News Ticker

Surat Terbuka Denny Siregar Kepada Istana dan Senayan

8 Desember 2015,

JAKARTA, SUARA RAKYAT, ARRAHMAHNEWS.COM – Ramainya kasus Setya Novanto tentang rekaman percakapannya yang dibongkar oleh Maroef Sjamsudin dan diadukan kepada MKD (Majelis kehormatan Dewan) DPR, mendapat kecaman dan kritik, salah satu kritik itu dilontarkan oleh pegiat media sosial Denny Siregar di website dan akun facebooknya. Berikut cuitan Denny Siregar :

ISTANA VS SENAYAN

Perang Istana vs Senayan memasuki babak baru.

Perangkap yang dimainkan istana dengan menggulirkan bola panas ke Mahkamah Kehormatan Dewan, tertahan karena kelihaian Setnov memainkan pion nya. Ia berhasil membuat MKD membuat sidang tertutup untuk dirinya, ia berhasil meyakinkan MKD supaya dirinya didampingi pengacara meski pun ini hanya sidang etik dan bukan sidang hukum, dan ia berhasil DIAM tidak menjawab pertanyaan dengan alasan bahwa materi sidang adalah meng-konfirmasi rekaman sedangkan ia bersikukuh bahwa rekaman itu ilegal karena tidak sesuai Undang-undang.

Itulah jurus pagar betisnya. Dan jurus ini tidak akan berhasil jika dia tidak main diluar dan didalam sidang.

Bisa dibilang pada poin ini, Setnov berhasil mencuri waktu pada saat posisinya terpojok di ruang sempit. Waktu yang dia bayar dengan sangat mahal karena melibatkan banyak pihak mulai partai sampai pengacara. Anda bisa kebayang berapa rupiah yang harus dia keluarkan?

Jokowi Marah Besar

Tetapi Jokowi juga tidak mau tinggal diam. Sesudah mendorong bola panas itu ke MKD dengan maksud supaya perang ini menjadi perang terbuka dan rakyat bisa mengikuti situasinya, maka ia memainkan langkah baru mendorong kasus ini ke wilayah hukum. Api-nya dia besarkan dengan pernyataan keras di media bahwa ia tidak suka namanya dicatut. Hal yang seharusnya ia lakukan di permainan awal tapi baru dimainkan sekarang. (Baca juga: Jokowi Marah Besar dan Perintahkan Polri Lacak Keberadaan Reza Chalid yang Menghilang

)

Karena itulah Kejagung bergerak cepat dengan mengundang Sudirman Said dan Maroef Sjamsudin untuk menganalisa celah hukumnya. MKD itu hanya sebagai stretching atau pemanasan saja, karena di sana memang yang di permasalahkan hanya kode etiknya bukan hukumnya. Meskipun begitu, diharapkan awalnya MKD bisa menjatuhkan Setnov dari kursi ketua DPR supaya mudah memprosesnya di hukum.

Selain Kejagung bidak lainnya yang dimainkan adalah Polri yang diperintah untuk melacak keberadaan Muhammad Riza Chalid sebagai salah saru tokoh utama dalam episode Papa Minta Saham.

Bisa dibilang, sebenarnya Riza Chalid inilah target utama Jokowi.

Dibandingkan Riza, Setnov tidak ada apa-apanya. Riza adalah otak dan pendana yang menggerakkan banyak keputusan politik di Indonesia. Ia berani mengeluarkan 500 miliar untuk pilpres dengan harapan kemenangan Prabowo dan bahkan ia berani memprediksi Jokowi jatuh dari kursinya jika Freeport diputus kontraknya. Dalam komik Lucky Luke, dialah Joe Daltonnya. Ia bisa membeli siapapun yang mau dia beli, termasuk partai yang bergantung pada keuangannya. Selama ini, ia berhasil membeli kekuasaan dengan menjadikan Petral sebagai lumbung padinya, dan membagikannya ke banyaj pihak.

Posisi Riza Chalid juga menakuntukan bagi partai-partai yang selama ini menerima aliran dananya. Jika Istana berhasil menegosiasikan keamanannya asal dia “bernyanyi” kemana saja aliran dananya disalurkan selama ia menguasai Petral, maka runtuhlah banyak nama besar yang selama ini berpesta pora.

Jadi permainan catur ini sebenarnya bisa meluas kemana-mana dan sangat mungkin Freeport juga mengambil bagian dari situasi ini. Sebagai mantan Waka BIN, Maroef Sjamsudin tidak bisa dipandang remeh. Ia bukan dengan tiba-tiba saja didudukkan oleh James Moffet, boss besar Freeport jika Moffett tidak melihat suatu hal yang bisa menyelamatkan situasi Freeport kedepan supaya tidak diputus kontrak secara tiba-tiba. Freeport akan membantu Istana, jika istana mau juga membantu Freeport.

Mungkin inilah drama politik terbesar dan terpanjang yang akan kita tonton. Yang kita harus sadari, untuk menuju keseimbangan memang harus melalui situasi seperti ini. Sudah terlalu banyak masalah yang dipelihara sekian puluh tahun di negeri ini dan untuk mengatasinya tidak cukup dengan waktu sebulan dua bulan.

Saatnya minum kopi dan mengamati situasi yang berkembang yang akan menjadi pelajaran bagi kita bagaimana bermain politik cerdas, sesudah politik begitu kasarnya selama ini.

Politik itu, mengutip kata mantan Farhat Abbas, adalah bagaimana caranya lembut di depan kamera dan brutal di ranjang. Saking brutalnya, bahkan banyak yang ejakulasi dini di depan. (ARN)

Sumber: Dennysiregar.com

About ArrahmahNews (12471 Articles)

Media Pencerahan Rakyat

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: