News Ticker

Zarif; Arab Saudi Harus Hentikan Ketegangan di Timur Tengah

6 Januari 2016

TEHRAN, ARRAHMAHNEWS.COM – Menteri Luar Negeri Iran Mohammad Javad Zarif mengatakan pemerintah Arab Saudi harus menghentikan tindakan yang hanya akan menyulut ketegangan regional di Timur Tengah.

Berbicara dalam konferensi pers dengan timpalannya dari Irak, Ibrahim al-Jaafari, di Teheran, Rabu (6/01/16), Zarif mengatakan rezim Saudi selama 2,5 tahun terakhir selalu menentang langkah-langkah yang diambil oleh Iran dalam berkontribusi pada pemulihan perdamaian dan kesatuan di kawasan.

Menteri luar negeri Iran memperingatkan para pejabat Arab Saudi bahwa setiap tindakan yang akan menyebabkan eskalasi ketegangan dan menciptakan krisis di kawasan tidak akan menguntungkan pelakunya.

“Kami mengundang semua pihak untuk bersatu dalam menghadapi ekstremisme, terorisme, sektarianisme, dan tribalisme,” Zarif mencatat, dan menambahkan bahwa langkah yang diambil untuk mengintensifkan faktor tersebut akan menjadi bumerang pada mereka yang mengambil langkah tersebut.

Zarif menyatakan bahwa Riyadh bekerja sejalan dengan kebijakan rezim Israel dalam merusak negosiasi antara Iran dan enam kekuatan dunia atas program nuklir Teheran, dan menambahkan bahwa penguasa Saudi bahkan memangkas harga minyak untuk menghancurkan perekonomian Teheran. (Baca juga: Saudi Bangkrut, Harga BBM Dinaikkan 50 Persen)

Iran telah menunjukkan toleransi terhadap tindakan Saudi karena percaya konflik di kawasan tidak akan melayani kepentingan pihak manapun, kata menteri luar negeri Iran.

Zarif juga menekankan bahwa tindakan yang bertujuan mengobarkan ketegangan di Timur Tengah tidak menunjukkan kekuatan mereka, justru murni mempertontonkan “kelemahan” mereka.

Di tempat lain dalam sambutannya saat konferensi pers, Zarif menjelaskan tentang kondisi daerah khusus berikut eksekusi terbaru dari ulama Syiah senior yang Saudi, Sheikh Baqir al-Nimr, menambahkan bahwa ia telah membahas masalah ini dengan rekan Irak nya.

Dia mencatat bahwa ukuran Arab Saudi melakukan eksekusi terhadap ulama itu tidak berarti dibenarkan karena ia adalah “seseorang yang mendedikasikan seluruh hidupnya untuk mengajak orang lain untuk memluk Islam melalui cara-cara damai, dialog, dan interaksi” dan mengambil keuntungan dari semua kapasitas sipil untuk menentang jalan untuk pasukan militer, terorisme dan ekstremisme. (ARN/AU)

About ArrahmahNews (12505 Articles)

Media Pencerahan Rakyat

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: