Uni Eropa Tinggalkan Pengungsi dan Kemanusiaannya

EROPA, Arrahmahnews.com – Kini Eropa tak lagi berniat untuk menunjukkan kepada para pengungsi, nilai-nilai mulia dari “martabat manusia, kemerdakaan, demokrasi, kesetaraan, aturan hukum, dan HAM. (Baca Vokalis U2 Bono ; Mereka Pengungsi, Bukan Imigran, Bantulah Mereka)

Pengungsi Suriah di Eropa

Sebagi contoh, Jerman kini telah memutuskan untuk mengembalikan lagi kontrol di perbatasan Austria dan menghentikan lalu lintas kereta api dari sana. Langkah ini menyoroti dugaan “tekanan” pada negara-negara Eropa akibat banjirnya pengungsi Suriah melalui perbatasan mereka. Hal ini juga efektif menunda partisipasi Jerman dalam sistem Schengen tanpa batas Uni Eropa. (Baca Arab Abaikan Pengungsi, Uni Eropa Sambut Karmanya)

Perjanjian Schengen merupakan perjanjian yang dibuat oleh sejumlah negara Eropa untuk menghapuskan pengawasan perbatasan di antara mereka. Di dalam perjanjian ini tercakup berbagai aturan kebijakan bersama untuk izin masuk jangka pendek (termasuk di dalamnya Visa Schengen), penyelarasan kontrol perbatasan eksternal, dan kerjasama polisi lintas batas.

Jerman mengklaim bahwa membludaknya jumlah pengungsi yang sebagian besar dari Suriah, telah menimbulkan banyaknya pelanggaran di wilayah perbatasannya, dan karenanya, “langkah ini kini menjadi perlu.” Anggota Uni Eropa lain seperti Austria, Republik Ceko, Serbia dan Hungariapun  membuat klaim serupa. Sama seperti Jerman, mereka  dilaporkan telah mendirikan kontrol perbatasan darurat, melanggar perjanjian perbatasan terbuka Uni Eropa.

Kebijakan baru Uni Eropa untuk tidak membiarkan para pengungsi yang melarikan diri kesana itu, sejalan dengan politik kejam mereka. Hal ini seperti membanting pintu di hadapan orang-orang yang sudah terlanjur sampai di depan rumah mereka. Hal ini berarti pula bahwa para anggota Uni Eropa tersebut telah kehilangan suara kemanusiaan mereka atas krisis pengungsi, mengorbankan nyawa ratusan ribu orang dari beberapa bagian Timur Tengah dan Afrika, yang melarikan diri ke Uni Eropa akibat perang berkepanjangan dari hasil kreasi negara-negara barat yang dipimpin AS.

Di seluruh dunia, jumlah pengungsi yang masuk dalam hitungan PBB, mencapai angka 60 juta jiwa, sebuah rekor yang dicapai tidak sampai 60 tahun ke belakang. Menurut Organisasi Imigrasi Internasional, lebih dari 430.000 orang telah menyeberangi Mediterania menuju Eropa, di tahun ini saja. Ribuan dari mereka telah tewas atau hilang dalam perjalanan. (Baca Petisi Kepada Uni Eropa untuk Membantu dan Melindungi Pengungsi Suriah)

Banyak dari mereka yang melarikan diri dari konflik di Suriah telah menyeberangi Mediterania menuju Eropa selatan, melewati Yunani, Makedonia, Serbia dan kemudian Hungaria, dengan tujuan untuk mencapai Jerman dan seterusnya. Puluhan ribu lainnya kini masih bergegas menuju  Hongaria sebelum undang-undang darurat migran yang baru berlaku, menjadikan ilegal bagi mereka untuk memasuki negara itu tanpa visa.

Sebagai hasilnya, tubuh-tubuh para pengungsi yang tenggelam dan terdampar di laut Mediterania, bertambah dari hari ke hari. Daruratnya masalah ini sekarang sedang disuarakan oleh masyarakat umum dan keagamaan yang meminta masyarakat sipil internasional, khususnya Uni Eropa, yang memiliki sarana itu untuk bisa menolong, agar lebih bermurah hati kepada pengungsi.

Tuntutan moralitas untuk hal ini tak terbantahkan. Di benua yang memiliki 11 juta rumah kosong,  mengadopsi mentalitas konservatif ekstrem yang mengatakan bahwa Eropa, demi alasan politik dan ekonomi, harus mengusir mereka yang membutuhkan tampat tinggal tidak sejalan dengan hukum internasional. Hukum itu mengatakan, “perubahan rezim”, pengungsi yang kelaparan, penyakit, penderitaan, kecemasan dan kondisi-kondisi mengerikan lainnya harus segera diberi bantuan yang memungkinkan, dan mereka yang kehidupannya relatif lebih nyaman, harus menolong yang lebih menderita dengan memberi sedikit kenyamanan. (Baca Amnesty International Kecam Uni Eropa atas Lambannya Penanganan Krisis Pengungsi)

Selain itu, jangan lupa, melindungi kehidupan dan memastikan perlakuan manusiawi terhadap para pengungsi, walaupun sangat penting, namun bukanlah solusi utama terhadap mimpi buruk pengungsi Eropa. Solusi yang paling utama adalah untuk menghentikan perang  di Suriah. Jika  sejumlah negara-negara Barat terus mendorong respons militer, maka terus berkobarnya  pertempuran hanya akan meningkatkan aliran pengungsi ke Eropa. Jika solusi diplomatik tidak segera tercapai, maka jutaan warga Suriah, hampir bisa dipastikan akan lari ke Eropa lagi akhir tahun ini. (ARN/RM/FNA)

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

%d blogger menyukai ini: