Denny Siregar: BALI YANG SYARIAH

27 November 2015,

SUARA RAKYAT, ARRAHMAHNEWS.COM – Ramai di media sosial tentang wisata syariah Bali membuat Denny Siregar salah seorang pegiat media sosial menuliskan pengalaman dan analisanya tentang kerukunan beragama dan kuatnya orang Bali memegang adat istiadatnya.

Saya 2 tahun tinggal di Bali. Saya rela keluar dari kerjaan lama dan memulai kerja dari bawah lagi hanya supaya bisa tinggal di Bali.

Bali itu eksotik sekaligus misterius. Disana terjadi pertemuan dua arus besar antara dunia modern dan ketatnya unsur tradisional. Menariknya, kedua unsur yang sebenarnya berbeda ini bukannya saling menolak, malah saling berkait. Di Bali begitu mudah kita menemukan kendaraan terbaru semudah kita menemukan patung-patung yang bercerita tentang legenda masa lalu.

Orang Bali itu aneh menurut saya. Mereka begitu terbukanya terhadap pendatang baru, tetapi mereka bisa menjaga adat istiadat mereka dengan sangat kuat sehingga tidak kehilangan identitas dirinya. Bandingkan dengan Jakarta misalnya, dimana ciri masyarakat Betawi harus dipaksa dilestarikan supaya tidak hilang tergerus arus modernisasi. Anak muda di Bali-pun bangga dengan pakaian tradisional mereka, sebangga mereka menyanyikan lagu-lagunya Rihanna.

Meskipun begitu, karena saya muslim, terkadang saya harus menahan diri terhadap rasa mual melihat makanan sejenis lawar, yang tampak seperti daging babi dan darahnya diaduk menjadi satu dan menjadi makanan lezat bagi masyarakat Bali. Tapi lama-lama saya terbiasa juga melihat teman saya yang asli Bali makan dengan lahapnya di samping saya.

Dengan semua kelebihan yang ada pada Bali dan membuat saya jatuh cinta pada suasana, keluguan dan kebaikan masyarakatnya, saya menjadi heran ketika pemerintah hendak menjadikan Bali sebagai salah satu destinasi wisata syariah.

Pemerintah seharusnya paham, bahwa kata “syariah” itu berarti aturan yang tunduk pada ketetapan Tuhan dan dalam hal ini syariah identik dengan Islam. Lalu, bagaimana Bali yang mayoritas Hindu bisa menerima begitu saja identitas agama lain disematkan kepada mereka?

Pemerintah juga seharusnya peka, bahwa Islam yang selama ini dikenal oleh warga Bali adalah Islam fundamentalis yang sudah mengacak-acak periuk makan mereka dengan bom Bali 1&2. Peristiwa yang menghancurkan tiang ekonomi mereka yang sepenuhnya bergantung pada pariwisata. Dan menyematkan kata “syariah” memunculkan kembali trauma mereka.

Pemerintah harus sadar bahwa Bali tidak ingin mengganti pemandangan pantai mereka yang indah dengan gurun pasir yang banyak onta. Bali sudah sangat cukup dengan turis Eropa, Jepang dan Australia sehingga tidak membutuhkan turis timur tengah yang sangat pelit tapi permintaannya banyak luar biasa.

Warga Bali juga paham bahwa “syariah” yang dimaksud bukan meng-Islamisasi Bali, melainkan hanya menyediakan restoran Islami, hotel Islami. Tapi kenapa mesti harus bicara syariah? Selama ini disana kalau ingin mencari masakan muslim, cukup cari rumah makan Jawa atau Padang. Itu sudah ciri yang melekat halal-nya, tidak usah lagi pake label syariah-syariah-an. Kalau hotel ngapain juga pake konsep syariah?

Warga Bali tidak perlu mengemis turis, justru turis-lah yang harus beradaptasi dengan adat dan budaya mereka. Tidak perlu dengan alasan untuk meningkatkan pendapatan dari sisi pariwisata, Bali adalah penyumbang pendapatan pariwisata terbesar di Indonesia. Bahkan Bali bisa lebih terkenal diluar daripada nama Indonesia.

Pemerintah harus memahami Bali dan menghargai berapa lama mereka mempertahankan ciri khas mereka dengan meminta gedung-gedung yang ada di Bali harus mempunyai ciri Bali, lalu untuk apa pemerintah memaksa mereka harus bernuansa timur tengah ?

Biarkan Bali dengan Bali-nya. Selama ini mereka tenteram, damai dan orang Hindu disana sebagai mayoritas menjaga minoritas lainnya dengan tanggung-jawab dan amanah. Jangan mereka digesek-gesekan sehingga keluar ego keagamaannnya.

Coba, beranikah pemerintah memaksa warga Aceh untuk mendirikan sebuah pura disana? Wong, gereja aja dibakar apalagi pura yang asumsi masyarakat sana adalah menyembah patung. Biarkan semua berkembang sesuai dengan budaya yang ada tanpa harus dipaksa mereka menerima. Pemerintah jangan karena alasan menambah devisa dari pariwisata, tidak bertanya dulu kepada masyarakat sekitar apakah menerima atau tidak? Jangan main paksa.

Pada waktu kerusuhan Mei 98, berbondong-bondong warga Jakarta mengungsi ke Bali. Pada waktu kerusuhan Ambon, warga Ambon juga banyak yang mengungsi ke Bali. Itu tandanya Bali masih teridentifikasi sebagai tempat aman, jangan pula malah dijadikan tempat yang tidak aman.

Begitu banyak wisata syariah yang bisa dibangun di daerah yang sesuai, kenapa mesti memaksa Bali? Kalau yang dimaksud wisata syariah adalah wisata reliji, bukankah selama ini Bali juga menyediakan wisata reliji tanpa harus gembor-gembor?

Bali ya Bali, mereka tidak bisa dipaksa menjadi Sulawesi. Nasar ya Nasar, ia tidak bisa dipaksa menjadi atlet angkat besi. Bisa aneh jadinya, ketika tangannya yang kekar dan berotot mengacung di depan kamera sambil jarinya di kuncupkan ke atas dan berkata dengan suara gemulai, “sini, kuremas punyamu…” (ARN)

Sumber: Akun facebook Denny Siregar

About ArrahmahNews (12465 Articles)

Media Pencerahan Rakyat

1 Comment on Denny Siregar: BALI YANG SYARIAH

  1. Setuju sekali Mas Denny…Semoga Budaya Bali Asli terus Lestari….I love Bali

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: