya dia para negarawan.

Dia tidak rendah diri melawan para pemimpin-pemimpin negara yang warganya terlibat illegal fishing. Dia hancurkan kesombongan mereka dengan menghancurkan kapal berbendera negara mereka. Perhatikan caranya menaikkan alis mata para pemimpin negara di Asean. Dia mencuri perhatian mereka dengan sekali tepuk, dan ketika mereka marah, bu Susi datang untuk menjelaskan alasannya sampai mereka menerima karena mereka menyadari bahwa mereka memang salah. Strategi brilian yang hanya dimiliki mereka yang bermental baja.

Lihat caranya dalam menjelaskan apa yang dimaui Presidennya dalam World Economic Forum di Jakarta. Ia menguasai para ekonom kelas dunia yang hadir disana. Lihat kebanggaan dirinya saat ia mengajak Jokowi untuk keluar dari komunitas global G20, karena tidak ada manfaatnya dan hanya merugikan kita. Padahal G20 adalah komunitas yang beranggotakan Negara-negara maju dan sangat dibanggakan SBY di masa kepemimpinannya dulu.

Dia tidak pernah kehilangan dirinya di tengah nama-nama besar dengan pendidikan yang sangat tinggi. Ia malah menguasai mereka dan mengarahkan mereka sesuai keinginannya. Dia selalu bisa menari di tengah tekanan besar dominasi mereka. Bahkan Tommy Winata-lah yang datang kepadanya, bukan dia yang menghiba-hiba kesana dan berharap jilatan lidahnya bisa menempelkan segepok dua gepok dollar. Luar biasa.

Melihat apa yang terjadi dalam acara “3 Minutes with Donald Trump” sesudah melihat kiprah bu Susi, kita seperti naik roller coaster yang dalam posisi sangat tinggi, tiba-tiba menukik ke bawah. Jomplang, bahasa Jawanya. Dan biasanya kalau jomplang begitu, perut otomatis merasa geli luar biasa dan tidak tahan untuk tidak membuat meme yang lucu-lucu, cara kreatif kita sekarang dalam mem-bully ketidak-cerdasan.

Banyak contoh sebenarnya yang bisa ditiru dalam menghadapi tekanan-tekanan di panggung dunia, tapi kenapa mereka yang di DPR tidak mau belajar ?

Mungkin benar kata Gus Dur, bahwa tempat itu sebenarnya Taman Kanak-kanak. Ada yang kerjaannya tidur, ada yang cuman datang utk pipis doang, ada yang malah nonton film porno lewat gadgetnya yang seharga 12 juta, ada yang cuman mejeng haha hihi cipika cipiki tapi sebenarnya gak tau apa-apa. (ARN/DS/MM)

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: