News Ticker

Islam Nusantara Bukan Gerakan Takfiri

JAKARTA, Arrahmahnews.com – Islam nusantara dan peradaban menjadi dua tema pokok Nadhlatul Ulama (NU) dalam Muktamar Muktamar ke-33 yang digelar pada awal Agustus lalu. Istilah Islam Nusantara sejatinya terlontar setelah Presiden Joko Widodo memberi penyataan soal kontroversi tilawah langgam Jawa. Banyak yang beranggapan ketika muncul istilah Islam Nusantara untuk menghapus istilah Islam Arab. (Baca juga: Habib Lutfi : Islam Nusantara Benteng NKRI dari Gerakan Anti Nasionalisme)

Bahkan perdebatan istilah Islam Nusantara menjadi perbincangan hangat saat Muktamar NU bertajuk “Meneguhkan Islam Nusantara untuk Peradaban Indonesia dan Dunia”. Banyak yang tidak setuju dengan konsep itu lantaran beberapa hal. Ada juga yang menilai jika itu diterapkan justru malah memecah umat muslim.

Lalu bagaimana sebetulnya konsep Islam Nusantara itu dihadirkan dalam Muktamar NU? Ketua Umum Pengurus Besar Nahdatul Ulama, Kiai Haji Said Aqil Sirajd mengatakan jika Islam Nusantara tidak memusuhi budaya dan tidak memberangus budaya. “Akan kita hargai dan hormati budaya-budaya yang ada, bahkan menyatu dan melebur kepada budaya, ” ujarnya Kiai Said saat berbincang dengan di kantornya, Rabu (21/10) kemarin. Dia pun menegaskan jika agama dan budaya tidak bisa dipisahkan. “Sehingga budayanya lestari dan Islam pun menjadi kuat, ” katanya. (Baca juga: Islam Nusantara Bukan Ajaran, Faham dan Madzhab)

Berikut petikan wawancara Ketua Umum PBNU, KH Said Aqil Sirajd kepada Mohammad Yudha Prasetya dari soal pandangan istilah Islam Nusantara.

Sikap PBNU dalam mengagapi gerakan radikal di Indonesia

Karena keterbukaan yang sangat bebas, kemajuan IT yang sangat maju, dan perekonomian yang sudah mulai maju, sudah dari manapun semua datang kemari dengan berbagai motif, antara lain ingin menyebarkan mahzab radikal, yang berkaitan dengan Wahabi-Salafi itu. Dengan bebasnya mereka membangun pesantren, madrasah, masjid. (Baca juga: Islam Nusantara Ijtihad Tatbiqi Bukan Merubah Wahyu)

Coba dibalik, kita mau bangun pesantren atau bangun masjid aja deh di Saudi sana, sampai mati kita enggak akan dapat izin. Ini jelas sekali berlawanan dan bertolak belakang dengan budaya kita, karakter kita, sebagai muslim Indonesia yang sudah sangat toleran, sangat moderat, apalagi yang diajarkan oleh para Wali Songo untuk tidak pernah memusuhi budaya, tidak pernah menegasikan peradaban yang sudah kita wariskan sejak dulu dari leluhur kita. Itu luar biasa, sehingga Islam menjadi kuat dan budayanya menjadi lestari.

Perang ideologis

Saya belum mengatakan ini perang ya. Tapi kan dulu kita enggak kenal dengan adanya pembakaran-pembakaran gereja di Aceh, bahkan kedatangan Ahmadiyah tahun 1925 yang dibawa oleh Kakek mantan Menteri Perdagangan Gita Wiryawan, itu kita biasa-biasa saja. Enggak kemudian Ahmadiyah kita bakar, enggak. Walaupun kita jelas beda dengan Ahmadiyah itu sendiri. Begitupun dengan Syiah.

Sebenarnya Syiah itu secara kultural masuk ke Indonesia itu lebih awal, ketika para Habib keturunan Nabi Muhammad masuk ke sini dari Hadramaut (Yaman) untuk berdagang. Itu sudah berabad-abad lalu. Tapi belakangan kan kita juga heran mengapa kebencian terhadap Syiah itu sangat kelewat batas-lah. Padahal sama-sama orang Islam, shalatnya sama-sama menghadap kiblat, sama-sama puasa Ramadhan, sama-sama haji, bahkan sama dalam hal-hal prinsip Islam lainnya. (Baca juga: Kyai Said Agil: Jihad Dalam Islam Bukan Hanya Perang Melulu)

Semangat toleransi yang ditularkan Gus Dur

Al-Quran sendiri menegaskan hal itu, “Tidak boleh ada kekerasan dalam agama!”. Artinya, ketika ada kelompok yang melakukan kekerasan, berarti mereka jelas bertentangan dengan agama. Konteksnya ayat itu turun adalah ketika ada seorang ayah namanya Al Hasin, dia masuk Islam, kemudian memaksa anaknya agar mengikutinya masuk Islam. Anaknya enggak mau, terus diancam mau dibunuh, maka turun ayat itu. Itu ayah mengancam anaknya, apalagi mengancam orang lain.

Kemudian ada juga ayat yang jelas sekali, Surat Yunus ayat 99, yang mengatakan “Dan jika Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang di bumi seluruhnya. Tetapi apakah kamu (hendak) memaksa manusia agar mereka menjadi orang-orang yang beriman?”, tapi Tuhan tidak mau, biarkan agama beragam.

Apakah Nabi Muhammad akan melakukan kekerasan agar mereka menjadi orang Islam semua? Enggak boleh. Jadi di dunia ini enggak mungkin Katolik semua, Hindu semua atau Islam semua,itu enggak mungkin. Allah Swtsudah mendesain bahwa di dunia ini beragam agama. Sama seperti Allah Swt mendesain di dunia ini beragam kulit, agama, suku, budaya, bahkan bahasa.

Definisi Islam Nusantara

Islam Nusantara adalah Islam yang tidak memusuhi budaya dan tidak memberangus budaya. Akan kita hargai dan hormati budaya-budaya yang ada, bahkan menyatu dan melebur kepada budaya. Sehingga budayanya lestari dan Islam pun menjadi kuat.Karena dari hati dan kepribadian kan doktrin-doktrin seperti itu bisa ada, beda dengan Islam yang di Timur Tengah. Sudah konflik bertahun-tahun dan meluas dari ujung ke ujung. Di kita ada konflik, kita akui di Sampang, Cikeusing maupun di Cikeuting, tapi bisa kita lokalisir sehingga tidak meluas dan berlangsung bertahun-tahun. Relatif lebih cepat lah dibanding Irak, Afghanistan, Suriah, dan Yaman.

Kenapa bisa begitu? Karena kita masih punya prinsip ajarannya Wali Songo, yang menggabungkan antara Ukhuwah Islamiyah dan Ukhuwah Wathoniyah. Bersaudara sesama umat Islam dan Bersaudara sebangsa dan setanah air. Tidak boleh sebangsa dan setanah air ini saling menyakiti atau saling menindas, tapi harus saling menghargai.

Orang luar negeri tertarik dengan NU itu kenapa, ada organisasi mayoritas tapi tidak melakukan diskriminasi terhadap minoritas. Karena pada umumnya juga, seluruh bangsa Indonesia sudah toleran. Hari-hari suci Hindu, Budha, Kristen, Konghucu, kita umat Islam itu ikut libur guna menghormati hari suci mereka. Padahal berapa persen sih penganut Hindu, Konghucu? Tapi bahkan Imlek kita libur, Waisak ikut libur, Nyepi juga libur, kenapa? Demi menghormati hari suci mereka.

Kemudian banyak lagi Menteri-menteri yang non-muslim, Gubernur, Dirjen-dirjen, Bupati, beragam sekali agamanya. Yang penting mereka itu kerja dengan benar. Ahok misalnya, jadi Gubernur Jakarta. DKI mayoritas muslim, majelis taklim dimana-mana, madrasah dimana-mana, kita menerima kok kedatangan Ahok, asal Ahok menjalankan tugas dengan baik dan benar. Kita tidak mempermasalahkan agamanya.

Sikap NU terhadap kelompok Takfiri

Kita lihat bahwa sikap-sikap keras yang mereka tunjukkan itu jelas bukan sikap dan karater budaya kita. Ulama-ulama kita yang sudah sejak dulu berhasil mengislamkan nusantara ini, melakukan hal itu tidak dengan kekerasan dan peperangan.

Wali songo itu mengislamkan nusantara ini hanya 70 tahun. Bisa menghilangkan Majapahit, Padjajaran, Sriwijaya, tanpa peperangan tapi dengan pendekatan budaya. Karenanya dakwah dengan menggunakan kebijakan serta tutur kata yang baik dan santun, membuat masyarakat Jawa bersimpati pada kerajaan Demak dan berbondong-bondong meninggalkan Majapahit. Jadi perbedaan Islam yang orisinil dari nusantara itu bisa dilihat dari perbedaan sikapnya yang bijaksana, dibanding Islam yang keras. Karena itulah masyarakat Nusantara masuk Islam, tanpa kekerasan. Dengan berbondong-bondong masyarakat masuk Islam dan ikut kerajaan Demak, dan Majapahit ditinggalkan rakyatnya, roboh sendiri dan hilang sendiri pada akhirnya. Begitu juga Padjajaran dan Sriwijaya.

PBNU dalam menangkal gerakan Takfiri

Ada atau tidak ada terorisme, kiai-kiai di NU itu selalu mengajarkan santri dan masyarakatnya, melalui pengajian-pengajian dan ceramah, agar kita bersikap toleran, moderat, berakhlak mulia. Kedepankan lah akhlak, karena percuma ngaku beragama tapi tidak berakhlak serta membenci sesama, memfitnah sesama apalagi sampai membunuh. Percuma itu agamanya kalau sama-sama manusia tapi tidak menghormati ciptaan Allah Swt.

Kultur seperti itu lah yang dijaga NU. Bahwa kita wajib berdakwah memang iya. Karena kan kita memang berkewajiban mengajak mereka masuk Islam. Tapi ajaklah dengan cara-cara yang penuh hikmah bijak, tutur kata yang baik, dengan diskusi yang bermartabat, dan mencitrakan Islam sebagai rahmatan lil alami, rahmat bagi seluruh alam.

PBNU dalam konteks Islam Nusantara

Nabi sendiri kan dipuji oleh Al Quran, bahkan akhlaknya mulia. Jika kamu congkak, kamu sombong, kamu kasar, maka mereka akan lari meninggalkanmu dan tidak bersimpati kepada kamu. Tapi jika kamu santun, halus dan ramah, maka mereka akan berbondong-bondong ikut kamu Muhammad. Itu ada di Al Quran.

Kita tidak pernah menyimpang dari ajaran itu. Nabi Muhammad ketika menerima hadiah pemberian dari Gubernur Mesir yang Kristen Ortodoks agamanya, hadiahnya diterima. Ada kuda, keledai, dan lain sebagainya. Maka Nabi Muhamma berpesan kepada Khalifah Umar bin Khatab, Islam akan sampai ke Mesir berkat perjuanganmudan betul kejadian saat Umar berkuasa. Disitu Nabi Muhammad berpesan kepada Umar, jika waktunya tiba, jangan mengganggu agama dan kelompok mereka. Maka sampai sekarang pusatnya ortodoks itu di Alexandria.

Salahuddin Al Ayyubi, dari Mesir perang dengan Romawi yang Katolik. Walaupun ini masalah politik dan bukan masalah agama, ortodoks yang ada di Mesir enggak diganggu sama sekali oleh Salahuddin. Misalkan saja Salahuddin ingin menghapuskan Katolik dari Mesir, udah pasti hilang itu. Tapi kan enggak. Begitu juga ketika Khalifah Umar masuk ke Yerusalem, dan diterima oleh penguasa di sana. Kemudian Yerusalem mengatakan taat kepada Madinah. Suatu saat Umar berjalan-jalan di Yerusalem, dan masuk ke sebuah gereja. Saat itu ada azan Ashar, maka Umar segera keluar dan salat di luar. Ketika ditanya mengapa salat di luar gereja, Umar menjawab bahwa ia tidak ingin jika generasi Islam mendatang, akan merebut gereja ini dengan dalih bekas tepat sholatnya Umar. Nilai-nilai inilah yang diajarkan oleh Nabi Muhammad.

Islam Nusantara adalah upaya NU mencitrakan Islam yang toleran

Coba cek, ayat Al-Quran yang toleran itu banyak sekali. Misalnya ‘Allah Swt tidak melarang kamu berbuat baik, pada orang non-muslim yang tidak memusuhi kamu dan tidak mengusirmu dari negerimu. Yang Allah larang adalah kamu berbuat baik dengan non-muslim dimana ia sedang berperang dengan muslim lainnya’.

Jadi selama orang itu baik-baik saja ya tidak apa-apa. Dalam hadis juga dikatakan, ‘Tidak boleh ada sikap permusuhan, kecuali kepada orang yang zalim dan melanggar hukum. Seperti pejabat yang korupsi, pengedar narkoba, penjudi, pembunuh, pelaku kriminal, itu yang musuh. Jangan ada sikap pemusuhan terhadap seseorang hanya karena beda etnis, beda agama, beda warna, beda bahasa, beda kulit, beda parpol, enggak boleh! Satu aja yang boleh, yaitu kepada mereka yang zalim dan melanggar hukum. (ARN/Merdeka)

Sumber: Merdeka.com

About ArrahmahNews (12505 Articles)

Media Pencerahan Rakyat

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: