News Ticker

Haider, Si Bayi Malang yang Kehilangan Ayah Ibunya Saat Tragedi Bom Beirut

BEIRUT, Arrahmahnews.com – Haider Mustafa, seorang anak kecil berusia 3 tahun yang mengalami luka-luka dalam peristiwa bom kembar di Beirut, kini harus terbaring lemah di Rumah sakit Rasoul Aazam, Burj al-Barajneh, selatan Beirut. Balita manis itu telah kehilangan kedua orang tuanya, Hussein dan Leila, yang tewas saat sedang memarkir mobil mereka ketika salah satu pembom bunuh diri meledakkan diri di dekat kendaraan mereka.

Saat seluruh solidaritas dunia ditayangkan media hanya dan hanya untuk ratusan orang korban serangan di Paris, Beirut seperti tak tampak dalam radar. Kota di Lebanon itu juga mengalami serangan bom yang menewaskan 43 orang dan melukai ratusan lainnya. Bahkan seorang balita berusia tiga tahun, Haider Mustafa, harus kehilangan kedua orang tuanya dan mengalami luka-luka yang tidak sedikit.  Namun diabaikannya tragedi tersebut telah membuka fakta bahwa, propaganda media Barat sekali lagi menunjukkan bahwa bagi mereka, “Kehidupan orang Arab tidaklah penting”. Tidak pula bagi Haidar, balita 3 tahun yang kini harus hidup sebagai yatim piatu. (Baca juga: Bom Beirut dan Kisah Heroik Adel Termos Yang Korbankan Nyawa Demi Orang Lain)

Anak-anak kecil menjenguk Haider Mustafa untuk menghiburnya

Anak-anak kecil menjenguk Haider Mustafa untuk menghiburnya

Beirut, merasakan penderitaan yang sama dengan Paris, perasaan syok dan kesedihan di minggu yang sama, dengan restoran dan pasar yang kini lebih sepi dan menegangkan dari biasanya, keluarga yang tewas, terluka, air mata yang bercucuran. Tapi bagi Beirut, solidaritas itu bukan untuk mereka, solidaritas itu hanya ditujukan bagi Paris, yang menerima banyak simpati sama seperti Amerika dalam 11/9. (Baca juga: Dua Pahlawan Bom Beirut yang Terlupakan Media dan Rakyat Internasional

)

Monumen-monumen di seluruh dunia menyala dengan warna bendera Perancis, pidato kepresidenan yang menyebutkan pentingnya mempertahankan “nilai-nilai bersama, juga ditujukan untuk Paris. Facebook menawarkan kepada pengguna pilihan satu-klik untuk overlay gambar profil mereka dengan tiga warna Perancis, dimana layanan yang sama tidak ditawarkan untuk bendera Lebanon. Pada hari Jumat, raksasa media sosial itu bahkan mengaktifkan Pemeriksaan Keselamatan, fitur yang biasanya disediakan saat terjadi bencana alam yang memungkinkan orang-orang tercinta memberi tanda bahwa mereka baik-baik saja. Dan layanan itu tidak diaktifkan sehari sebelumnya untuk Beirut. (Baca juga: Wajah Munafik Obama Tampak di Paris, Tuai Kritikan Pedas Netizen)

Implikasinya hal ini membangkitkan reaksi kemanusiaan. Banyak komentator mengeluh bahwa kehidupan orang-orang Arab dianggap tidak penting. Tidak juga bagi Haider, Balita 3 tahun yang kini harus menjalani kehidupan tanpa kedua orang tuanya. (ARN)

About ArrahmahNews (12489 Articles)

Media Pencerahan Rakyat

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: