News Ticker

Denny Siregar: TEGAS.. Menlu Retno dan Indonesia Tolak Gabung Aliansi Arab Spring Kedua

16 Desember 2015,

JAKARTA, SUARA RAKYAT, ARRAHMAHNEWS.COM – Tiba-tiba saja Arab Saudi mengumumkan bahwa mereka sudah membentuk Aliansi Militer Negara-negara Islam untuk memberantas ekstrimisme dan terorisme, dan salah satu negara yang terlibat adalah negara kita, Indonesia. (Baca juga: BNPT: Tujuan Radikalisme-Terorisme Ingin Ganti Pancasila dan Dirikan Khilafah)

Tentu saja klaim sepihak ini membuat marah Menlu Retno Marsudi.

Aliansi Saudi Pro TerorismeMemang sudah ada pertemuan kedua Menlu, tetapi bagusnya bu Retno ia tidak mau terjebak dalam permainan global Saudi. Ketika Menlu Saudi mengajak Indonesia untuk gabung dalam aliansi ini, bu Retno meminta Term of Reference atau kerangka acuan dan modalitas dalam aliansi itu.

Kerangka pembentukan dan modalitas aliansi itu sangat penting bagi Indonesia. Selama ini kita tahu bahwa konsep “ekstremisme” dan “terorisme” ala Saudi sangat jauh berbeda dengan pandangan akal sehat. Siapapun yg tidak setuju dengan kelompok Saudi, maka mereka akan di cap ektrimisme dan terorisme, dan Saudi berada dibelakang itu semua. Kita lihat apa yang terjadi pada Libya, Suriah dan Yaman. (Baca juga: Lavrov ; Rusia Cegah Skenario Libya di Suriah

)

Ketika Indonesia terjebak masuk dalam aliansi tersebut, maka Indonesia harus mencatatkan dirinya sebagai negara yang terlibat dalam kekerasan atas nama agama. Dan itu sangat berbahaya bagi negara kita.

Pembentukan Aliansi militer Negara-negara Islam ini mirip dengan situasi Arab Springs atau kebangkitan negara arab yang dimulai tahun 2010 lalu. Bergolaknya Negara-negara di Timur Tengah dan jatuhnya banyak pemimpin negara adalah bagian dari strategi global untuk menjadikan timteng menjadi satu wilayah dengan konsep khilafah.

Konsep khilafah itu sebenarnya topeng untuk menguasai sebuah negara dan tujuan utamanya jelas yaitu penguasaan terhadap sumber daya alam di negara yang dikuasai. Dan dibalik itu semua ada perusahaan-perusahaan asing yang sahamnya dimiliki oleh beberapa negara diantaranya Saudi, Qatar, AS, Inggris dan -tentu saja- Israel. (Baca juga: Netanyahu Ajak Negara Arab Hentikan Perlawanan Terhadap Israel)

Itulah kenapa bu Retno meminta skema modalnya darimana untuk pembentukan Aliansi itu dan bagaimana cara kerjanya.

Keberatan Indonesia yang disampaikan bu Retno, menunjukkan semakin jelas ke arah mana posisi negara kita. Jelas Indonesia tidak akan masuk dalam aliansi negara yang menjadi motor dari gerakan ekstrimisme dan terorisme global yang sudah melahirkan monster-monster seperti Al-Qaeda, Boko Haram dan ISIS. Indonesia akan banyak berkoalisi dengan negara penentang mereka seperti Rusia, Suriah dan Iran. (Baca juga: Jejak Pengabdian Saudi Kepada Barat dan Zionis)

Saya pernah mengulas bahwa pilpres 2014 lalu sebenarnya adalah pertarungan yang menentukan ke arah mana pandangan politik luar negeri

Indonesia. Dan baguslah, bukan kubu sebelah yang menang karena kita bisa akan terseret konflik global dengan berpihak pada aliansi yang salah.

Bagus bu Retno, tolak saja mereka. Mereka itu topeng dengan nama agama. Indonesia adalah negara besar dan kita besar dengan cara yang benar, bukan dengan cara yang salah. (ARN)

About ArrahmahNews (12485 Articles)

Media Pencerahan Rakyat

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: