News Ticker

DRAMATIS! Kronologi Penyelamatan Pilot Tempur Su-24 Rusia yang Ditembak Turki

5 Desember 2015,

LATTAKIA, ARRAHMAHNEWS.COM – Media-media Rusia memuji Komandan Pasukan Garda Revolusi Iran paling terkenal, Mayor Jenderal Soleimani, atas keberhasilannya dalam operasi penyelamatan pilot jet tempur Rusia Su-24 yang ditembak jatuh oleh Turki diatas wilayah udara Suriah pada tanggal 24 November lalu. (Baca juga: Insiden Jet Tempur Rusia Adalah Aksi Balas Dendam Erdogan Atas Kerugian Yang Dialami Sapi Perahnya, ISIS)

Sebuah website milik kelompok penggemar Presiden Rusia, Vladimir Putin, tak ketinggalan menerbitkan sebuah artikel dilengkapi foto “Shadow Commander” Jendral bayangan Iran itu dengan judul, “Kunci Penyelamatan Pilot Rusia”, dimana di dalam artikel tersebut diceritakan mengenai proses penyelamatan sang pilot oleh sebuah tim dibawah komando jenderal Qassem Soleimani.

Emad Abshenas, seorang reporter dari sebuah kantor berita Sputnik, Rusia menulis mengenai keseluruhan cerita yang ia dapatkan dari seorang pejabat di Suriah. (Baca juga: IN MEMORIAM, Serena Shim, Wartawan Pemberani Yang Ungkap Perang Kotor AS, Turki, ISIS di Suriah

)

Berikut cerita Emad Abshenas;

“Saya menghubungi salah satu perwira Suriah yang tak lain adalah teman lama saya dan saat itu sedang bertugas di Lattakia. Saya memintanya untuk menceritakan kisah penyelamatan itu, dan inilah kisahnya,” ungkap Abshenas.

Setelah peristiwa ditembak jatuhnya jet tempur Rusia Sukhoi SU-24 itu, Helikopter Rusia segera lepas landas untuk menyelamatkan pilot yang dikabarkan berhasil selamat. Mereka menghadapi perlawanan sengit dari FSA (atau yang biasa disebut oposisi pemberontak moderat dukungan Barat) dan pemberontak Turkmen dukungan Turki yang menargetkan helikopter tersebut dengan misil dan senjata canggih terbaru yang mereka miliki. Saat operasi tersebutlah seorang tim penyelamat Rusia, tewas. (Baca juga: Kesaksian Pilot Tempur Rusia; Tak Ada Peringatan, Dan Kami Tak Langgar Wilayah Udara Turki)

Saat itu, sebuah informasi yang kredibel telah diperoleh bahwa sejumlah unit khusus Turki telah dikirim ke tempat kejadian untuk menculik pilot Rusia yang selamat tersebut dengan tujuan nantinya digunakan untuk memeras Rusia. Demi mencegah hal itu, Rusia segera merencanakan operasi lain untuk segera membebaskan pilotnya. Diwaktu itulah Jenderal Soleimani menghubungi mereka dan menawarkan rencana bahwa unit satuan tugas khusus yang telah dibentuk pasukan khusus Hizbullah dan pasukan komando Suriah yang telah dilatih oleh Iran, dan sepenuhnya akrab dengan situasi geografis dan seluk beluk daerah, dimana mereka akan bertugas dalam operasi darat sementara Rusia menyediakan perlindungan melalui udara dan satelit intelijen untuk mereka. (Baca juga: Rusia Diantara Dilema Barat dan Kelompok Takfiri di Suriah)

Jenderal Qassem Soleimani Bersama Pasukannya

Jenderal Qassem Soleimani Bersama Pasukannya

Soleimani berjanji akan mengembalikan pilot Rusia tersebut dalam keadaan sehat dan selamat. Sebuah janji dari Sang jenderal yang benar-benar ditepati menurut perwira Suriah tersebut.

Setelah menelusuri tempat pilot Rusia melalui GPS nya, terungkap bahwa pilot itu diculik dan ditahan sejauh 6 km dibelakang garis depan medan tempur antara tentara Suriah dan pemberontak. (Baca juga: 10 Fakta Suriah Yang Tak Terbantahkan)

Enam pejuang unit operasi khusus Hizbullah dan 18 pasukan komando Suriah mendekati garis depan untuk melaksanakan operasi, sedang angkatan udara Rusia dan helikopter-helikopternya secara bersamaan menciptakan neraka di wilayah tersebut dengan menghancurkan markas-markas para teroris sehingga sejumlah besar pasukan musuh yang semula dikerahkan di wilayah tersebut melarikan diri dari TKP hingga menciptakan jalan untuk unit khusus dibawah komando jenderal Solemani di darat. (Baca juga: GEMPAR.. Duet “Spetsnaz” dan Shadow Commander Selamatkan Pilot Sukhoi Su-24)

Perwira Suriah itu kemudian menambahkan bahwa setiap pergerakan unit khusus itu berada dibawah pengawasan dan perlindungan satelit Rusia yang melakukan tugasnya dengan sangat teliti, hingga setiap ada pergerakan dalam radius 100 meter dari area operasi selalu dilaporkan kepada mereka dan setiap moment dari operasi dilaporkan langsung ke pejabat teringgi di Kremlin (yang menurut perwira tersebut adalah Presiden Putin), dan jelas bahwa ia melakukan pemantauan langsung terhadap seluruh operasi melalui satelit dari Moskow.

Menurut perwira yang tidak ingin namanya disebutkan itu, operasi kemudian berubah menjadi ajang perburuan teroris dalam zona operasi oleh Angkatan Udara Rusia dari udara, dan oleh operasi unit khusus Jendral Soleimani dari darat.

Pejabat Suriah itu percaya bahwa Rusia juga segera meluncurkan perang elektronik yang besar-besaran guna membutakan semua satelit dan peralatan komunikasi musuh dalam radius beberapa kilometer dari zona operasional, hingga ketika musuh menyadari sesuatu sedang berlangsung, operasi telah berakhir. Perang elektronik itu diluncurkan Rusia untuk mewaspadai kemungkinan satelit Barat akan membocorkan operasi serangan terhadap para teroris. (Baca juga: Arab Saudi Persenjatai Teroris di Suriah dengan Senjata Canggih Buatan Israel)

Akhirnya, unit khusus berhasil menyelamatkan sang pilot setelah merangsek masuk sejauh 6 kilometer melewati garis musuh, banyak membunuh para teroris disana, dan menghancurkan berbagai peralatan canggih mereka.

Menariknya, ke 24 anggota unit khusus bersama dengan sang pilot Rusia bisa kembali ke basis mereka tanpa mengalami luka-luka padahal mereka baru saja melewati sebuah misi sangat berbahaya (Missin Impossible).

Pejabat Suriah itu menyatakan bahwa Jenderal Soleimani bersikeras mengawasi langsung jalannya operasi dan berada langsung dalam medan operasi hingga memastikan kesuksesan mereka. (Baca juga: Sektarian, Propaganda Wahabi Saudi dan AS yang Dimainkan di Suriah)

Abshenas kemudian menuliskan beberapa point menarik dari operasi tersebut;

1. Jenderal Soleimani benar-benar dalam kondisi sangat sehat dan secara aktif memberi komando dalam operasi di garis depan dalam perang melawan teroris dan hal itu berarti sudah merupakan respon atas isu tentang dirinya melalui aksi dan bukan sekedar kata-kata. (Baca juga: Media Israel “Bunuh” Sang Shadow Commander “Qassem Soleimani”)

2. Tidak ada oposisi moderat dan ekstremis di Suriah, semuanya adalah teroris yang sama namun muncul di depan publik dengan pakaian dan topeng berbeda. (Baca juga: Diplomasi Dungu Saudi dan Amerika di Suriah)

3. Kelompok 4+1 tidak bisa mempercayai negara-negara lain dalam bidang apapun dan mereka harus bergantung pada diri mereka sendiri untuk menghilangkan teroris di wilayah ini berdasarkan rencana mereka yang ditentukan mereka sendiri.

4. Kerjasama operasional Iran dan Rusia di Suriah sangat terintegrasi dan dapat mematahkan semua front musuh.

5. Kebanyakan anggota FSA Suriah telah menarik diri dari zona operasi setelah mereka digempur serangan udara Rusia. Jadi, Unit Khusus dibawah komando Jenderal Soleimani bertempur dengan pasukan non-Suriah yang menggunakan taktik militer klasik dan bukan perang gerilya. Pasukan non-Suriah itu, bisa jadi adalah militer Turki atau pasukan tentara negara-negara lain. Komando (Pasukan Jenderal Soleimani), tentu saja, tidak punya pilihan lain selain menghabisi mereka mengingat pentingnya tindakan cepat dalam operasi tersebut, dan mereka tidak punya cukup waktu untuk menahan para tentara dari pasukan non-Suriah itu sebagai tawanan.
6. Teroris yang ada di wilayah tersebut memiliki peralatan militer yang sangat modern dan canggih sebanding untuk melakukan perang antar sesama pasukan darat atau dari darat-ke-udara yang bahkan tidak dipasok ke sejumlah besar negara-negara yang merupakan sekutu NATO/Washington.  (Baca juga: Beruang Rusia Mengamuk di Suriah Hancurkan ‘ISIS’ Jihadis Palsu Berkedok Agama)

7. Menurut sumber-sumber informasi yang telah ditelusuri ketika kontak senjata dengan pasukan oposisi, terdengar mereka memakai Bahasa Arab, Turki, Rusia dan Perancis, masing-masing adalah bahasa yang paling sering digunakan oleh para teroris. Hal ini mengungkapkan bahwa negara-negara tersebutlah yang menghadapi resiko terbesar dari kembalinya para teroris ini, sekaligus menunjukkan bahwa Rusia memang harus melanjutkan perjuangan hingga pemusnahan para teroris di Suriah ini secara tuntas, demi melindungi keamanan nasional mereka sendiri dari ancaman teroris. (ARN)

About ArrahmahNews (12484 Articles)

Media Pencerahan Rakyat

1 Trackback / Pingback

  1. Akhirnya Erdogan Meminta Maaf Kepada Putin | VOA ISLAM NEWS

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: