News Ticker

Nasehat Denny Siregar Kepada Bos Media “Hary Tanoesoedibjo”

14 Desember 2015,

SUARA RAKYAT, JAKARTA, ARRAHMAHNEWS.COM – Celoteh Denny Siregar dalam akun Facebooknya kepada bos media Hary Tanoesoedibjo :

Malam, pak Hari Tanoe.

Hampir setiap hari saya baca nama anda. Di running teks tivi-tivi anda sampai di beranda fesbuk saya muncul suggested post tentang anda. Suggested post ini kalau gak salah mirip iklan berbayar di fesbuk.

Dari semua politisi -bapak kan sudah masuk lingkaran politisi sekarang- kelihatannya yang gencar beriklan ya hanya bapak ini. Saya anggap wajar karena bapak punya banyak media dan uang untuk beriklan diluar media bapak.

Saya jadi ingat cerita yang lucu, waktu bapak kampanye sebagai cawapres Hanura dan bapak kasih bantuan ke para nelayan kemudian bapak bertanya kepada mereka dengan penuh harap, “Kalian tahu siapa saya? “Para nelayan menjawab serempak dengan semangat, “Tahuuu…Pak Ahooook….” Saya terpingkal-pingkal bacanya.

Bukan saja karena cerita itu lucu, tapi buat saya cerita itu menggambarkan kejujuran sekaligus kegagalan. Nelayan itu jujur karena mereka memang tahunya Ahok. Dan itu adalah kegagalan yang menyakitkan buat bapak karena mereka tidak tahu siapa bapak. Memang sakit ketika kita sudah mengeluarkan banyak modal tapi orang tidak tahu siapa kita.

Itu masa lalu memang, kita hapus saja. Sreeeeeet, hapus….

Sayangnya, saya lihat tidak banyak perubahan dalam konsep kampanye bapak. Bapak kembali mengandalkan iklan sebagai tonggak mengangkat nama. Meskipun iklan itu bentuknya di komunikasikan – seperti HT bersama keluarga, HT menjadi ketua anu – tetap saja orang melihatnya sebagai iklan. Bapak tidak bisa melawan perubahan arus pemikiran orang sekarang ini.

Di negara maju mereka sudah berbicara tentang The death of advertising, lho pak. Dalam artian, iklan sudah tidak banyak berpengaruh sekarang sebagai penggerak orang untuk mengambil keputusan, karena orang sudah banyak paham bahwa iklan ntuh isinya yang baek-baek ajah. Ya, nama bapak terkenal sih, siapa yang tidak kenal HT. Tapi kalau hanya nama terkenal saja banyak pak dan bapak tenggelam diantara nama-nama mereka.

Pertanyaannya, bisa atau tidak bapak mempengaruhi mereka, masyarakat yang suatu saat akan memilih bapak atau partai bapak, apa itu namanya? Perindu? Eh, maaf.. Perindo, ya pak. Karena kalau tidak, sia-sia saja uang yang dikeluarkan untuk kampanye2an itu.

Saran saya, ini saran lho pak, buatlah hal yang kontroversial. Itu lebih menarik buat masyarakat. Seperti kontroversial-nya Ahok dengan gebrakan memberantas tikus di jajarannya. Seperti kontroversial-nya pakde dengan tendangan tanpa bayangannya kepada mafia. Seperti kontroversial-nya bu Susi dengan menghancurkan kapal nelayan asing. Kontroversial mereka menjadikan mereka punya nilai, bukan hanya terkenal. Dan nilai yang mereka bangun mempengaruhi masyarakat.

Tapi ada juga jenis kontroversial yang lain, seperti Papa minta saham. Ini terkenal juga, tapi terkenal hanya untuk dijadikan bahan bully-an, pak. Bapak tidak mau kan seperti mereka? Kalau ginian mah gampang, pak. Bapak tinggal statement aja, “Saya mendukung Donald Trump bahwa Islam tidak layak untuk masuk Amerika…” Wuahhhh, dijamin rame pak. Sungguh. Berhari-hari itu beritanya, pak. Jagat medsos senang ada berita.

Nah dengan hal yang kontroversial, bapak bisa keluar dari kungkungan media-media bapak yang banyak itu. Yang harus dicatat, sekarang zamannya medsos pak, bukan lagi zaman media mainstream. Masuklah dengan berani ke dunia medsos yang banyak tuntutan itu. Perangnya di sini, pak sedangkan media mainstream sekarang cuman sebagai jembatan ajah.

Mulailah dari hal-hal kecil yang mencuri perhatian masyarakat, seperti misalnya HT menyumbangkan 90 persen sahamnya untuk sosial seperti Om Mark Z. Wah, rame itu pak, tapi bapak jadi miskin wkwkwkw. Atau HT sedang berburu dengan Mr. Putin dan tampak foto bapak dan om Putin sama-sama telanjang dada di hutan sedang bergelut riang dengan seekor beruang besar. Eh, beranikah, pak?

Tindakan kontroversial berguna untuk menyentak perhatian, pak. Dan ini tidak mudah, butuh keberanian lebih untuk keluar dari cangkang. Masak bapak hanya mau jadi Presiden di media-media bapak saja, tidak kan pak?

Sudah malam, saya akhiri saja pak. Maaf, ini cuman intermezzo jangan dianggap guyonan. Tapi sungguh, saya tertarik setiap melihat suggested post bapak lewat di beranda saya dan membaca kesibukan bapak melalui running teks di media televisi jaringan bapak.

Saya hanya ingin memberikan sedikit motivasi untuk bapak bahwa kunci kemenangan di dalam kampanye itu adalah win. Win itu menang pak. Gak percaya? Coba buka kamus…. (ARN)

About ArrahmahNews (12484 Articles)

Media Pencerahan Rakyat

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: