Iklan
News Ticker

IMF Ingatkan Ekonomi Kerajaan Saudi Hancur

JAKARTA - BERITA TIMUR TENGAH, Arrahmahnews.com - Dengan melihat peta politik luar negeri Arab Saudi di kawasan, sangat dimungkinkan negara ini akan mengalami krisis ekonomi, dan untuk pertama kalinya pemerintah Saudi harus mengambil langkah-langkah penyelamatan ekonomi negara, yang akan mempengaruhi politik luar dan dalam negeri. (Baca Karikatur Arab Saudi Over Pembelanjaan)

Pemasukan dari Penjualan Minyak Saudi Merosot

Kantor berita al-Alam melaporkan bahwa sebagian sumber media Arab menyebutkan Arab Saudi telah mengeluarkan $ 70 Milyar dari cadangan devisanya untuk membiayai perang Yaman. Tidak hanya itu, mereka juga telah meminta bantuan kepada kelompok-kelompok radikal, partai politik, dan beberapa kepala negara untuk menutupi biaya perang yang dikeluarkan. Selain itu, Arab Saudi juga memiliki peran penting di OPEC yang membuat anjloknya harga minyak dunia. Tentu langkah ini menyebabkan penurunan pemasukan devisa dan lambatnya perkembangan ekonomi Riyadh. (Baca Saudi Kirim Senjata Untuk Milisi Pro-Hadi, al-Qaeda dan ISIS di Yaman)

Dana Monoter Internasional mengatakan kepada Arab Saudi, “Volume pengeluaran Saudi dalam beberapa tahun terakhir telah meningkat secara ekstensif. Sementara harga minyak per barel dengan harga aslinya, berbeda sangat tajam. Ini berarti Saudi mengalami devisit anggaran sebesar 20% dibandingkan dengan Produk Domestik Bruto mereka, atau sekitar 130 miliar dolar AS pada 2015.

Dengan Demikian, ekonomi dan eksportir minyak terbesar di dunia menghadapi krisis anggaran yang belum pernah terjadi sebelumnya setelah harga minyak mentah turun lebih dari setengah dalam setahun menjadi di bawah 50 dolar AS per barel.

Karikatur Arab Saudi Over Pembelanjaan

Keadaan yang menyulitkan ini, memaksa Riyadh untuk meminjam dana talangan dari Bank Dunia IMF. Sementara, IMF telah memangkas proyeksinya untuk pertumbuhan ekonomi Arab Saudi menjadi 2,8 persen tahun ini dan 2,4 persen pada 2016.

IMF juga meminta Riyadh untuk melakukan reformasi yang mencakup efisiensi energi yang komprehensif dan perubahan harga, memperluas pendapatan non-minyak, meninjau ulang modal dan pengeluaran saat ini serta mengurangi tagihan upah pemerintah, tambahnya.

Riyadh untuk pertama kalinya harus mencabut subsidi energi untuk pengguna komersial dan industri. Biaya subsidi harga energi diperkirakan sekitar $80 milyar. Ini adalah refleksi yang jelas dari kerugian ekonomi Arab Saudi, kata IMF.

“Dengan penurunan besar harga minyak, defisit fiskal meningkat tajam dan kemungkinan akan tetap tinggi dalam jangka menengah,” kata IMF dalam laporan yang dirilis setelah pembicaraan dengan para pejabat Saudi, lapor AFP.

Disaat yang sama, penguasa Arab Saudi yang baru, Raja Salman telah mengikuti sebuah petualangan kebijakan politik buruk semenjak menduduki tahta di bulan Januari. Ia dan anaknya, Menteri Pertahanan dan calon putra mahkota kedua, telah melancarkan sebuah perang “mahal” ke negara tetangganya Yaman, dan melakukan serangan-serangan udara ke Suriah serta membiayai sejumlah teroris untuk beroperasi disana.

Dan “berkat” raja yang baru itu, Arab Saudi juga terlibat dalam pembangunan militer yang besar, yang seluruhnya bergantung pada senjata yang diimpor. Hal ini kemudian mendorong Arab Saudi berada dalam posisi kelima dunia untuk ranking pembelanjaan militer. Saudi terlena tak kuasa menerima rayuan Amerika dan Israel untuk membeli alat-alat militer.

Menurut gubernur Kantor Keuangan Arab Saudi, Fahad al-Mubarak, negara itu akan melihat meningkatnya peminjaman dalam bulan-bulan ke depan. Para ekonom mengatakan kerajaan harus mengeluarkan sekitar 5 miliar dolar untuk obligasi per bulan sampai akhir tahun 2015 nanti, termasuk untuk investor asing, guna menutup defisit anggaran.

Menteri Keuangan Saudi Ibrahim al-Assaf mengatakan pada Minggu pemerintah akan menunda proyek yang tidak perlu untuk memotong pengeluaran dan mengeluarkan lebih banyak obligasi untuk membiayai rekor defisit anggaran. (Baca Duet Maut Arab Saudi dan Al-Qaeda Hancurkan Yaman)

Hanya pembelanjaan populis yang masih bisa menjadi lem guna membuat komunitas Saudi masih bisa bersama ditengah perbedaan pendapat dan bergolaknya kerusuhan di wilayah kaya minyak di provinsi timur Saudi. Raja Salman dengan boros telah menghambur-hamburkan 32 juta dolar pada saat penobatannya.

Namun besarnya subsidi untuk bahan bakar, listrik dan makanan, dan tidak adanya pajak penghasilan serta bunga telah melucuti rezim tersebut dari diversifikasi sumber pendapatan negara.

Ditambah lagi, kerajaan Saudi dibebani dengan biaya selangit sebagai akibat dari sistem patronase yang semakin meluas seiring usaha kerajaan itu untuk mencoba memadamkan pembangkangan internal semenjak kebangkitan Islam melanda dunia Arab.

Rezim Saudi, tampaknya telah terjebak dalam perang ekonomi dan politik yang telah dibuatnya sendiri. Pada awalnya tampak terdepan dengan kebijakannya memotong pengeluaran investasi  jangka pendek tetapi akhirnya rezim itu harus menghadapi penghematan kejam dan kebangkrutan yang tak terelakkan dalam jangka panjang.

Apakah ini awal dari kehancuran kerajaan Arab Saudi?. (ARN/AM).

Iklan

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: