News Ticker

Wasiat Denny Siregar Kepada Pengacau Negara

1 Desember 2015,

SUARA RAKYAT, ARRAHMAHNEWS.COM – Salah satu pegiat sosial Denny Siregar, menulis di akun facebooknya yang menjelaskan tentang hiruk-pikuk kasus Freeport dan tehnik dis-informasi yang digencarkan oleh para pegacau negara. Mereka para pengacau negara berharap pemerintahan terlihat kacau dan tidak tegas, sedangkan masyarakat dijejali info-info palsu dan adu domba yang efeknya bisa membuat perang sektarian di Indonesia, dan pada akhirnya negara menjadi berantakan.

Gak tahu kenapa banyak sekali yang message ke saya minta pendapat tentang artikel keterlibatan Wapres JK dan Sudirman Said dalam kasus Freeport.

Daripada berandai-andai, lebih baik kita memahami bahwa di dalam dunia intelijen ada yang namanya tehnik dis-informasi, atau pemberian informasi yang seolah-olah benar tetapi fungsinya lebih kepada pengalih perhatian saja supaya orang tidak fokus pada kasus utama.

Ciri-ciri Aliran Teroris

Melihat kuatnya Setnov dalam sisi keuangan dan jaringan, bukan hal yang tidak mungkin ia menggunakan tehnik dis-informasi. Jika benar ia mampu menawarkam uang ke anggota MKD sebesar 20 miliar, maka ia mempunyai potensi untuk menebarkan ranjau sebagai pengalih perhatian terhadap kasusnya.

Tehnik dis-informasi juga digunakan dalam kasus ISIS. Ketika ISIS sudah ditetapkan sebagai teroris, maka mereka yang dulu mendukung ISIS serta merta berbalik menjadi penyerang. Mereka dengan tiba-tiba melemparkan informasi bahwa ISIS itu buatan Syiah dan Iran. Tehnik ini digunakan untuk mengacaukan pikiran mereka yang mudah terseret arus dan berbelok sesuai arah yang diinginkan.

Kenapa yang diserang adalah Wapres, Sudirman Said? Karena untuk menyerang Presiden tidak mungkin. Presiden masih dikenal bersih tangannya dalam kasus Freeport ini karena beliau belum pernah menyentuh sedikitpun kasusnya sebelum menjabat jadi Presiden. Sedangkan Wapres dan Sudirman Said adalah orang lama atau setidaknya mempunyai jaringan menuju kesana. Apalagi posisi Presiden sulit di goyang karena banyak pendukung fanatiknya yang malah akan menyerang balik si penyerangnya.

Karena itulah lebih bagus memilih Wapres dan Sudirman Said sebagai target empuk untuk mengalihkan isu. Dengan disebarkannya artikel tersebut, diharapkan masyarakat akan terbelah pandangannya dan sibuk berkutat disana sehingga melemahkan pengawalan terhadap kasus Setnov di MKD.

Selain Wapres dan Sudirman Said, Luhut juga sasaran empuk. Sebagai bekas orang Golkar lama dan pengusaha, maka tembakan ke Luhut akan memecah barisan di internal Jokowi. Apalagi dengan disebutkannya berulang-ulang nama Luhut di rekaman dan ekspresinya yang tidak gusar ketika namanya dicatut.

Pendapat ini yang juga saya heran. Jika Setnov berani mencatut nama Presiden, kenapa dia tidak berani mencatut nama Luhut? Namanya mencatut ya tentu tidak sepengetahuan orangnya. Masalah ekspresi Luhut yang tidak gusar juga kenapa malah dijadikan patokan bahwa ia terlibat? Gusar atau tidak kan adalah ekspresi yang berbeda sesuai tipikal masing-masing orang. Tidak gusar salah, nanti kalau gusar lebih salah. “Tuh kan dia marah, pasti terlibat. Kalau tidak terlibat, kenapa mesti marah?”

Saya lebih baik mengamati dengan tenang situasi ini, sambil mengumpulkan data untuk bahan analisa nanti daripada sibuk berteori konspirasi. Karena sekarang banyak muncul pengamat-pengamat dadakan yang merasa tahu segalanya, padahal mereka hanya terlalu semangat saja.

Kita lihat saja kemana arah anginnya, siapa tahu muncul tokoh baru yang kita tidak diduga-duga. Mungkin saja Bang Rhoma Irama tiba-tiba muncul di tengah kasus, karena ada lagunya yang menyebut nama seseorang yaitu Ani.

Siapakah Ani itu ? Ada beberapa kemungkinan. Salah satunya adalah Sultan Bathoegani. Bisa saja. Wong namanya teori konspirasi. (ARN)

About ArrahmahNews (12476 Articles)

Media Pencerahan Rakyat

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: