News Ticker

Ali Valentino: Hate Speech Not Free Speech

Hate speech didasari kebencian dan kedengkian. Komunikasi jenis ini biasanya disisipi fitnah, kabar burung dan unsur SARA yang ditujukan untuk merusak nama baik dan menjatuhkan posisi atau martabat seseorang

SUARA RAKYAT, Arrahmahnews.com – Larangan menebar kebencian? Bagus bukan? Orang-orang yang memiliki akal sehat pasti akan beranggapan bahwa larangan ini adalah keharusan yang sesuai dengan norma dan moralitas yang diajarkan agama. Tetapi beda lagi dengan anggapan kelompok “The Galon and The Cow Mania”, mereka beranggapan bahwa larangan menebar kebencian (hate speech) adalah bertentangan dengan demokrasi dan hak kebebasan berbicara. (Baca juga: Gara-Gara Jonru SE “Hate Speech” Dikeluarkan)

Hate Speech Not Free Speech

Itu sama saja mereka memaknai demokrasi dan kebebasan berbicara; bahwa mereka bebas berbuat dan berkata-kata apa saja dengan sebebas-bebasnya (seenak udelnya). Menurutku kebebasan seperti ini lebih mirip dengan kebebasan para hewan liar di hutan belantara, yang mana mereka bebas saling menerkam dan mengembik sesama mereka tanpa aturan, moral dan norma.

Adalah bodoh sangat jika mereka beranggapan bahwa hate speech sama dengan mengkritik. Ini adalah dua jenis komunikasi yang berbeda baik dasar dan tujuannya. (Baca juga: Abu Janda Al-Boliwudi Bongkar Bisnis E-Hate (Kebencian Online) Kader PKS Jonru Ginting)

Hate speech didasari kebencian dan kedengkian. Komunikasi jenis ini biasanya disisipi fitnah, kabar burung dan unsur SARA yang ditujukan untuk merusak nama baik dan menjatuhkan posisi atau martabat seseorang.

Sementara kritik didasari pengetahuan dan rasa kasih sayang, dan disampaikan dengan cara santun, yang ditujukan untuk membangunkan orang dikritisi agar menjadi lebih maju dan lebih baik.

Salah satu contoh hate speech yang masih kita ingat adalah ketika pencalonan Bapak Jokowi menjadi gubernur, isu yang disebarkan mereka bahwa Bapak Jokowi adalah Non Muslim dan keturunan Tionghoa (sekiranya benar-pun bagiku tidak masalah). Lalu ketika mereka menemukan fakta bahwa ternyata Bapak Jokowi adalah seorang Muslim, dan ketika Bapak Jokowi mencalonkan diri menjadi Presiden, mereka bermanuver dengan mengganti isu basi-nya dengan isu yang baru bahwa Bapak Jokowi adalah “Syi’ah.” Begitu pula Bapak Ahok, isu yang disebarkan mereka hingga saat ini bahwa Bapak Ahok anti Islam. Jadi Hate Speech selalu disisipkan dengan isu SARA. (Baca juga: Heboh…Hina POLRI, Jonru ‘Kader PKS’ Klaim Tindakannya Dianggap Wajar oleh Kapolri)

Menebar kebencian jelas tidak berhubungan dengan demokrasi dan hak kebebasan dalam berbicara. Tetapi ini adalah jenis kebablasan dalam berbicara yang didasari Kebencian dan kedengkian. Umumnya sifat “bablas” itu tidak disengaja, tetapi untuk “bablas” jenis ini adalah kebablasan yang disengaja dan direncanakan untuk menyesatkan pikiran orang awam agar anti dan membenci seseorang atau sekelompok orang. (Baca juga: Media Radikal PKS Piyungan dan Roy Suryo Fitnah Jokowi Soal Suku Anak Dalam)

“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.”(Al-Hujurat : 6) (Salam Damai – alvin). (ARN/MM)

Sumber: Akun Facebook Ali Valentino

About ArrahmahNews (12494 Articles)

Media Pencerahan Rakyat

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: