News Ticker

Misteri Eksekusi Sheikh Nimr Oleh Rezim Diktator Saudi

08 Januari 2016,

WASHINGTON, ARRAHMAHNEWS.COM – Inilah Artikel yang ditulis oleh *Shireen T. Hunter seorang proffessor peneliti di Georgetown University’s School of Foreign Service.

Professor Shireen T. Hunter

Arab Saudi pada akhirnya mengeksekusi seorang ulama ternama, Sheikh Nimr Baqir al-Nimr, meskipun banyak pemimpin agama baik dari muslim dan lainnya bahkan PBB serta sejumlah pemimpin politik telah mendesak (setidaknya secara pribadi) Arab Saudi untuk membatalkan hukuman mati tersebut.

Dilihat dari sudut pandang logika, eksekusi ini bukan termasuk dalam kepentingan jangka pendek dan jangka panjang Arab Saudi. Namun eksekusi dapat dipahami sebagai strategi (Saudi) untuk memprovokasi Iran agar nantinya (tanggapan Iran) bisa jadi pembenaran bagi Saudi untuk secara militer melakukan penyerangan ke negara tersebut. (Baca juga: Allah Bangunkan Haramain, Saudi Bangun Gedung Pencakar Langit

)

Jelas, Arab Saudi tidak yakin bahwa kerajaan itu bisa memenangkan perang terhadap Iran, setidaknya tidak mudah dan tentu saja tidak bisa sendirian. Tapi Arab Saudi mungkin bisa mengandalkan sejumlah negara Arab dan non-Arab untuk bergabung dalam usaha (menyerang Iran) ini. Beberapa negara-negara Arab, terutama Uni Emirat Arab, tentu saja akan sangat senang untuk melakukannya. Lainnya, seperti Qatar dan Kuwait bisa diintimidasi atau disuap agar mau berpartisipasi.

Sedang Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan, akan sangat tergoda untuk ikut melompat naik kereta musik itu. Bagaimanpun juga, Erdogan melihat Iran sebagai pewaris kekaisaran Shafawi, yang menjadi hambatan nyata untuk mencapai mimpinya menciptakan lagi Kekaisaran Ottoman. Dieksekuniya Sheikh Nimr tak lama setelah pertemuan Erdogan dengan Raja Salman adalah sangat terkait dalam hal ini. Pakistan mungkin saja ikut bergabung, ini terkait komitmennya untuk membela Britania terhadap ancaman eksternal. (Baca juga: Raja Salman Undang Presiden Turki ‘Erdogan’ Pasca Kematian Pembesar ISIS di Suriah)

Blcak and White Daesh

Namun, upaya Arab Saudi untuk memprovokasi Iran agar terpancing reaksi kekerasan dan dengan demikian benar-benar memulai perang dalam harapan bahwa tindakan kekerasan Iran ini akan menciptakan keributan di lingkaran politik Washington, terutama di Kongres, adalah agar nantinya Amerika Serikat terpaksa (punya alasan-red) untuk campur tangan dalam konflik dengan cara turut menyerang Iran. Dengan intervensi AS terhadap Iran, Saudi berharap, akan berhasil menyingkirkan Iran sekaligus semua masalah kerajaan itu terhadap Iran.

Tapi ini hanya spekulasi (Saudi) belaka. Arab Saudi selama beberapa waktu telah mencoba untuk memprovokasi Iran. Pertama pada intervensi militer Saudi di Bahrain, kemudian pada upaya Saudi untuk menggulingkan rezim Assad lantas diikuti oleh pemboman Kedutaan Besar Iran di Beirut pada tahun 2013, dimana hal itu menewaskan sejumlah warga Lebanon serta atase kebudayaan Iran. (Baca juga: Sektarian, Propaganda Wahabi Saudi dan AS yang Dimainkan di Suriah)

Baru-baru ini, selama upacara haji, pemerintah Saudi melecehkan dua pemuda Iran dan menewaskan sejumlah besar peziarah Iran. Pemerintah Saudi, kemudian, sengaja menciptakan banyak kesulitan bagi para pejabat Iran yang berusaha untuk menemukan, mengidentifikasi, dan mengembalikan jasad para korban ke Iran. Provokasi lain, tentu saja, perang skala penuh yang dilancarkan Arab Saudi ke Yaman terhadap apa yang diklaim kerajaan itu sebagai pemberontak dukungan Iran. (Baca juga: Dokumen Rahasia “Saudi Ciptakan Kerusuhan Iran Di Tahun 2009”)

Provokasi lain yang masih hangat, terjadi bulan lalu ketika pihak berwenang Nigeria menangkap pemimpin Syiah di negara itu, Sheikh Ibrahim Zakzaki. Tentara Nigeria juga menewaskan hampir seribu orang-orang Syiah untuk sebuah alasan palsu dan mengada-ada. (Baca juga: Catherine Sakdham: Ada Tangan Wahabi Saudi di Balik Pembantaian Muslim Nigeria)

Menyusul penangkapan Sheikh Zakzaki ini, Raja Salman Saudi dilaporkan telah mengucapkan selamat kepada presiden Nigeria atas”penanganan efektif” terhadap terorisme (definisi raja ini terhadap terorisme tampaknya meluas hingga meliputi ketaatan dalam menjalankan ritual keagamaan secara damai). (Baca juga: Saksi Mata Ungkap Peran Kedutaan Saudi Dalam Pembantaian Muslim di Nigeria)

Sementara itu, penindasan terhadap orang-orang Syiah di negara-negara lain, terutama Azerbaijan, terus dilakukan sebagaimana pembunuhan tanpa pandang bulu yang dilakukan terhadap mereka oleh kelompok-kelompok militan yang dipengaruhi Saudi di Pakistan dan Afghanistan, hal ini bisa dilihat dalam pemenggalan seorang gadis Hazara berusia 9 tahun, pada bulan November lalu, di Afghanistan.

Iran tidak akan mungkin mau meladeni provokasi terbaru Arab Saudi ini, sebagaimana negara itu menolak provokasi yang semacam itu sebelumnya. Misalnya, Iran tidak membalas intervensi militer Saudi dengan mengirimkan pasukan ke Bahrain untuk membela tidak hanya orang Syiah Bahrain tetapi juga keturunan Iran di Bahrain. Negara itu juga tidak secara langsung ikut campur di Yaman, dan keterlibatannya di Suriah tetap terbatas. Negara tersebut tidak bereaksi berlebihan terhadap pengeboman kedutaan besarnya di Beirut atau terhadap penganiayaan warga dan jamaah negaranya selama haji kemarin. Namun bagaimanapun juga, selalu ada risiko bahwa emosi rakyat bisa terpicu dan bahwa kelompok garis keras Iran, untuk tujuan pribadi mereka sendiri, bisa (menunggangi hal itu) dan menekan pemerintah untuk merespon lebih kuat.

Dalam keadaan ini, sangat penting untuk tidak meremehkan risiko konflik yang bisa berakhir dengan melibatkan Amerika Serikat dalam perang Timur Tengah lain yang tidak diinginkan. Arab Saudi saat ini sangat mirip binatang liar yang terluka dan marah, karena banyak rencananya untuk menggapai hegemoni regional menjadi kacau balau, belum lagi hal itu telah membebani kerajaan dengan beban finansial yang besar. (Baca juga: Rizal Assad: Saudi Bentuk Aliansi “Pro” Terorisme dan Ekstrimisme)

Dan yang paling penting, mereka masih mendidih dengan kemarahan atas berhasilnya perjanjian nuklir antara Iran dan P5 +1. Tak mau (instrospeksi) dengan melihat bagaimana tidak masuk akalnya ambisi mereka selama ini dan percaya bahwa mereka dapat menyuap atau mengintimidasi semua pihak untuk melakukan keinginannya, Saudi menyalahkan Iran atas kandasnya ambisi kerajaan.

Barat dalam hal ini telah sangat membantu untuk memelihara delusi (khayalan) Saudi itu dengan mengabaikan pelanggaran mengerikan terhadap hak Syiah di negara itu dan di tempat lain serta dengan berlebihan mengutuk Iran. Namun pada saat yang sensitif ini, sangat penting bagi kekuatan Barat untuk tidak ikut campur pada permainan terlalu jelas Arab Saudi ini.

Memanasnya konflik sektarian di Timur Tengah tidak hanya akan merugikan Iran. Ini akan menyebar ke Kaukasus dan Asia Selatan. Dengan Iran diserang, semua Syiah akan merasa berisiko menjadi korban genosida habis-habisan. Terakhir, perang Timur Tengah baru terhadap Iran akan hampir pasti melibatkan Cina-Rusia dan dengan demikian akan berpotensi memerlukan risiko konflik kekuatan besar. Rusia dan Cina tidak akan mungkin tetap pasif seperti yang mereka lakukan pada tahun 2001 dan 2003. (Baca juga: Perancis: Eksekusi Sheikh Nimr Picu Ketegangan Sektarian di Timur Tengah)

Dalam keadaan ini, kekuatan-kekuatan besar, terutama negara-negara Barat, harus menahan Saudi serta mencegah sekutu Timur Tengah dan Asia Selatan mereka agar tak ikut terseret ke dalam dendam Saudi terhadap Iran. Yang paling penting, mereka semua akhirnya harus bertanya pada diri sendiri apakah Arab Saudi benar-benar berharga (bagi barat) setelah semua sakit kepala yang disebabkannya?. (ARN)

* Shireen T. Hunter adalah seorang proffessor peneliti di Georgetown University’s School of Foreign Service. Ia juga seorang cendekiawan terkemuka CSIS dimana ia memimpin Program Islam mulai dari tahun 1998-2005. Ia telah menulis 7 buku dan 3 monograf serta merupakan editor dan kontributor dari ketujuh buku serta ketiga monografnya. Ia juga berkontribusi sebagai editor untuk 35 buku dan menulis 40 artikel jurnal.
About ArrahmahNews (12471 Articles)

Media Pencerahan Rakyat

1 Comment on Misteri Eksekusi Sheikh Nimr Oleh Rezim Diktator Saudi

  1. artikel nomor wahid kebenarannya…!!!! pencerahan sangat bijaksana….

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: