News Ticker

Habib Lutfi Yahya: Konsensus Bela Negara Perwujudan Islam Rahmatan Lil Alamin

19 januari 2016,

JAKARTA, SUARA RAKYAT, ARRAHMAHNEWS.COM – Bela Negara adalah sikap dan perilaku warga negara yang dijiwai oleh kecintaannya kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 dalam menjalin kelangsungan hidup bangsa dan negara yang seutuhnya.

Tiap-tiap warga negara berhak dan wajib ikut serta dalam usaha pembelaan negara dan Syarat-syarat tentang pembelaan diatur dengan undang-undang. (Baca juga: Habib Lutfi: Bela Negara Jurus Ampuh Lawan Paham Radikal)

Kesadaran bela negara itu hakikatnya kesediaan berbakti pada negara dan kesediaan berkorban membela negara. Spektrum bela negara itu sangat luas, dari yang paling halus, hingga yang paling keras. Mulai dari hubungan baik sesama warga negara sampai bersama-sama menangkal ancaman nyata musuh bersenjata. Tercakup di dalamnya adalah bersikap dan berbuat yang terbaik bagi bangsa dan negara. Unsur Dasar Bela Negara: Cinta Tanah Air, Kesadaran Berbangsa & bernegara, yakin akan Pancasila sebagai ideologi Negara, Rela berkorban untuk bangsa & Negara, memiliki kemampuan awal bela Negara. Contoh-Contoh Bela Negara: melestarikan budaya, belajar dengan rajin bagi para pelajar, taat akan hukum dan aturan-aturan Negara, mencintai produk-produk dalam negeri. (Baca juga: Habib Lutfi; NKRI Harga Mati)

Konferensi Ulama Thariqah (15/1/2016) memberikan pesan bela negara kepada seluruh umat manusia. Selain itu pula, konferensi ini mengajak masyarakat dari berbagai elemen untuk menjaga perdamaian di seluruh dunia. Hasil konferensi menjadi rujukan bagi ulama, pemerintah dan masyarakat umum untuk terus bersemangat bela Negara. Salah satu pesan Maulana Habib Luthfi bin Yahya bahwa, “hasil Konferensi ini diharapkan menjadi sebuah fatwa pilar bangsa yang akan bermanfaat kepada semesta alam bukan hanya untuk Indonesia saja”. Sembilan Konsensus Bela Negara hasil Konferensi Internasional Ulama Thariqah Bela Negara 2016 (Baca juga: Menhan: Nyatakan Perang Dengan Gerakan Pelemahan Pancasila):

  1. Negara adalah tempat tinggal di mana agama diimplementasikan dalam kehidupan.
  2. Bernegara merupakan kebutuhan primer dan tanpanya kemaslahatan tidak terwujud.
  3. Bela negara adalah di mana setiap warga merasa memiliki dan cinta terhadap negara sehingga berusaha untuk mempertahankan dan memajukanya.
  4. Bela negara merupakan suatu kewajiban seluruh elemen bangsa sebagaimana dijelaskan Al-Quran dan Hadis.
  5. Bela negara dimulai dari membentuk kesadaran diri yang bersifat ruhani dengam bimbingan para ulama.
  6. Bela negara tidak terbatas melindungi negara dari musuh atau sekedar tugas kemiliteran, melainkan usaha ketahanan dan kemajuan dalam semua aspek kehidupan seperti ekonomi, pendidikan, politik, pertanian, sosial budaya dan teknologi informasi.
  7. Bela negara menolak adanya terorisme,radikalisme dan ekstrimisme yang mengataasnamakan agama.
  8. Untuk mewujudkan bela negara dibutuhkan empat pilar, yaitu ilmuwan, pemerintahan yang kuat, ekonomi dan media.
  9. Menjadi Indonesia sebagai inisiator bela negara yang merupakan perwujudan dari islam rahmatan lil alamin.

Seorang habib Keturunan Nabi (Habib Lutfi bin Yahya) saja mengajarkan kita anak bangsa agar selalu mempertahankan NKRI dan siap membela negara.. Sementara saat ini ada orang orang ASLI MELAYU bergaya bak bangsa Arab mengenakan Surban, jidat legam, jenggot panjang, celana cingkrang (mungkin supaya kelihatan alim), tapi sayangnya BUKAN alim di Akhlak dan kelakuan..

Kelompok ini isinya orang orang ASLI INDONESIA tidak ada darah Arab, apalagi turunan Nabi, memperjuangkan gerakan ARABISASI berkedok Islam yang bertujuan untuk mendirikan KHILAFAH dengan sebelumnya akan binasakan Pancasila, tidak mau mengakui KHILAFAH SAH Republik ini, yakni Pemerintah RI.

Tak hanya itu, kelompok SOK BERLAGAK ARAB (bahkan lebih arab dari pada orang Arab, alias KEBLINGER), juga mengkafir-kafirkan siapa saja yang berbeda pendapat dengan mereka, menghalalkan darah siapa saja yang bersebrangan dengan mereka, bahkan menebar kebencian dan menghasut permusuhan SARA antar agama antar aliran secara sistematis, terstruktur & masif.

Ketika HABIB TURUNAN NABI berjuang demi tegaknya NKRI & Pancasila, dan wasiat Nasionalismenya masih bisa diteladani oleh generasi ratusan tahun ke depan, sementara bocah bocah ingusan tengik berdarah asli melayu MABOK KULTUR ARAB mau menghancurkan warisan Islam Nusantara?

12523110_10153240816400766_3690754697094447732_n

12523156_10153240816690766_5908737472049646705_n 12400978_10153240816790766_6300004782397541832_n

Ditandatangani oleh:

  1. Habib Muhamnad Lutfi bin Yahya. (Indonesia)
  2. Dr. Syekh Muhammad Adnan al-Afiyuni.(Suriah)
  3. Dr. Syekh Aziz al-Idrisi. (Maroko)
  4. Prof. Dr. Syekh Muhammad Fadhil al-Jailani. (Turki)
  5. Habib Zaid bin Abdurrahman bin Yahya. (Yaman)
  6. Dr. Syaikh Aziz Abidin. (USA)
  7. Syekh ‘Aun Mu’in al-Quddumi. (Yordania)

Ditetapkan di Pekalongan, 16 Januari 2016. (ARN)

About ArrahmahNews (12484 Articles)

Media Pencerahan Rakyat

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: