News Ticker

Pawang Kritik Dumay Denny Siregar: Politik Sehat Ala Jokowi dan Ganteng-ganteng Minta Saham

SUARA RAKYAT, ARRAHMAHNEWS.COM – Ribut-ribut tentang kasus Setya Novanto meramaikan jagat sosial media, baik media elektronik maupun maya, Denny Siregar sang pawang kritik, menulis tentang politik lihai Jokowi atasi masalah.

Salah satu hal yang saya kagumi dari Presiden Jokowi adalah sikap dinginnya. (Baca juga: Presiden Italia: Karena Jokowi Aku Kunjungi indonesia)

Jokowi Presiden RI

Dengan tenangnya ia mengatakan tidak akan menuntut siapapun yang mencatut namanya dalam kasus Freeport dan menyerahkan semuanya kepada Mahkamah Kehormatan Dewan MKD untuk prosesnya.

Pakde sepertinya memang ingin menghindari keributan tidak perlu selama ia konsentrasi mendatangkan investasi-investasi asing untuk proyek-proyek infrastrukturnya. (Baca juga: Beda Rasa Jokowi dan Fahri Kader PKS Tentang Kenaikan Tunjangan

)

Capek Deh, Langkah menghindari keributan ini terlihat ketika ia menyelesaikan kasus KPK VS Polri, yang semakin lama semakin dibesarkan skalanya oleh para pemain politik. Ia harus memberhentikan langkah Abraham Samad dan Bambang Widjoyanto yang terus menjadi sasaran tembak. Ia tidak mengangkat BG (Budi Gunawan) sebagai Kapolri untuk menghindarkan keributan baru. Dan ia dengan dinginnya juga memindahkan Budi Waseso yang selalu berisik dalam mengerjakan tugasnya.

Langkah Jokowi untuk tidak terjebak dalam kisruh itu sangat tepat. Ia melokalisir keributan itu supaya tidak pecah keluar. Biarkan ribut di dewan, jangan berkelahi di lapangan, nanti di tonton banyak orang. Orang luar akan mengira Indonesia tidak aman jika setiap hari media terus menerus membesarkan skalanya.

Jika kemudian MKD memutuskan Setya Novanto tidak bersalah, biarkan masyarakat yang menilai. Toh situasi ini sudah menghancurkan nama baiknya sendiri.

Dengan begitu akan terlihat jelas, siapa yang bekerja dan siapa yang tidak. Ini situasi yang menguntungkan yang akan menambah poin menuju pilpres 2019 nanti. Bukan karena ia gila jabatan, tetapi supaya arah pembangunan lebih jelas dan panjang. Bayangkan, jika 5 tahun dibangun dan 5 tahun kemudian dihancurkan.

Model politik sehat yang dimainkan Jokowi memang angin segar perubahan. Ia tidak ribut dengan slogan Revolusi Mental tanpa menunjukkan cara yang benar. Ia melakukannya. (Baca juga: Misteri Jokowi dan Sang Nasib)

Panjang memang perjalanan kita menuju ke arah yang benar karena masih banyak badut-badut politik yang jumpalitan. Dan mereka bukan orang sembarangan.

Apakah dengan demikian Setya Novanto akhirnya lolos dari hukum ?

Ciri khas pakde ini langkahnya selalu panjang, memutar dan tidak kelihatan. Lihat saja, ada pada satu momen dimana lawannya tidak merasa bahwa ia dihajar. Ia dirangkul, diajak tertawa sambil makan, dan tanpa sadar ia mati pelan-pelan. Dengan terbukanya siapa Setya Novanto ke publik, lalu siapa lagi yang ingin bernegosiasi dengannya? Itu saja sudah hantaman yang cukup telak. Kartu mati.

Analogi kodok yang tidak sadar bahwa ia direbus sampai matang di dalam panci seperti yang digambarkan Ahok tentang dinginnya Jokowi memperlihatkan kemampuan politik yang lihai. Dan ia juga didampingi orang-orang yang lihai disampingnya.

Masih banyak kodok di dalam panci yang mesti direbus pelan-pelan. Harus diciptakan peristiwa-peristiwa supaya mereka muncul di permukaan. Biarkan mereka terus mengorek, lama-lama juga terdiam. (Baca juga: Perang Cerdas Ala Jokowi)

Kelihatannya sinetron “ganteng-ganteng minta saham” akan selesai sampai disini, dan akan dilanjutkan sinetron terbaru “Makelar pensiun”. (ARN/MM)

Sumber: Dennysiregar.com

About ArrahmahNews (12478 Articles)

Media Pencerahan Rakyat

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: