Kisah di Warung Kopi, Jangan Jadikan Nilai Spiritual Menjadi Ritual

JAKARTA, Arrahmahnews.com – Obrolan di warung kopi bagi warga Indonesia adalah sebuah hiburan sosial, berikut dialog di dari warung kopi yang dapat kita ambil pelajaran dan ilmu yang sangat berharga.

Spiritual

“Kita kadang masih sulit menempatkan secara tepat antara nilai spiritual dan nilai ritual..” Temanku membuka pembicaraan sore ini, saat kami bertemu di sebuah warung kopi.

“Kadang sesuatu yang sifatnya spiritual menjadi ber-kurang nilainya ketika kita menjadikannya ritual. Naik haji, contohnya. Ini perintah yang mempunyai nilai spiritual yang sangat tinggi. Sebuah penyerahan total, sebuah penghambaan, melepaskan diri dari hal-hal yang bersifat duniawi.

Tapi banyak kita lihat perintah ini menjadi sebuah ritual untuk menggugurkan kewajiban. Ketika sudah ber-haji, kita merasa selesai sudah melaksanakan semua perintah Tuhan. Balik ke rumah, hilang semua nilai spiritualnya, yang tertinggal hanya gelar…”

Aku menyimak dengan baik sambil sesekali menyeruput kopi panasku. “Apa yang membedakan antara seseorang yang mengerjakan perintah dengan nilai spiritual dan ritual ?” Tanyaku.

“Akhlak..” Jawab temanku dgn lugas. “Ketika seseorang sudah mampu secara total melepaskan baju duniawinya dan menghamba kepada Tuhan, maka secara otomatis perilakunya berubah. Dan perilaku itu sudah seharusnya tampak jauh sebelum ia ber-haji, bukan sesudahnya.”

“Maksudnya ?” Tanyaku heran.

“Kita melihat ada konsep jika mampu dalam ber-haji, maka kita jangan batasi mampu dalam sifat materi, tetapi lebih jauh lagi, yaitu mampu secara spiritual. Orang yang sudah pada taraf mampu secara spiritual, berarti ia sudah mampu meninggalkan sifat duniawi-nya. Ia akan melihat dulu dirinya sendiri, sudah mampukah saya meng-hamba. Dan ia akan melihat orang di sekitarnya, sudah mampukah saya menolong mereka. Jangan sampai ia ber-haji tapi orang sekitarnya kelaparan dan butuh bantuan. Ia bahkan tidak mau menolong mereka, karena ia mendahulukan dirinya sendiri. Ketika hasrat ber-haji itu lebih mendesak daripada kewajibannya menolong orang lain, maka ia belum mampu meninggalkan sifat duniawinya yang egois…”

Tercekat rasanya tenggorokan mendengar kalimat itu. Rasanya kopi menjadi begitu pahit.

“Menolong orang lain yang membutuhkan itu adalah sebuah kewajiban bagi manusia yang beriman. Nilai spiritualnya sangat tinggi, karena disitu-lah terletak ketakwaan kepada Tuhan dan keadilan kepada sesama manusia.

Bahkan saking pentingnya menolong sesama itu terekam dalam Al-quran, surat al-maidah ayat 55, saat Saat Sayyidina Ali bin Abi Thalib as sedang shalat dan ada seorang peminta yang kelaparan, beliau menyodorkan tangannya saat ruku’ supaya pengemis itu mengambil cincin di jarinya dengan maksud supaya di jual dan membeli makanan. Perhatikan ketinggian nilai-nya yang membuat Tuhan menyampaikan dalam firman-Nya..”

Semakin menarik pembahasan ini. Temanku menarik kursinya ke belakang dan mengambil kopinya, sambil tersenyum dan melanjutkan.

“Jadi, temanku.. Semoga ini bisa menjawab pertanyaanmu, yang mana harus kamu dahulukan antara menolong saudaramu yang sedang membutuhkan atau membeli hewan kurban…

Lihat dulu dirimu, apakah kamu punya hutang kepada seseorang? Bayarlah, jangan sampai ia marah kepadamu karena kamu bisa membeli hewan kurban tapi tidak bisa membayar hutangmu, berarti kamu tidak adil kepadanya. Atau jika kamu menemukan orang yang sangat membutuhkan uangmu, bantulah ia terlebih dahulu. Kemampuan-mu membantunya dengan mengorbankan kurban-mu adalah kurban atas kurban itu sendiri”. (ARN/DS/MM)

About Arrahmahnews 26687 Articles
Media Aktual, Tajam dan Terpercaya

Be the first to comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.